-->

Ketika Hidup Dipaksa Kuat Padahal Hati Telah Patah Oleh Sistem Kapitalis


Oleh : Isna Anafiah
Aktivis Muslimah 

Di negeri yang grafik pertumbuhan penduduknya terus meningkat ternyata terdapat jutaan jiwa yang runtuh dalam kesenyapan. Bukan karena gempa yang mengguncang bumi, bukan karena banjir yang menelan rumah, melainkan karena sistem hidup yang perlahan menggerus ketenangan.

Saat bencana alam datang, negara bergegas menolongnya. Namun ketika luka itu bernama gangguan jiwa, ia sering dianggap urusan pribadi. Padahal hari ini, 28 juta jiwa terganggu, dan yang paling terganggu sesungguhnya adalah cara hidup yang memaksa manusia
terus kuat, meski hatinya telah hancur.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes), dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada 19 Januari 2026 mengungkapkan bahwa terdapat 28 juta orang penduduk Indonesia yang diperkirakan mengalami gangguan kesehatan mental (jiwa). Kemenskes juga mengungkapkan bahwa realitas tersebut merupakan fenomena gunung es. Sehingga hanya sebagian kecil saja yang terdeteksi, bisa jadi kasus yang belum terungkap di tengah masyarakat lebih banyak lagi.

Kemenkes juga menghubungkan estimasi tersebut dengan rasio gangguan kejiwaan global yang telah diperkirakan oleh WHO (yaitu satu dari delapan hingga satu dari sepuluh orang) dikalikan dengan jumlah penduduk negeri ini, sehingga hasilnya mencapai puluhan juta orang mengalami gangguan jiwa seperti depresi, gangguan kecemasan, ADHD, serta skizofrenia. Pemerintah saat ini sedang mengupayakan program layanan kesehatan jiwa di puskesmas - puskesmas agar kasus kesehatan mental terdeteksi lebih cepat dan penanganannya dapat dilakukan sejak dini karena kesehatan mental sangat penting seperti halnya kesehatan fisik (cnnindonesia.com,21/01/2026)

28 juta jiwa yang mengalami gangguan kesehatan mental bukan hanya sekadar angka statistik kesehatan, akan tetapi realitas tersebut merupakan potret sosial yang mengkhawatirkan. Sebab beban hidup dalam sistem ekonomi kapitalis sangat tinggi, sehingga tidak sedikit individu yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan keluarga. Selain itu sistem tersebut juga telah menciptakan kesenjangan sosial, karena peran negara sangat minim dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan hidup dalam sistem kapitalis penuh dengan tekanan dan terasa berat. Sebab kehidupan dalam sistem kapitalis seperti kompetisi tanpa henti. 

Pertama, masalah kesehatan ditanggung oleh individu.

Dalam sistem kapitalis, kesehatan tidak menjadi hak dasar yang wajib ditanggung oleh negara, akan tetapi kesehatan menjadi komoditas yang harus dibayar oleh setiap individu. Masyarakat harus mengeluarkan biaya perawatan pemeriksaan dan obat - obatan serta layanan kesehatan lainnya di rumah sakit dengan harga mahal. Sebab kesehatan dalam sistem kapitalis telah dikomersialisasikan bahkan menjadi bisnis melalui mekanisme iuran seperti asuransi. Jika tekanan hidup terus meningkat karena tekanan ekonomi dan pengangguran. Maka beban hidup masyarakat akan semakin berat, atau keadaan sosial yang tidak stabil, akan menjadi penyebab psikologis terganggu karena pemerintah tidak memiliki sistem perlindungan yang memadai. 

Sehingga mengakibatkan banyak warga yang mengalami gangguan kejiwaan (kesehatan mental). Sebab tidak ada dukungan struktural yang layak. Realitas ini menunjukkan betapa abainya negara dalam sistem kapitalis terhadap tanggung jawabnya kepada kesehatan mental rakyatnya, penderitaan yang di alami rakyat menjadi beban individu, karena pemerintah tidak menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya, sehingga masyarakat hidup dalam kondisi sengsara. 

Kedua, sistem pendidikan sekuler tidak mampu memenuhi kebutuhan aspek spiritual

Tidak hanya kesehatan, pendidikan dalam ideologi kapitalis juga hanya fokus pada aspek vokasi dan link and mach agar setelah lulus dari perguruan tinggi atau sekolah menjadikan anak dan remaja dapat memenuhi kebutuhan pasar kerja (demand-midend atau pelaku pasar) yang haruskan produktif sejak dini. Sedangkan penanaman nilai-nilai agama dan moral tersingkirkan, karena sistem pendidikan sekuler hanya fokus pada keterampilan teknis, dan prestasi akademik, serta kompetisi, dari pada pembentukan moral, spritual serta ketahanan jiwa.

Selain itu, tuntutan prestasi akademik dan standar hidup yang tinggi telah mengakibatkan remaja mengalami tekanan mental (stres) serta perbandingan sosial di platform media sosial begitu tajam , negara tidak memiliki mekanisme untuk mengarahkan pendidikan yang dapat memperkuat psikologi anak secara komprehensif. Justru hanya membentuk remaja yang serba bisa akan tetapi rapuh karena tidak memiliki sandaran nilai-nilai Islam. 

Kurikulum sekuler jarang memasukkan kompetensi jiwa, adab, serta spiritual sebagai prioritas utama, karena dalam kurikulum sekuler lebih ditekankan pada aspek intelektual dan fisik semata. Sedangkan masalah jiwa, adab, moral serta spiritual dianggap tidak penting dan tidak relevan dengan pendidikan yang diterapkan di negeri ini. Sehingga tidak sedikit generasi muda yang tumbuh tanpa memiliki pondasi jiwa yang kuat, mereka rentan mengalami stres, kecemasan, serta depresi seperti yang ditemukan dalam skrining kesehatan jiwa, ditemukan gejala-gejala yang menunjukkan gangguan kecemasan atau depresi pada anak dan remaja. 

Ketiga, negara abai terhadap tanggung jawabnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.

Kehidupan dalam sistem kapitalis yang serba mahal telah mengakibatkan tekanan ekonomi yang berat, tekanan ekonomi tersebut telah mencekik para ayah dan ibu dalam keluarga. Sebab dalam sistem kapitalis, kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, serta kesehatan semuanya dibebankan pada ayah sebagai pencari nafkah. Ayah harus kerja keras agar mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, terkadang para ayah harus menjalankan jam kerja yang panjang, tekanan performa kerja, serta badai PHK dan pengangguran. 

Ibu yang harusnya hanya menjalankan fungsinya sebagai ummu warobatul bait terpaksa harus menanggung beban yang luar biasa, selain mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga, ibu juga turut membantu perekonomian keluarga dengan kerja kantoran, jualan hingga kerja serabutan yang tanpa perlindungan dan jaminan sosial yang layak.

Beban ganda yang dipikul ibu akan menimbulkan kelelahan fisik serta mengakibatkan gangguan psikologis. Realitas tersebut ditemukan dalam banyak kasus keluarga, selain itu, anak juga menjadi saksi dari tekanan dan kecemasan tersebut. Negara juga tidak melakukan dukungan secara struktural dalam masalah cuti bersalin, dan layanan konseling keluarga, selain itu, tidak ada jaminan pemenuhan kebutuhan dasar sehingga memperparah kasus krisis mental di keluarga.

Keempat, konsumerisme, media sosial dan kosongnya spiritual.

Negara yang menerapkan sistem kapitalis tidak mengontrol dan mengatur dampak platform media sosial yang membanjiri publik dengan konten-konten konsumtif yang menjadikan barang-barang mewah, dan tren yang beredar di media sosial sebagai standar kebahagiaan. Pada hal konsumerisme merupakan pemborosan yang membuat keuangan tidak stabil hingga menimbulkan hutang, sering kali mereka melakukan hal tersebut hanya karena gengsi dan fomo. 

Kebebasan tanpa arah ini telah menciptakan rasa tidak pernah cukup, karena perbandingan sosial yang destruktif justru akan merugikan diri sendiri dalam tatanan sosial, era digitalisasi telah menciptakan kesenjangan yang luar biasa di dalam kehidupan nyata dengan kehidupan di dunia maya, sebab kehidupan di dunia maya telah menjadikan seseorang sebagai sutradara untuk dirinya sendiri, sedangkan kehidupan di dunia nyata realitasnya adalah kehidupan apa adanya. Sehingga fakta tersebut menimbulkan tekanan untuk “tampil sukses” secara material.

Fenomena tersebut terjadi karena kurangnya pendidikan spiritual serta tidak ada media publik yang mampu menguatkan jiwa, yang terjadi justru menciptakan kekosongan batin. Kondisi tersebut akan memperburuk kesehatan mental masyarakat. Sistem yang diterapkan di negeri ini lebih kejam dari bencana, tidak hanya merobohkan bangunan, akan tetapi meruntuhkan jiwa secara perlahan dan melukai publik dalam diam. Islam memandang negara berkewajiban menjaga jiwa dan raga manusia . Allah Swt berfirman:

“Dan janganlah kamu membunuh jiwamu.
Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisā’: 29)

Ayat tersebut tidak hanya melarang menghilangkan nyawa secara fisik, akan
tetapi menutup semua celah atau jalan yang dapat merusak jiwa secara sistemik dan perlahan.

Islam mewajibkan negara untuk menjamin kesehatan mental sebagai hak dasar, bukan bisnis serta menyediakan layanan kesehatan tanpa biaya (gratis).
Sebab sistem ekonomi di dalam Islam mampu mengurangi dan mencegah terjadinya setres karena ekonomi, selain itu sistem ekonomi Islam juga mampu mensejahtrakan rakyatnya dan memberikan ketenangan. Rasulullah Saw bersabda,

“Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin di dalam Islam akan meri'ayah rakyatnya dengan sungguh-sungguh sehingga rakyat tidak hidup dalam kecemasan yang kronis. Terjadinya gangguan jiwa yang meluas bukanlah kegagalan individu semata, melainkan karena rusaknya pengurusan negara. Dan realitas tersebut menjadi alarm bahwa ada yang salah dengan sistem yang diterapkan.

Sistem di dalam Islam tidak hanya hadir untuk mengobati gangguan jiwa,
melainkan menata kehidup manusia menjadi tenang dan sejahtera. 
Sebab bencana terbesar 
bukan yang menghancurkan bangunan,
melainkan sistem yang menjauhkan manusia dari aturan Allah Swt hingga jutaan jiwa runtuh tanpa suara.

Wallahualam bissawab