-->

Board of Peace, Proyek Kehancuran Gaza


Oleh : Bahiroh

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS), membentuk Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP) untuk menjalankan proyek pembangunan New Gaza. Proyek tersebut tidak dijalankannya sendiri, beberapa negara tidak hanya bergabung dalam BoP tetapi mereka juga turut andil dalam proyek pembangunan New Gaza. Bahkan hal yang lebih menakjubkan adalah Israel yang merupakan pihak penjajah Palestina turut bergabung kedalam proyek tersebut, sedangkan Palestina tidak masuk ke dalam anggota BoP. Dunia bereaksi, masyarakat global menentang keras proyek Trump untuk Gaza. Bagaimana bisa proyek pembangunan New Gaza yang merupakan wilayah Palestina justru tidak melibatkan Palestina. Hal ini mengindikasikan bahwa proyek ini bukanlah untuk kepentingan Palestina, melainkan proyek yang menguntungkan bagi para pembentuknya.
Dikutip dari bbc.com (22/01/2026) pada 22 Januari 2026, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan peresmian pembentukan Board of Peace dalam acara World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. (Kompas.tv; 28/01/2026) dalam acara penandatangan piagam BoP, Donald Trump didampingi oleh Prabowo Subianto selaku Presiden Indonesia, dan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban. Dan terdapat 20 lebih negara yang turut serta dan menyatakan bergabung dengan BoP. Bukan hanya negara-negara barat, tapi negara-negara muslim juga turut bergabung dalam BoP, seperti Maroko, Arab Saudi, Pakistan, Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA) dan bahkan Indonesia. Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai negara non blok justru ikut bergabung ke dalam BoP. Keanggotaan tersebut tidak gratis, untuk menjadi Anggota dari BoP yang di inisiasi oleh Donald Trump, setiap negara harus membayarkan uang sejumlah US$ 1 miliar (Rp 16,9 Triliun bila dirupiahkan), angka yang sangat fantastis.

Board of Peace dibentuk dengan tujuan untuk menjamin perdamaian Palestina dan pembangunan kembali beberapa wilayah di Palestina yang terdampak serangan Israel untuk kemudian dibangun menjadi kota yang modern. Namun, nampaknya tidak demikian. Bila dilihat dari struktur BoP yang di sampaikan oleh Donald Trump, hampir seluruhnya diisi oleh para pihak yang pro-israel dan menentang keras kemerdekaan Palestina. (aljazeera.com; 18/01/2026) Seperti Marco Rubio (Menteri Luar Negeri AS yang paling pro-Israel), Steve Witkoff (Utusan Khusus AS yang menghianati kesepakatan dengan Hamas), Jared Kushner (penggerak utama Perjanjian Abraham antara negara-negara Arab dengan Israel), Marc Rowan (Pengusaha besar AS yang mendanai kelompok advokasi pro-Israel dan komunitas Israel-Amerika), Ajay Banga (Presiden Bank Dunia yang menjabat atas usulan Trump), Tony Blair (mantan Perdana Menteri Inggris yang pro-Israel dan mendukung penuh AS), Robert Gabriel Jr (wakil penasihat keamanan nasiolal di bawah pemerintahan Trump), Bahkan diposisi puncak terdapat Donald Trump (Presiden AS) merupakan ketua dari BoP yang dibentuknya dan memiliki hak veto layaknya peran AS di PBB. Hal sama terus berulang, AS dapat menggunakan hak vetonya untuk terus mendukung Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, tanpa mempedulikan pendapat dari perwakilan negara-negara lain.

Ironisnya, negara-negara Islam justru ikut bergabung kedalam BoP. Benarkah hadirnya negara-negara arab termasuk Indonesia bisa menjadi suara bagi Palestina?, benarkah mereka bisa mendukung perdamaian, stabilitas dan kemakmuran bagi rakyat Palestina?, sedangkan apa yang terjadi selama sidang di PBB hingga puluhan kali benar-benar tidak bisa membantu Palestina untuk merdeka dan menjatuhkan sanksi bagi Israel.

Polanya sama, hak veto tertinggi ada di AS, Sahabat karib Israel, bahkan pemasok senjata bagi Israel untuk menyerang Palestina. Atau mungkinkah negara-negara yang turut menjadi anggota BoP tidaklah terfokus pada terwujudnya perdamaian, stabilitas dan kemakmuran Palestina, akan tetapi mereka tertarik berinvestasi pada proyek pembangunan New Gaza yang dibangga-banggakan oleh Donald Trump.

Padahal Allah sudah menegaskan dalam firman-Nya QS. Al Mumtahanan:1,“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.”

Saat ini, apa yang terjadi dalam BoP, Negara-negara Islam bukan hanya sedang menjadikan AS dan Israel sebagai teman mereka, tapi juga menjadikan AS dan Israel sebagai pemimpin mereka.

Proyek New Gaza merupakan bencana bagi rakyat Palestina, karena dibalik proyek tersebut terdapat ambisi AS untuk menguasai tanah Palestina dan menjadikan Palestina di bawah kendali penuh AS dan Israel. Sedangkan rakyat Palestina berpotensi mengalami pengusiran atau Ethnic Cleansing. sebagaimana usulan Donald Trump tempo hari untuk memindahkan warga Gaza ke negara-negara yang mau untuk menampung mereka.

Proyek ini bisa menjadi jalan pengusiran warga Gaza dan Rafah dari tanah mereka dengan alibi pengungsian selama masa proyek pembangungan. Sedangkan dunia bisa lupa bahwa genosida pernah terjadi di Palestina, karena tanah tersebut kelak akan menjadi kota modern dengan gedung-gedung mewah pencakar langit, wisata mewah, dan sumber daya lainnya. Inilah penghapusan jejak genosida melalui pembangunan New Gaza, sedangkan Israel tidak pernah mendapatkan sanksi, masih berdiri di tanah Palestina, dan tetap diakui sebagai sebuah negara yang berdaulat. Sedangkan Palestina dirampas hak kemerdekaannya dan dirampas pula tanahnya.

Bila negara-negara Islam bersungguh-sungguh dalam mendukung kemerdekaan Palestina, sebenarnya mereka dapat bergabung menjadi satu dan membentuk pemerintahan Islam secara global dengan menunjuk satu pemimpin atau khalifah. Khalifah akan menjalankan negara dengan sistem pemerintahan Islam yaitu menerapkan hukum-hukum syariat Allah, mulai dari ruang pribadi hingga tingkat pemerintahan. Khalifah dalam membuat aturan dan mengambil keputusan akan didasarkan pada Hukum Allah. Pengambilan keputusan dilakukan secara cepat dan tepat dengan memberikan solusi mendasar yang berfokus pada penyelesain konflik. Salah satunya yaitu pengambilan keputusannya untuk keadaan yang dialami Palestina saat ini, terjajah dan di genosida. khalifah akan langsung memberikan perintah bagi kaum muslim untuk jihad melawan Zionis Israel dan sekutunya.

Bersatunya umat muslim di seluruh dunia dengan satu komando akan mempermudah dalam pengkoordinasian pembentukan pasukan perang secara cepat dan sistematis. Sehingga Palestina dan kaum muslim lainnya yang sedang terjajah tidak akan berlarut-larut dalam merasakan penderitaan penjajahan. Maka untuk menolong Palestina, umat muslim harus mempunyai kesadaran penuh untuk bersatu melawan Zionis Israel dan Amerika. Kesadaran itu harus ditanamkan pada diri setiap muslim. Maka, diperlukan dakwah yang mengajak umat muslim lebih mengenali agamanya (Islam) dan ideologi Islam. Agar syariat Islam tidak hanya digunakan pada kegiatan ritual ibadah saja, akan tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga pada tahap menjalankan sistem Islam di pemerintahan.

Wallahu'alam bishowab.