Kajian Remaja Bahas Fenomena Insecure di Era Media Sosial
Fenomena rasa tidak percaya diri (insecure) yang banyak dialami remaja di era media sosial menjadi pembahasan Youth Educator kak Farabela Safitri, SE sebagai pemateri Komunitas Bidadari Surga dalam “Kajian Remaja Bahas Fenomena Insecure di Era Media Sosial” kajian remaja Muslimah bertema Ramadhan Core: From Insecure to Bersyukur di Masjid Insani 99 Meruyung, Kota Depok Ahad, 1/3/2026.
Dalam pemaparannya, Farabela menjelaskan Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam karena menjadi waktu diwajibkannya puasa sekaligus bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Ia merujuk pada surah al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk serta pembeda antara yang hak dan yang batil.
Ia juga menyoroti fenomena rasa tidak percaya diri (insecure) yang banyak dialami remaja di era media sosial. Menurutnya, penggunaan media sosial yang tinggi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.
“Rata-rata remaja menghabiskan waktu sekitar tiga sampai lima jam sehari di media sosial. Kondisi ini membuat mereka sering melihat penampilan, pencapaian, atau gaya hidup orang lain lalu membandingkannya dengan diri sendiri,” kata Farabela dalam kajian tersebut.
Ia juga menyebut sebagian orang menjadikan Ramadhan sekadar sebagai konten media sosial tanpa pemaknaan ibadah yang mendalam. Selain itu, fenomena standar kecantikan yang viral di media sosial, rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO), serta kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan tampilan kehidupan orang lain di media sosial turut memicu rasa insecure.
“Kondisi tersebut sering diperparah oleh kebiasaan berpikir berlebihan (overthinking), munculnya keraguan terhadap diri sendiri (self-doubt), serta kecenderungan mengukur nilai diri berdasarkan standar manusia yang tidak selalu realistis,” sebutnya. Ia menambahkan bahwa faktor utama yang mendasari rasa insecure adalah kurangnya kedekatan dengan Allah serta belum mengenali potensi diri secara baik.
“Di hadapan Allah yang membedakan manusia adalah ketakwaannya, bukan fisik atau popularitas,” tambahnya. Ia juga menjelaskan manusia diciptakan Allah dalam bentuk terbaik (ahsanu taqwim), sehingga setiap individu memiliki keunikan dan potensi masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, Farabela menyampaikan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa insecure. Di antaranya membatasi penggunaan media sosial yang memicu rasa minder, menghentikan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, serta membangun lingkungan pertemanan yang saling mendukung dan menguatkan iman.
Selain itu, ia juga mengingatkan momentum Ramadhan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah seperti puasa, tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, dan sedekah sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan.
“Jadikan Ramadhan bukan sekadar soal foto estetik, tetapi tentang hati yang lebih tenang karena sudah berdamai dengan diri sendiri dan bersyukur kepada Allah,” tutupnya. []Putri Apriliani

Posting Komentar