Panggilan Ideologis Penyelamat Generasi
Oleh Khaula Mumtaza
Penamabda.Com-Di penghujung tahun 2025 dan di awal tahun 2026 ini, kita dihadapkan pada dua wajah buram yang menimpa generasi muda kaum muslimin. Di satu sisi, mereka sedang "dininabobokan" oleh arus deras dunia digital yang melahirkan fenomena Brain Rot (pembusukan kognitif). Di sisi lain, sebagian saudara mereka di Sumatra sedang berjuang memulihkan hak pendidikan pascabencana di tengah respons penguasa yang lamban.
Kedua fenomena ini tampak terpisah, namun sejatinya bermuara pada satu akar masalah. Yaitu hilangnya visi kepemimpinan (riayah) yang sahih dalam mengurus urusan umat. Generasi muda kita, Gen Z dan Gen Alpha, kini berdiri di persimpangan jalan peradaban. Apakah mereka akan menjadi korban pasar kapitalisme global, atau bangkit menjadi khairu ummah (umat terbaik)?
Jebakan Algoritma dan Ilusi Regulasi
Fakta menunjukkan bahwa arus informasi digital adalah tantangan terbesar hari ini. Pemerintah berencana menerapkan PP 17 Tahun 2025 (PP Tunas) yang membatasi akses media sosial bagi anak usia 13-16 tahun mulai Maret 2026. Regulasi ini diklaim sebagai upaya tata kelola sistem elektronik untuk perlindungan anak.
Namun, jika kita telisik lebih dalam, langkah ini bersifat administratif dan parsial. Bagaimana mungkin kita membatasi media sosial, sementara game online—yang nyata-nyata menyebabkan kecanduan—justru dikecualikan?
Kritik keras juga muncul karena anak masih bisa mengakses internet dengan akun palsu, situasi yang mirip dengan polemik di Australia di mana pembatasan medsos menuai kritik karena tidak menyentuh akar masalah game online. (kompas.com, 13-12-2025).
Akar masalahnya adalah hegemoni digital. Generasi muda kita dijadikan objek pasar. Kedangkalan berpikir (shallow thinking) yang mereka alami adalah hasil desain sistemik. Mereka dibuat sibuk dengan hiburan, menjauh dari tsaqofah Islam, dan menjadi reaktif secara emosional namun tumpul secara intelektual.
Potret Buram Pendidikan Pasca Bencana
Beralih ke dunia nyata, kondisi generasi di Sumatra pascabencana memberikan pukulan telak bagi nurani kita. Data menunjukkan 2.798 satuan pendidikan terdampak, 5.421 ruang kelas rusak, dan lebih dari 600 ribu siswa terganggu layanan pendidikannya.
Mirisnya, narasi yang muncul dari elite penguasa adalah "kondisi terkendali", padahal di lapangan, pemulihan sarana pendidikan berjalan lambat. Pemerintah pusat terkesan melempar tanggung jawab, sementara lembaga kemanusiaan justru yang lebih sigap bergerak.
Di sinilah letak kegagalan paradigma kepemimpinan sekuler. Dalam Islam, pemimpin adalah pelayan. Rasulullah saw. bersabda,
"Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari)
Jika sistem hari ini menggunakan logika untung-rugi dalam menangani bencana, Islam menempatkan keselamatan nyawa dan pendidikan sebagai prioritas mutlak yang harus dipenuhi negara, segera dan tanpa hitungan bisnis.
Sinergi Elemen Umat: Dari Keluarga hingga Negara
Menghadapi gempuran digital dan kegagalan sistemik ini, kita tidak bisa lagi berharap pada perubahan pragmatis yang sporadis. Aktivisme pemuda yang hanya berbasis momentum atau sekadar menjadi "bemper" ide-ide liberal tidak akan membuahkan hasil. Dibutuhkan perubahan yang Ideologis dan Sistemis.
1. Peran Ibu sebagai Pencetak Generasi Ideologis
Benteng pertama ada di rumah. Seorang ibu tidak boleh hanya menjadi pengasuh biologis, tetapi harus menjadi Ibu Ideologis. Ibu harus memiliki kesadaran politik bahwa keturunannya sedang diincar oleh peradaban asing. Visi pendidikannya harus menembus langit: mencetak Abdullah (hamba Allah) dan Khalifah fil ardh (pemimpin di bumi).
Allah Swt. berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Menjaga keluarga dari api neraka di era ini berarti menjaga akal mereka dari pemikiran sekuler yang merusak (liberalisme, hedonisme) yang disusupkan lewat gawai.
2. Peran Partai Politik Islam Ideologis
Keluarga tidak bisa berjuang sendirian. Dibutuhkan Partai Politik Islam Ideologis yang berfungsi sebagai tulang punggung pembinaan umat. Parpol ini berperan mencerdaskan umat, melakukan muhasabah lil hukam (mengoreksi penguasa) agar kembali ke jalan yang benar, dan memberikan peta perjuangan yang jelas bagi pemuda agar tidak terjebak menjadi aktivis prematur yang mudah tergiur jabatan.
3. Negara Penerap Syariat (Khilafah)
Puncaknya, perlindungan total hanya bisa terjadi jika negara hadir dengan visi Islam (Khilafah). Negara memiliki power untuk membangun kedaulatan digital, memfilter konten yang merusak akidah, serta menyediakan infrastruktur pendidikan yang tangguh, baik dalam kondisi normal maupun bencana. Hanya sistem Islam yang mampu mengubah generasi muda dari sekadar "konsumen konten" menjadi pemimpin peradaban.
Generasi Z dan Alpha memiliki potensi luar biasa yaitu energi fisik (quwwah) dan akal yang tajam. Namun, tanpa panduan ideologi Islam (Mabda Islam), potensi ini akan "membusuk" oleh algoritma kapitalisme atau tergilas oleh ketidakpedulian penguasa.
Saatnya kita bersinergi. Orang tua menanamkan akidah, masyarakat melakukan kontrol sosial, dan para pengemban dakwah serta partai politik ideologis memimpin arah perubahan. Kita harus mengalihkan aktivisme pemuda dari sekadar reaktif menjadi ideologis.
Mari kita wujudkan generasi yang tidak hanya "Good Looking" atau "Viral", tetapi generasi yang Bertakwa dan Tangguh. Generasi yang siap memikul amanah berat sebagai penerus risalah Nabi saw. Allah Swt. berfirman,
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran [3]: 110)
Perubahan itu tidak bisa ditunggu, ia harus dijemput dengan perjuangan yang benar, terarah, dan berjemaah. Wallahu a'lam bishawab. []


Posting Komentar