New Gaza & Board of Peace, Strategi Geopolitik Keji Amerika & Israel
Oleh : Nining Ummu Hanif
Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) Gaza atau Dewan Perdamaian Gaza (DPG) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai perhatian publik. Meskipun beberapa negara Arab termasuk Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Turki, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Maroko telah setuju untuk bergabung,namun anehnya tidak ada representasi dari Palestina, sementara Israel bergabung dalam BoP. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ini tidak dirancang untuk mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi rakyat Palestina.
Selain itu sifat keanggotaan yang bersyarat karena harus menyetorkan sekitar Rp.16,8 triliyun untuk kursi permanen. Dana fantastis ini diklaim akan langsung dialokasikan untuk pembangunan kembali infrastruktur Gaza yang hancur. Dibalik retorika perdamaiannya, badan ini membawa struktur yang sangat transaksional untuk membeli pengaruh daripada kesadaran moral terhadap hukum internasional. Apalagi Donald Trump duduk di puncak sebagai ketua, memegang kekuasaan veto atas semua keputusan, memilih anggota, menunjuk kepemimpinan eksekutif, merumuskan agenda, mengontrol pendanaan, dan bahkan mengklaim semua kewenangan Dewan.
Pada saat seremoni penandatanganan “Dewan Perdamaiaian” , gagasan Trump untuk membangun Gaza Baru diwakili oleh menantunya ,Jared Kushner yang menyampaikan presentasi proyek New Gaza. Visi New Gaza adalah rekonstruksi berskala besar ,salah satunya adalah rencana pembangunan 180 gedung tinggi di kawasan pesisir Gaza. Menurut Kushner, pembangunan gedung- gedung bertingkat ini untuk membangun ekonomi baru seperti pariwisata, jasa, teknologi, dan investasi swasta.(mediaindonesia.com,23/1/26)
Ide Trump membangun Gaza Baru, sejalan dengan pernyataan kontroversial Menteri Israel Amichay Eliyahu,yang menyatakan bahwa pemerintah Israel tengah mendorong penghancuran total Gaza dan akan menjadikannya wilayah sepenuhnya Yahudi. “Pemerintah sedang berlomba agar Gaza dilenyapkan," ujar Eliyahu dalam wawancara radio dengan Kol Barama, dikutip oleh Media Israel.(metrotvnews.com,25/7/25)
Ambisi Geopolitik Amerika dan Israel
Gagasan Trump dengan membentuk Dewan Perdamaian Gaza/ Board of Piece dianggap sedang membangun 'PBB tandingan’, sebab menurut laporan Reuters dewan ini dirancang untuk diperluas guna menangani konflik lain di luar Gaza. BoP merupakan formula kongsi antara Amerika dan kuasa kolonial Israel untuk memperkuat kendali di Palestina. Keterlibatan Perdana Menteri Israel Netanyahu sebagai anggota BoP problematis, karena Israel dianggap bertanggung jawab atas kehancuran besar-besaran di Gaza,sementara Palestina tidak memperoleh ruang representasi walaupun menyebut New Gaza.
Presentasi New Gaza oleh Jared Kushner, juga hanya fokus bicara proyek pembangunan kota metropolitan modern di wilayah Gaza, dari Rafah hingga Gaza City untuk menghilangkan jejak- jejak genosida. Tanpa penjelasan sedikitpun bahwa itu semua diperuntukan bagi warga Palestina, di Gaza dan bukan untuk warga Israel.
Board of Piece sengaja merangkul negeri- negeri muslim untuk memperkuat posisi kendali politik internasional Amerika dan meningkatkan pengaruhnya. BoP Palestina sejatinya dibentuk Trump untuk memuluskan jalan menguasai tanah Gaza Palestina secara total. Cukup dengan memberikan komando pada kepala negara yang menjadi “centengnya” agar memuluskan rencana Amerika di Gaza. Kepesertaan pemimpin- pemimpin negeri muslim menunjukkan bahwa mereka adalah agen Amerika yang bekerja untuk Amerika dan menjadi sekutu Israel . Bukan untuk kepentingan kaum muslim di Gaza.
Sebaliknya meskipun dibingkai sebagai rekonstruksi Gaza, sesungguhnya proyek New Gaza menjanjikan keuntungan besar bagi AS. Selain meraup dolar di Gaza, tetapi juga diuntungkan dengan menguasai jalur perdagangan dunia terutama di Timur Tengah. Sementara Israel terbuka peluangnya menjalin kerjasama dengan negara-negara Arab.
Urgensi Kepemimpinan Global
Wilayah Gaza dan Palestina sejatinya adalah milik umat muslim yang dirampas oleh Israel. Palestina adalah tanah yang diberkahi, dan kiblat pertama kaum muslimin. Allah Ta’ala telah mengkhususkan tempat ini bagi kebanyakan para nabi dan orang-orang pilihan-Nya. Bahkan agama penduduk Syam adalah tolok ukur kaum muslimin yang lain, karena mereka adalah benteng terakhir kebaikan agama kaum muslimin. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
“Jika penduduk Syam rusak agamanya, maka tidak akan tersisa kebaikan di tengah kalian.” (HR. Tirmidzi)
Oleh karena itu seluruh umat dan pemimpin negara- negara muslim seharusnya melawan dan menolak makar Amerika dan Israel terhadap Palestina. Bukan malah berkhianat dengan menjabat tangan dengan mereka yang jelas- jelas menjajah dan melakukan genosida terhadap muslim Gaza Palestina.
Allah Swt melarang umat muslim untuk tunduk dan patuh serta memberikan loyalitas kepada negara kafir :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."(TQS Ali Imran:118)
Penjajahan atas Palestina tidak akan berakhir hanya dengan pembentukan dewan perdamaian yang diinisiasi oleh penjajah itu sendiri. Solusi tuntasnya adalah dengan bersatunya seluruh negeri muslim dalam satu kepemimpinan global. Pembebasan rakyat Palestina perlu jihad dengan kekuatan yang riil dibawah kepemimpinan global. Hanya khilafah institusi negara dengan khalifah sebagai kepemimpinan global yang mampu menggerakkan kekuatan militer untuk melindungi kaum muslim dan membebaskan Palestina dari kedzaliman penjajahan Amerika dan Israel serta menjaga kehormatan kaum muslim. Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Wallahu’alam bishowab

Posting Komentar