DI BALIK PELEMPARAN BOM MOLOTOV OLEH SISWA SMP DI SEKOLAHNYA
Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)
Sebuah peristiwa yang memprihatinkan pada siswa terjadi di Kalimantan. Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kalimantan Barat melempar bom molotov ke sekolahnya. Disinyalir hal ini dipengaruhi oleh paham True Crime Community (TCC), perundungan di sekolah, dan masalah keluarga (www.bbc.com, Jumat 6 Februari 2026) (1). Sebelumnya pernah terjadi peristiwa serupa di SMAN 72 Jakarta pada tahun lalu, tepatnya tanggal 7 November 2026 (www.detik.com, Rabu 12 November 2026) (2).
Polisi menemukan, anak pelembar bom molotov ini terpengaruh oleh komunitas daring, True Crime Community. Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana menyampaikan pada Rabu (04/02), bahwa di tas siswa tersebut ditemukan tulisan #ZERO DAY dan TCC. Ini istilah yang sering digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem untuk menandai hari pelaksanaan serangan. Di tasnya juga tertulis deretan nama pelaku kekerasan dari berbagai negara.
Anak remaja yang melakukan aksi pelemparan bom Molotov di sekolahnya ini, cukup membuat prihatin. Apalagi ada indikasi semua disebabkan karena bullying. Bullying merupakan Tindakan criminal yang membuat suram masa depan generasi muda. Ini erat kaitannya dengan rendahnya pemahaman Islam dikalangan umat Islam sendiri akibat paradigma sekuler kapitalisme yang membuat kaum Muslimin sudah tidak mengenal adab dan akhlak mulia, sehingga mudah menghina dan merendahkan orang lain; bahkan sampai menjurus ke tindakan kriminal. Inilah dampak hidup dalam sistem sekuler kapitalisme, umat sangat jauh dari Islam sehingga tidak tahu cara berbuat dan beradab yang baik pada orang lain.
Peristiwa ini menunjukkan kegagalan system Pendidikan saat ini, yang hanya focus pada pencapaian materi yaitu prestasi akademis; sehingga tidak menganggap penting Pendidikan agama dan budi pekerti. Padahal ini sudah melenceng dengan tujuan semula system Pendidikan Indonesia, yaitu mencetak generasi unggul dan beradab. Agama hanya dipandang sebagai ranah privat, dan dalam mata pelajaran hanya diajarkan sekilas yaitu sepekan hanya dua jam Pelajaran. System Pendidikan sekuler kapitalisme telah gagal meningkatkan ketakwaan para murid, karena memisahkan agama dari kehidupan; sehingga agama tidak dianggap penting untuk dipelajari murid. Akhirnya Pendidikan sekuler ini gagal membendung pengaruh negative pemikiran-pemikiran ekstrim yang berkembang di media sosial, yang ditelan mentah-mentah oleh para murid yang kini banyak terpapar pengaruh negative media sosial. Mereka tidak berdaya mengolah tsunami arus informasi global melalui media sosial, sehingga aksi-aksi ekstrim mereka anggap sebagai aktualisasi diri.
Di sisi lain, keluarga sebagai benteng terakhir bagi anak, telah gagal memberikan rasa aman dan mengabaikan edukasi penguatan iman. Tuntutan ekonomi dan pekerjaan, serta bergesernya pola interaksi sosial; membuat orang tua melalaikan melakukan pengawasan dan pendampingan pada anak. Karena gagal melakukan konfirmasi informasi pada orang tua karena minimnya komunikasi yang hangat dengan mereka, maka anak akan mencarinya dari luar; termasuk dengan masuk pada komunitas ekstrim seperti TCC ini. Pihak negara yang berfungsi utama sebagai pelayan rakyat, juga telah gagal menjalankan fungsinya untuk mencegah sejak dini factor-faktor pemicu terjadinya kriminalitas dan aksi ekstrim seperti TCC ini.
Berbeda dengah Islam. Islam menangani masalah ini secara holistik, dengan penanganan menyeluruh yang mencakup semua aspek kehidupan. Karena berIslam kafah adalah konsekuensi logis dalam beriman pada Allah SWT, mengacu firman Allah :
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah pada Islam secara kafah dan jangan mengikuti langkah-langkah setan..” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 208).
berIslam kafah adalah wujud ibadah hakiki kita, sebagai tujuan utama hidup kita. Seperti pada firman Allah :
“Tidak Kuciptakn jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Terjemah Al-Qur’an surat Az-Zariyat : 59).
Maka membumikan Islam secara holistic sebagai jaminan terselesaikannya problem merusaknya ekstrimisme di Tengah pelajar sampai tuntas hingga akarnya, yaitu dengan hadirnya Khilafah sebagai penerap Islam secara sempurna.
Khilafah sebagai negara, akan bertanggung jawab menerapkan system Pendidikan Islam yang berdasarkan akidah Islam. Ini akan membentuk dalam siswa kepribadian Islam, di mana pola pikir dan pola sikap sama-sama Islaminya. Ini akan membentuk ketakwaan pada diri siswa, serta keteguhan iman; yang akan menjadia benteng yang ampuh untuk mencegah masuknya pemikiran-pemikiran ekstrim yang batil, yang merusak akidah mereka. Mereka akan mampu membedakan antar hak dan batil, sehingga akan mampu menyelesaikan masalah dalam dirinya; entah itu problem mental, psikis, atau aktualisasi diri. dengan demikia mereka akan mampu melangkah untuk menyikapi problem di sekitar kehidupan mereka, sesuai dengan standar syariat.
Unit terkecil di masyarakat, yaitu keluarga, akan diperkokoh oleh Khilafah agar mampu mencetak generasi cemerlang, yaitu menjadi anak yang shalih dan shalihah. Ini menjadi kewajiban para orang tua, mengacu pada firman Allah SWT :
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan anggota keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia..” (Terjemah Al-Quran surat At-Tahrim [66] : 6).
Ayat ini akan mendorong para orang tua, baik ayah, maupun ibu, untuk hadir dalam pengasuhan dan Pendidikan anaknya. Hal ini juga akan ditopang oleh masyarakat, yang telah dididik dengan kurikulum berbasis akidah Islam yang diterapkan Khilafah, yang melakukan control sosial yang kuat berstandar syariah. Sehingga kemungkinan anak lolos dari edukasi berbasis akidah Islam, akan kecil kemungkinannya.
Sehingga factor apa pun yang akan menghambat misi utama keluarga ini, akan diselesaikan dengan tuntas oleh Khilafah. Seperti problem ekonomi rakyat yang tidak bisa mengakses kebutuhan dasarnya karena miskin, problem kesejahteraan yang membuat orang tua abai dalam mendidik anaknya, tekanan dunia kerja yang mengeksploitasi pekerja sehingga para orang tua mudah depresi sehingga melampiaskan amarah pada anak, akses kesehatan yang mahal sehingga anak tidak maksimal menjalankan Pendidikan di sekolah, dan lain-lain. Semua kebutuhan dasar rakyat akan dijamin Khilafah, bahkan biaya sekolah bisa gratis dengan fasilitas terbaik, sehingga para murid bisa focus menuntut ilmu dan menempa diri menjadi generasi cemerlang. Media sosial pun di bawah control Khilafah, sehingga jika ada yang menyebarkan ide-ide batil, maka Khilafah akan segera menutup web tersebut dan pelakunya segera dihukum dengan hukuman setimpal.
Maka agenda umat Islam kini yang utama adalah, kembali kepada ajaran Islam secara menyeluruh (kafah)-aktif mempelajarinya dan menyebarkannya sebagai wujud kewajiban berdakwah, barulah umat Islam akan menjadi “Khairu Ummah” (umat terbaik); yang akan mampu membangun kembali, yang dulu kehidupan Islam pernah berjaya selama 13 abad lamanya dengan penerapan Islam secara sempurna dalam naungan Khilafah. Ini sesuai janji Allah SWT dalam firman-Nya :
“Kalian umat yang terbaik yang dihadirkan di tengah-tengah manusia, yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar (aktivitas dakwah/saling nasehat-menasehati tentang kebaikan Islam), dan kalianlah orang-orang yang beruntung” (Terjemah Al-Qur’an surat Ali Imran : 110)
Wallahualam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) Siswa SMP lempar bom molotov ke sekolah di Kalbar – Apa itu True Crime Community? https://www.bbc.com/indonesia/articles/c9wx949742qo
(2) Terungkap Gestur Siswa Pelaku Ledakan SMAN 72, Sempat Lepas Seragam - https://news.detik.com/berita/d-8206325/terungkap-gestur-siswa-pelaku-ledakan-sman-72-sempat-lepas-seragam

Posting Komentar