-->

Menata Ulang Dunia dengan Islam

Oleh : Nurhasanah, Aktivis Muslimah

Intervensi asing dalam bentuk paling nyata adalah intervensi militer, yakni ketika militer negara asing masuk. Itu sangat mungkin terjadi ketika negara yang diserang dalam posisi sangat lemah.  Lemah secara ekonomi, lemah secara politik, dan yang paling utama adalah lemah secara ideologi.  

Intervensi militer adalah pukulan akhir. Ada sejumlah hal yang dilakukan sebelumnya, baik dalam intervensi ekonomi, intervensi politik, dan yang paling utama adalah intervensi ideologi atau pemikiran.

Setelah runtuhnya Uni Soviet yang mengusung sosialisme, tidak ada lagi ideologi yang berpotensi mengalahkan kapitalisme selain Islam. Hanya saja, sejak Khilafah runtuh pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924), Islam tidak lagi diemban oleh negara sehingga ia kehilangan sifatnya sebagai sebuah ideologi yang bisa melahirkan peradaban cemerlang. 

Sifat Islam sebagai ideologi terus berupaya dikubur dan dikaburkan oleh Barat dengan pengarusan sistem pendidikan sekuler dan perang pemikiran serta budaya di negeri-negeri Islam. 

Mereka hendak menyekulerkan umat Islam sehingga terjauhkan dari modal kebangkitan dan terus berada dalam cengkeraman penjajahan. Mereka pun terus memerangi gerakan Islam politik melalui propaganda perang global melawan teror dengan memonsterisasi Khilafah dan pengusungnya demi memupus keinginan umat untuk kembali hidup dalam kepemimpinan Islam. Termasuk menjalankan proyek memecah-belah umat Islam melalui pengarusan gagasan Islam moderat untuk mengukuhkan penjajahan. 

AS dan sekutunya juga tampak sadar betul, Islam dengan sistem kepemimpinannya, yakni Khilafah, adalah satu-satunya sistem kepemimpinan yang bisa menantang, bahkan mengalahkan sistem kepemimpinan kapitalisme. Khilafah pula yang mereka yakini akan menghentikan mimpi-mimpi mereka untuk menguasai seluruh kekayaan dunia hingga mereka begitu berkepentingan mencegah kemunculannya, bagaimana pun caranya. 

Dugaan mereka tentu saja benar. Pertama, sistem Khilafah tegak di atas akidah yang benar, yang menjadikan kedaulatan membuat hukum hanya pada Tuhan Sang Pencipta Alam, jauh dari konflik kepentingan. Kedua, seluruh aturannya merupakan solusi atas berbagai problem kehidupan dan turun sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia menjaga jiwa dan akal manusia, harta dan kehormatannya, bahkan agama dan negara. Sejarah mencatat, tatkala umat Islam hidup di bawah naungan Khilafah, mereka mampu tampil sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memimpin peradaban cemerlang. 

Bahkan, sepanjang belasan abad, Khilafah tampil sebagai negara pertama yang begitu ditakuti lawan, sekaligus menjadi role model kemajuan. Bukan hanya sejahtera secara materi, melainkan penuh berkah karena negara menjadi manifestasi iman dan ketaatan total pada titah Sang Pencipta Alam. 

Rajab 1447 H ini, nyaris 105 tahun umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah, tanpa pengurus (raain) dan penjaga (junnah). Oleh sebab itu, sudah lebih dari cukup umat Rasulullah SAW dan pewaris generasi terbaik umat Islam ini hidup dalam kehinaan dan keterpurukan akibat tunduk pada kepemimpinan sekuler kapitalisme yang tidak mengenal keluhuran moral. 

Umat Islam memiliki kewajiban untuk bangkit dan bersatu guna mengembalikan kemuliaannya. Upaya tersebut dilakukan melalui perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islam sebagai institusi yang menaungi penerapan ajaran Islam secara menyeluruh. Dengan tegaknya Khilafah, tatanan dunia yang saat ini dinilai rusak di bawah dominasi kepemimpinan AS dan ideologi kapitalisme diharapkan dapat digantikan oleh tatanan peradaban Islam yang berlandaskan keadilan dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Sungguh, Allah SWT telah menjanjikan bahwa Khilafah yang akan datang akan mewujudkan kesejahteraan tanpa bandingan. Khilafah pun akan menjadi pembebas Palestina, termasuk Gaza, menghinakan Zionis Yahudi dalam perang besar, bahkan menaklukkan Roma sebagai simbol terbesar kekufuran akhir zaman. 

Sebab semua kemenangan bagi kaum Muslimin ini adalah janji Allah Yang Maha Suci. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah an-Nuur ayat 55 yang artinya, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.’’

Dan juga kabar gembira dari Rasulullah SAW, bahwa setelah masa kekuasaan zalim yang memaksa, yang saat ini kita jalani akan datang kembali Khilafah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad yang artinya, “Kemudian aka nada Kerajaan yang bersifat memaksa, berlangsung selama yang Allah kehendaki, lalu Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki, kemudian akan datang Khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR Ahmad).[]