-->

Ramadhan dan Kewajiban Kembali pada Petunjuk Al-Qur’an


Konselor Keluarga dan Pengasuh Rumah Qur’an As-Salam, Ustadzah Reni Raden Sugriwo, menyampaikan inti di Tarhib Ramadhan dalam Kajian Muslimah, “Ramadhan dan Kewajiban Kembali pada Petunjuk Al-Qur’an,” sebutnya di Masjid Al Qohar, dengan Tema Ramadhanku Rindu: Saatnya Menata Hidup dengan Al-Qur’an” di Bojongsari Depok, Ahad (15/02/2026). 

Dalam kajian tarhib tersebut, Reni mengulas keutamaan Ramadhan dan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

“Bahwa tarhib Ramadhan bukan sekadar tradisi seremonial seperti pawai obor, tetapi momentum untuk menyambut Ramadhan secara sadar dan berkualitas. Ramadhan disebut sebagai tamu agung yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya tegas.

Lalu ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa bagi orang beriman agar mencapai derajat takwa. “Puasa dimaknai sebagai menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari ucapan dan perbuatan buruk,” jelasnya. Menurutnya, seorang mukmin semestinya merespons perintah Allah dengan sikap sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat).

Reni memaparkan beberapa keutamaan Ramadhan. Pertama, Ramadhan sebagai penghulu bulan (sayyidu syuhur), bulan ketika pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu, serta di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. Kedua, Ramadhan sebagai bulan ampunan (syahru maghfirah), saat pahala amal dilipatgandakan. Ia mengutip hadis riwayat Muslim tentang keistimewaan pahala puasa yang langsung dibalas oleh Allah.

Ramadhan juga disebut sebagai bulan doa (syahru du’a). Ia mengajak jamaah memperbanyak doa karena doa menunjukkan ketergantungan manusia kepada Allah. Selain itu, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an (syahru Qur’an), sebagaimana disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Al-Qur’an dipaparkan sebagai petunjuk hidup (hudan linnas), pembeda antara yang benar dan salah (al-furqan), serta penjelasan yang terang (al-bayyinat).

Dijelaskan juga apa persiapan menyambut Ramadhan, ia menyebut tiga hal utama: yaitu memperbanyak amal saleh, menyiapkan bekal ilmu, dan memperbanyak taubat. “Amal saleh mencakup salat malam, salat sunnah, serta saling menasihati dalam kebaikan. Taubat dimaknai sebagai membersihkan diri dari kesalahan agar ibadah Ramadhan dijalani dengan tenang,” terangnya.

Reni pun menyoroti berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan, seperti konflik di Palestina, penderitaan Muslim di beberapa wilayah dunia, serta berbagai bencana di Indonesia. Menurutnya, kerusakan alam dan sosial tidak lepas dari ulah manusia dan pengabaian terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.

Ia mengutip beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan akibat berpalingnya dari peringatan Allah, di antaranya Surah Thaha ayat 124 tentang kehidupan yang sempit bagi orang yang mengabaikan petunjuk-Nya. Kondisi ekonomi dan sosial yang sulit dinilainya sebagai peringatan agar umat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman.

“Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dihafal, tetapi juga dipahami, ditadabburi, dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan. Al-Qur’an mengatur akidah, ibadah, serta hubungan sosial. Karena itu, umat Islam didorong untuk mengimani seluruh isi Al-Qur’an, membaca dengan tartil, menjaga hafalan, memahami maknanya, serta menjadikannya rujukan dalam kehidupan,” tuturnya

Sebagai penutup, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai titik awal untuk memperbarui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara lebih sungguh-sungguh.

“Maka dibulan Ramadhan ini jadikan ajang kita untuk memulai atau start kembali, membuktikan ketaatan kita kepada allah dan rasulnya dengan mengamalkan dan menerapkan Al Quran,” pungkasnya. []Istiqomah