Pendidikan Sekuler Merusak Relasi Guru dan Murid
Oleh : Asha Tridayana
Dunia pendidikan semakin tidak baik-baik saja. Sejak awal tahun anggaran pendidikan telah dipangkas untuk menunjang program lain. Sementara nasib guru honorer juga semakin terabaikan tanpa ada kejelasan. Belum lagi, kondisi sarana prasarana pendidikan masih jauh dari kelayakan terutama sekolah-sekolah di daerah. Inilah penyebab kemerosotan kualitas pendidikan dan menjadi ancaman bagi generasi karena sejak awal tidak ada prioritas dari pemerintah untuk memperbaikinya.
Keterpurukan aspek pendidikan juga diperparah dengan kasus pengeroyokan guru oleh muridnya. Terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, seorang guru terlibat adu jotos dengan siswanya hingga viral di media sosial. Pihak guru pun melaporkannya ke Polda Jambi sebagai penganiayaan. Karena sebelumnya mediasi yang digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan dihadiri unsur kepolisian, TNI, dan kejaksaan belum membawa titik terang. Kepala Bidang SMK Disdik Provinsi Jambi, Harmonis menambahkan bahwa evaluasi menyeluruh akan segera dilakukan sesuai dengan mekanisme yang berlaku agar proses belajar mengajar dapat berjalan normal kembali (news.detik.com 17/01/26).
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemerintah untuk turun tangan. Mengingat jalur hukum akan memakan lebih banyak waktu dan mengganggu proses belajar anak. Sehingga jalur musyawarah dianggap sebagai pilihan terbaik. Hal ini disampaikan oleh Aris Adi Leksono, Komisioner KPAI agar masalah tidak berkepanjangan hingga merugikan dunia pendidikan dan menambah trauma bagi guru maupun siswa.
Seperti halnya disampaikan oleh Akademisi dari UIN Sultan Thaha Saefuddin, Junaidi Habe bahwa terjadi krisis relasi antara guru dan murid yang menunjukkan lemahnya pengawasan dinas pendidikan. Adanya aturan hanya bersifat formalitas dan administratif tanpa legitimasi moral. Sehingga tidak terjalin keterikatan secara emosional dan moral antara guru dan murid. Komunikasi yang terbentuk sebatas transaksional memenuhi target kurikulum. Tentunya strategi mitigasi harus segera dibentuk oleh sekolah dan pihak terkait (regional.kompas.com 18/01/26).
Sungguh memprihatinkan kondisi hubungan antara guru dan murid. Semestinya terjalin dengan rasa hormat dan adanya moral yang tertanam sehingga terbentuk suasana pembelajaran di sekolah yang kondusif. Namun, justru terjadi perselisihan berujung pengeroyokan dengan mempertahankan ego masing-masing. Sebagai guru merasa tidak dihormati karena murid bertindak tidak sopan bahkan kehilangan adab. Sementara sebagai murid merasa sering kali dilecehkan karena tidak dipungkiri terdapat guru yang berkata-kata melukai psikologis. Hingga berujung pada tindak kekerasan.
Kondisi ini tentu tidak sekadar konflik individu atau emosi sesaat. Justru menunjukkan keterpurukan dunia pendidikan dan dinilai terjadi pelanggaran hak asasi anak dalam memperoleh pendidikan yang aman tanpa rasa takut. Padahal pendidikan menjadi ujung tombak perubahan dengan mencetak generasi cerdas dan bertanggung jawab. Kini semakin suram, pendidikan seperti tidak memiliki tujuan hanya sebatas formalitas diatas kertas. Anak didik minim ilmu apalagi adab, sementara guru semakin terbebani dengan capaian kurikulum sehingga lebih banyak menuntut daripada mengajari.
Inilah dampak nyata pendidikan dalam sistem sekuler kapitalis. Pendidikan justru dijadikan ladang pundi-pundi materi bukan melahirkan generasi berprestasi. Terlebih kurikulum yang menjadi acuan semakin menjauhkan generasi dari syariat Islam. Orientasi pendidikan hanya sebagai batu loncatan mendapatkan pekerjaan. Sehingga wajar ketika guru dan murid hanya terjalin ikatan transaksional bukan penghormatan dan keteladanan. Sistem sekuler kapitalis telah merampas makna pendidikan hakiki, bahkan rela membiarkan generasi dalam kebodohan asalkan sistem tersebut tetap langgeng tanpa hambatan.
Selama sistem sekuler kapitalis masih diterapkan dalam pendidikan maka kasus serupa akan terus berulang. Karena masalah mendasar terkait kekeliruan pengaturan hidup yang harus segera digantikan bukan yang lain. Yakni dengan sistem Islam yang jelas mampu menuntaskan bahkan menjaga agar senantiasa terhindar dari persoalan. Islam merupakan wahyu Allah swt tentu sesuai dengan kebutuhan makhluk-Nya tanpa mendzolimi seperti sistem sekuler kapitalis.
Apalagi Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar. Justru melalui pendidikan, terlahir manusia beradab. Rasulullah saw pun bersabda, "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Sehingga jelas, sistem pendidikan Islam senantiasa mendahulukan adab sebelum ilmu karena ilmu tanpa adab tidak akan bermanfaat sementara adab tanpa ilmu juga akan kehilangan arah. Terlebih jika ilmu disertai adab akan lebih mendatangkan keberkahan.
Selain itu, sistem pendidikan Islam juga mengajarkan murid untuk memuliakan gurunya (ta'dzim). Keridhoan seorang guru akan memudahkan murid menerima ilmu dan mengamalkannya. Sedangkan guru juga diwajibkan mendidik dengan kasih sayang bukan hinaan apalagi sampai melukai hati. Dengan begitu akan terjalin ikatan antara guru dan murid yang saling melengkapi tanpa adanya paksaan. Guru pun menjadi figur yang diteladani bukan sebatas pengajar yang ditakuti atau malah diremehkan.
Sistem pendidikan Islam hanya dapat terealisasi secara optimal ketika negara menerapkan Islam di seluruh aspek kehidupan. Negara memahami peran dan tanggung jawabnya seperti dalam pendidikan akan memastikan kurikulum yang dijalankan hanya berlandaskan akidah Islam. Sehingga seluruh mata pelajaran akan mengarah pada pembentukan kepribadian Islam bukan sekadar memenuhi kompetensi pasar. Melalui pendidikan Islam akan terlahir individu yang taat syariat dan memiliki keahlian sebagai bekal menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, menjadi urgensitas bersama untuk menegakkan Islam dalam level negara. Dibutuhkan kesadaran seluruh rakyat agar dapat memperjuangkan Islam sebagai satu-satunya pemecahan masalah selama ini. Tidak ada yang lain hanya Islam sebagai pengatur kehidupan.
Wallahu'alam bishowab.

Posting Komentar