Kebutuhan Pokok Naik Jelang Ramadhan : Problem Berulang
Kebutuhan Pokok Naik Jelang Ramadhan : Problem Berulang
Oleh. Susi Ummu Musa
Sudah menjadi problem berulang kebutuhan pokok jelang ramadhan naik, lantas bagaimana kondisi masyarakat?
Seperti biasa masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam sembari menahan perasaan tertekan karena keadaan.
Masyarakat seperti nya sudah hafal betul dengan kenaikan harga harga jelang lebaran mau tidak mau ya terpaksa.
Muslimah News, FOKUS — Menjelang Ramadan harga komoditas pangan seperti telur, cabai rawit, daging, beras, gula pasir, dan bawang, di berbagai kota di Indonesia terus merangkak naik. Di pasar tradisional Kota Bandung misalnya, harga cabai rawit merah yang sebelumnya Rp40.000 melonjak menjadi Rp80.000. Telur ayam dijual seharga Rp32.000 per kilo, naik signifikan yang sebelumnya Rp28.000.
Kenaikan serupa juga terjadi di Sukoharjo, Magetan, Bangka Belitung, dan lain-lain. Harga bawang merah yang biasanya Rp35.000 naik menjadi Rp50.000. Demikian juga bawang putih yang sebelumnya Rp35.000 menjadi Rp45.000. Baik pedagang maupun konsumen mengeluhkan kenaikan harga yang terus berulang di tengah kondisi ekonomi yang berat.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula ditengah badai phk massal yang terjadi dibeberapa wilayah tentu menambah berat lagi kondisi ekonomi setiap keluarga, entah dengan cara apalagi mereka harus berjuang mencukupi kebutuhan nya.
Kali ini keadaan masyarakat terasa begitu dampaknya banyaknya para pedagang yang menjajakan dagangan nya karena bingung harus usaha apalagi untuk mencari rezeki tambahan.
Apalagi menjelang ramadhan hingga diakhir saat lebaran tentu masyarakat perlu memenuhi kebutuhan seperti sebelumnya.
Keadaan berulang yang dirasakan masyarakat luas terutama menengah kebawah adalah cerminan dari kegagalan negara dalam memberikan pelayanan kepada rakyat dengan baik.
Para kapital tengah bermain dengan cara cara licik hanya untuk meraup keuntungan semata dan imbasnya adalah rakyat bawah.
Permainan licik dengan cara penimbunan barang komoditas sehingga membuat harga menjadi mahal adalah suatu kejahatan.
Penelitian Engkus pada 2017 melaporkan, ada beberapa penyebab kenaikan harga menjelang Ramadan, yakni hukum permintaan dan penawaran, penimbunan barang, kinerja pasokan yang terganggu, dan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif.
Penimbunan barang terjadi karena adanya permainan pelaku pasar. Ini bukan hal aneh dalam negara yang menganut sistem kapitalisme. Sistem ini memang menghasilkan orang-orang yang hanya memikirkan manfaat materi. Masyarakat dipandang sebagai pasar yang berpotensi untuk meraih keuntungan tanpa memikirkan dampak buruk atau banyak orang yang merugi.
Kapitalisme juga menjadikan peran negara sebatas regulator. Negara lumpuh dalam perannya sebagai pelayan rakyat yang mengedepankan kepentingan masyarakat. Padahal, negara seharusnya melakukan upaya antisipatif agar tidak ada gejolak harga dan masyarakat mudah mendapatkan kebutuhannya.
Oleh karenanya, fenomena yang terus terjadi ini sejatinya menunjukkan kegagalan negara dalam menjaga stabilitas harga dan menyediakan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan masyarakat.
Wallahu a lam bissawab

Posting Komentar