-->

Tragedi Anak Bunuh Diri, Krisis Mental yang Terabaikan


Oleh : Dinda Kusuma W T

Konon, anak-anak adalah penyejuk hati karena keluguan dan kepolosannya. Mereka seringkali memandang dunia ini penuh optimisme tanpa prasangka buruk sedikitpun. Karena itulah sering kita dapati anak-anak masih mampu tersenyum dan tertawa dalam keadaan sesulit apapun. Namun sebuah kasus bunuh diri anak yang terjadi baru-baru ini telah menampar hati seluruh masyarakat Indonesia.

Kematian YBS (10), yang diduga akibat bunuh diri, adalah tragedi kemanusiaan. Siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, itu putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang. Surat perpisahan yang ditulisnya kemudian menyebar yang menyebabkan masyarakat menyayangkan kejadian tersebut (kompas.id, 03/02/2026).

Kesadaran dari berbagai sudut pandang pun bermunculan. Ada yang sadar bahwa kemiskinan di negeri yang katanya kaya ini masih masif dan sangat memperihatinkan. Ada yang sadar bahwa jaminan pendidikan telah diabaikan hingga dititik nadir. Ada pula yang sadar bahwa zaman telah meluluh lantahkan mental generasi bangsa, bahkan sejak mereka masih usia anak-anak.

Satu persoalan yang paling mendasar adalah bahwa negeri ini gagal membentuk karakter anak bangsa yang tangguh, padahal itulah modal utama kemajuan dan pembangunan bangsa. Artinya, negara ini telah gagal sebelum berjuang. Sebab pondasi utama tidak mampu dibangun dengan baik. 

Perlu dicermati apa saja yang menyebabkan seorang bocah yang harusnya isi pikirannya hanya bermain dan belajar, justru terpikirkan dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Pada dasarnya, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang. Cara berpikir mereka juga masih konkret antara hitam dan putih. Bisa jadi, saat merasa tertekan, anak dengan mudah memiliki kesimpulan yang ekstrem bahwa jika mereka tidak ada, masalah pun akan selesai.

Namun yang perlu menjadi sorotan adalah kondisi lingkungan yang tidak ideal bagi anak hingga ia merasakan tekanan yang luar biasa. Lingkungan yang dimaksud adalah rumah, sekolah, dan lingkungan bermain di tengan masyarakat. Lingkungan ini harusnya menjadi tempat menempa karakter tangguh bukan malah meruntuhkan. 

Sulitnya pendidikan diraih oleh masyarakat miskin memang adalah sebuah PR besar yang sampai saat ini tidak mendapat perhatian. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan hidup setiap orang pastilah tidak akan ada habisnya. Bisa jadi, hari ini ia lolos dari ujian tidak bisa membeli buku, namun dihari lain ia pasti akan menghadapi kesulitan dan tantangan hidup yang lain. Yang mutlak memerlukan kekuatan mental atau keteguhan hati. 

Maka sekali lagi, krisis mental ini harus mendapat perhatian besar saat ini juga. Tidak bisa ditunda lagi. Mulai dari lingkungan rumah, orang tua harus menciptakan kondisi ideal bagi anaknya yaitu perhatian dan kasih sayang. Betapa banyak hari ini orang tua mengabaikan anaknya karena disibukkan bekerja demi kebutuhan sehari-hari. Persoalan rumah tangga yang belum mampu dicerna oleh anak-anak pun seringkali disuguhkan di depan mereka melalui obrolan atau pertengkaran orang tuanya sehingga membuat anak merasa deperesi dan menjadi beban. Banyak sekali hak anak yang saat ini mulai diabaikan oleh para orang tua.

Lingkungan sekolah pun demikian. Kurikulumnya harus bisa membentuk anak berjiwa pemimpin, bukan berjiwa lemah dan mudah menyerah. Sekolah harusnya peka terhadap persoalan yang menimpa anak. Baik persoalan mental, maupun persoalan ekonomi anak yang berpengaruh terhadap kegiatan belajarnya. Sekolah adalah tempat para guru atau akademisi yang cara pandangnya lebih bijaksana harusnya mampu membaca masalah anak dan mencari solusinya.

Masyarakat, yang mewakili negara didalamnya, seperti pengurus RT/RW setempat harusnya mampu mengayomi warganya yang kekurangan. Sungguh rusaknya mental anak sejak dini ini bisa dikatakan sebuah kerusakan yang sistematis dan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Kasus anak NTT ini hanya salah satu alarm akan meledaknya bom waktu kerusakan generasi.  

Kondisi miris ini harusnya membuka mata kita tentang kondisi generasi bangsa. Bobroknya mental anak muda tentu tidak lepas dari sistem kehidupan yang ada saat ini. Mengakarnya sekulerisme, yaitu pemisahan nilai agama dari kehidupan, nyatanya tidak memberi sumbangsih apapun terhadap kemajuan zaman. Malah menghantarkan manusia pada kehancuran dan kebinasaan.

Sistem pendidikan pun telah gagal mencetak manusia tangguh. Kendati kurikulum digonta-ganti berkali-kali, ternyata tidak mampu mensolusi persoalan generasi. Sistem sekularisme terbukti secara mutlak telah gagal memberi solusi, kedamaian, dan kenyamanan bagi seluruh umat manusia.

Saatnya ideologi sekulerisme dan kapitalisme diganti dengan ideologi islam. Islam telah memahami persoalan manusia secara komprehensif. Islam memandang bahwa tujuan hidup manusia semata-mata adalah meraih ridha Allah. Kehidupan dunia adalah jembatan menuju kehidupan akhirat yang disana manusia diperintahkan mencari bekal kebaikan. Maka tidak sedetikpun waktu yang sia-sia bagi setiap manusia hidup di dunia ini. Tidak ada kata stress atau depresi. Dan pemahaman ini ditancapkan sedini mungkin. Islam adalah solusi tepat bagi penyakit mental yang mampu membimbing manusia menuju kebahagiaan hakiki. Wallahu a'lam bisshawab.