-->

ISRA MI’RAJ, MADURO, DAN KHILAFAH


Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)

Isra Mi‘raj adalah momen penting dalam Islam, karena sarat pesan spiritual yang mengandung pesan politik dan peradaban yang sangat mendalam; yang menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual-individual tapi ideologi yang ideal untuk kepemimpinan global. Tentu kepemimpinan yang penuh berkah, melindungi seluruh umat manusia, baik muslim maupun non muslim.

Jika kembali ke fakta tentang pemimpin global saat ini, yang terjadi sebaliknya; tidak ada keberkahan sama sekali. Fakta ini tidak bisa dilepaskan dari sosok negara Amerika (AS) sebagai negara adidaya. Tapi kepemimpinan AS ini telah mengakibatkan kezaliman sistemik, karena berbasis pada sistem kapitalisme yang tidak dibangun di atas wahyu. Kapitalisme berasas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan; sehingga menjadikan kepentingan materi, modal dan kekuasaan sebagai standar utama pengambilan keputusan. AS secara konsisten menempatkan dirinya sebagai “polisi dunia”; bukan untuk menegakkan keadilan, tapi untuk menjaga kepentingan geopolitik dan korporasi raksasa. Dukungan AS pada genosida di Palestina, agresi militer AS ke Irak dan Afganistan, sanksi ekonomi AS atas sejumlah negara yang mencekik rakyat sipil, hingga intervensi politik dan penculikan pemimpin negara berdaulat oleh AS. 

Yang terbaru sebagai bukti arogansi AS sebagai polisi dunia, seperti yang terjadi di Venezuela, dalam kasus penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya pada Januari 2026 ini. Donald Trump menjelaskan apa yang dilakukan AS ini bertujuan menghadapi ancaman narkoba, migrasi ilegal, dan narko-terorisme (www.medcom.id, Minggu 4 Januari 2026) (1). Tapi hal ini dibantah Pemerintah Venezuela, yang menilai serangan ini bentuk intervensi militer yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Maduro demi menguasai kekayaan minyak negara. Dan tak lama kemudian hal ini terbukti. Beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya ditangkap, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan yang memantik perhatian dunia. Di hadapan wartawan, Trump secara terbuka mengatakan negaranya akan "mengelola" Venezuela hingga sebuah proses transisi dapat berlangsung. Dalam pernyataan yang sama, ia menyebut cadangan minyak raksasa negara Amerika Selatan tersebut akan dimanfaatkan dan dijual ke negara lain (www.liputan6.com, Senin 5 Januari 2026) (2). Pernyataan ini menunjukkan bahwa minyak Venezuela akan diperlakukan sekehendak hatinya dan diklaim sebagai miliknya secara sepihak, padahal itu bukan milik AS. Anehnya tak satu pun dari lebih 190 negara di dunia bersikap pengecut, tak berani menegur AS. Begitu juga para penguasa negeri-negeri Muslim pun memilih diam. Inilah bukti bahwa dunia hari ini hidup di bawah teror hegemoni Kapitalisme global, yang jelas membuat sengsara umat manusia. 

Kapitalisme selain ideologi zalim, juga gagal. Ini disorot oleh para pemikir Barat sendiri. Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, misalnya, dalam Globalization and Its Discontents (2002). Dia mengakui bahwa globalisasi kapitalistik yang dipimpin Amerika Serikat dan institusi seperti IMF justru memperparah kemiskinan, ketidakstabilan politik dan ketimpangan sosial di banyak negara berkembang. Karena pasar bebas tanpa kendali moral dan keadilan, hanya menguntungkan segelintir elit global.Thomas Piketty dalam tulisannya : “Capital in the Twenty-First Century” (2014), telah membuktikan secara empiris bahwa kapitalisme memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Francis Fukuyama yang menulis tesis “Babak Akhir Sejarah” menyatakan bahwa demokrasi liberal dan Kapitalisme global gagal menghadirkan keadilan dan stabilitas, serta memicu krisis kepercayaan, populisme ekstrem dan kehancuran kohesi sosial. Pengakuan para pemikir Barat ini menegaskan bahwa Kapitalisme bukan hanya gagal secara moral, tetapi juga gagal secara empiris mengacu ukuran ilmiah mereka sendiri. Maka satu-satunya harapan adalah pada kepemimpinan Islam, yang bisa dilihat pada momen Isra Mi’raj ini.

Pesan inti Isra Mi’raj adalah turunnya kewajiban shalat lima waktu. Shalat merupakan ibadah wajib satu-satunya yang Allah SWT sampaikan langsung kepada Rasulullah di Sidratul Muntaha tanpa perantara. Ini karena shalat sebagai fondasi utama pembentukan manusia bertakwa, yang layak memikul amanah besar kepemimpinan global. Ini mengacu pada firman Allah :
“Mintalah kalian pertolongan dengan sabar dan shalat” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Baqarah [2]: 45).
Shalat juga mempunyai fungsi sosial. Ini mengacu pada firman Allah :
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-‘Ankabut [29]: 45).
Dengan demikian shalat tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi shalat juga akan melahirkan manusia yang berakhlak baik seperti memiliki sifat jujur, amanah dan adil; asal dilakukan shalat itu “dengan benar”. Ini adalah di antara sifat-sifat yang diperlukan bagi kepemimpinan Islam.

Dalam Isra Mi‘raj ada momen penting saat Rasulullah memimpin shalat para nabi di Masjid Al-Aqsha. Ini merupakan symbol politik, isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya. Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji menegaskan bahwa ini indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia (SirahNabawiyyah Ar-Rawwas Qal‘ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah li as-Sîrah an-Nabawiyyah, hlm. 75–83). Terbukti saat Rasul hijrah ke Madinah dan mendirikan Negara Islam, yang masyarakat majemuk karena terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim; seperti yang tertulis dalam Piagam Madinah (Watsîqah al-Madînah). Piagam ini mengatur hubungan sosial dan politik secara adil di bawah kepemimpinan Islam.

Paska Daulah Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah, digantikan Khilafah Islam. Sahabat Rasulullah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Khalifah pertamanya. Setelah beliau wafat, digantikan Sahabat Rasulullah yang lain yaitu Umar bin al-Khaththab. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab, kota al-Quds (yang pernah disinggahi Rasul saat Isra Mi’raj), dibebaskan tanpa pertumpahan darah. Khalifah Umar menerima kunci kota tersebut dari Patriark Nasrani dengan penuh kehormatan. Ini adalah sebuah peristiwa yang diakui oleh sejarawan Muslim maupun non-Muslim sebagai teladan kepemimpinan yang adil dan beradab.

Tetapi terjadilah tragedi besar menimpa umat Islam, saat Khilafah dihancurkan pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M). Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menyebut peristiwa ini dalam pidatonya saat memperingati “Runtuhnya Khilafah” sebagai “gempa dahsyat” yang menghancurkan kekuatan politik umat Islam dan membuka pintu penjajahan global. Padahal Rasul telah mengingatkan fungsi vital kepemimpinan Islam:
“Imam (Khalifah) itu adalah perisai (pelindung); orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tanpa Khilafah yang berfungsi sebagai perisai (pelindung umat Islam) ini, umat Islam terpecah menjadi puluhan negara lemah yang mudah diintervensi dan dijajah. Palestina yang dijajah Yahudi selama puluhan tahun hingga hari ini hanyalah salah satu contohnya. Padahal dulu Palestina aman selama ratusan tahun dan damai di bawah kekuasaan Khilafah Islam.

Islam berbeda dengan Kapitalisme. Islam mengharamkan penjajahan, perampasan sumber daya, maupun pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi atau politik. Dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum-hukum Allah SWT. Karenanya Islam sebagai ideologi, dengan kepemimpinan global Khilafahnya, bukan sekadar alternatif; tapi merupakan solusi peradaban yang rasional, historis dan manusiawi; karena berbasis wahyu alias petunjuk Allah sebagai Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya, bukan hawa nafsu. Inilah yang menyebabkan Islam dalam bentuk kepemimpinan global (Khilafah) menjadi ancaman ideologis terbesar bagi Kapitalisme global. Karena Islam menawarkan tatanan dunia alternatif yang adil, independen dan bebas dari dominasi modal serta hegemoni militer, melalui Khilafah sebagai konsep pemerintahan. Selama Khilafah belum tegak, dunia akan terus dizalimi dan keadilan sejati hanyalah slogan kosong.

Kepemimpinan Islam global, menurut Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji, mensyaratkan dua hal utama (Qal’ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah, hlm. 80). Yaitu :

Pertama: Ada sistem Islam yang diterapkan secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Ini mengacu pada firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Baqarah [2]: 208).

Kedua: Ada pemimpin yang amanah, yakni Khalifah yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara kafah (menyeluruh), karena mewujudkan konsekuensi keimanan umat Islam sesuai tuntunan Al-Quran. Ini mengacu pada firman-Nya :
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah pada Islam secara keseluruhan dan jangan mengikuti langkah-langkah setan..” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 208).
Sehingga jelas di sini, Khalifah sebagai pemimpin Khilafah bukanlah model penguasa boneka ala kapitalisme seperti saat ini yang tunduk pada kepentingan Barat. Inilah momen penting Isra Mi’raj berdimensi politis yang harus direnungkan oleh umat Islam saat ini, sebagai bahan pencerdasan politik Islam bagi mereka. Bukan sekedar mengulang-ulang cerita Isra Mi’raj sebatas sebagai momen turunnya perintah shalat semata, yang malah menyempitkan makna Islam sebatas akidah ruhiyah (mengatur spiritual semata) yang tak berbeda dengan agama lainnya, padahal Islam adalah juga akidah siyasiyah (yang mengatur aspek politik yang bermakna : mengurus urusan umat dengan Syariat Islam).

Wallahualam Bisawab

Catatan Kaki : 
(1) https://www.medcom.id/internasional/amerika/Zke16Ovk-ini-penyebab-as-serang-venezuela-dan-tangkap-presiden-nicolas-maduro
(2) https://www.liputan6.com/global/read/6250287/penjelasan-mengapa-trump-menguasai-venezuela-minyak