Konflik AS dan Venezuela, Ketika Kepentingan Politik Mengorbankan Rakyat
Oleh : Eulis Martini, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kembali mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir. Konflik ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perbedaan ideologi politik, sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat, hingga perebutan pengaruh geopolitik dan sumber daya alam, terutama minyak bumi yang melimpah di Venezuela.
AS menuduh pemerintah Venezuela gagal menjalankan demokrasi dan melanggar hak asasi manusia. Sebagaimana yang diberitakan, BBC NEWS INDONESIA, AS menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro di negaranya sendiri. Sejumlah negara kemudian bilang tindakan AS itu tidak ada bedanya dengan penculikan dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Maduro juga disebut AS sebagai buronan internasional dengan tuduhan penyelundupan narkoba. Sebaliknya Maduro sempat menuduh AS berniat mengambil alih cadangan minyak Venezuela, yang merupakan cadangan minyak terbesar di dunia.
Venezuela menilai kebijakan sanksi ekonomi AS sebagai bentuk intervensi dan penjajahan gaya baru yang memperparah krisis ekonomi dan kemanusiaan di negara tersebut. Sanksi ini berdampak langsung pada kehidupan rakyat, seperti kelangkaan pangan, obat-obatan, dan menurunnya kualitas layanan publik.
Konflik ini menunjukkan, hubungan internasional yang dibangun di atas kepentingan ekonomi dan kekuatan militer kerap berujung pada penderitaan rakyat sipil. Negara kuat cenderung menggunakan tekanan politik dan ekonomi untuk mengamankan kepentingannya, sementara negara yang lebih lemah menjadi korban.
Padahal, dalam pandangan Islam, konflik antar negara yang dilandasi ambisi kekuasaan dan eksploitasi sumber daya bertentangan dengan prinsip keadilan. Islam menegaskanm hubungan antar bangsa harus dibangun di atas dasar keadilan, kemanusiaan, dan larangan zalim. Sebagaimana firman Sllah SWT yang disebut dalam Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 8 yang artinya, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Islam memandang, sanksi ekonomi yang menyengsarakan rakyat sipil merupakan bentuk kezaliman kolektif. Solusi Islam tidak menempatkan kekuatan militer atau tekanan ekonomi sebagai alat utama, melainkan diplomasi yang jujur, penyelesaian sengketa secara damai, dan perlindungan terhadap rakyat sebagai prioritas utama.
Selain itu, Islam menolak eksploitasi sumber daya alam oleh pihak asing. Dalam konsep ekonomi Islam, sumber daya strategis seperti minyak dan gas adalah kepemilikan umum yang harus dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan menjadi alat tawar-menawar politik global.
Islam juga menawarkan tatanan hubungan internasional yang bebas dari dominasi negara adidaya. Negara tidak boleh memaksakan ideologi, sistem politik, atau kepentingannya kepada negara lain. Prinsip ini sejalan dengan larangan Islam terhadap penjajahan dan penindasan.
Konflik AS dan Venezuela menjadi gambaran nyata rapuhnya sistem hubungan internasional modern berbasis kapitalis yang bertumpu pada kepentingan dan kekuatan. Islam menawarkan solusi mendasar dengan menegakkan keadilan, menghapus kezaliman, serta menempatkan kemaslahatan rakyat sebagai tujuan utama. Dengan prinsip-prinsip tersebut, konflik global tidak hanya diredam secara sementara, tetapi diselesaikan dari akarnya.[]

Posting Komentar