Palestina Menderita Terus, Jihad dan Khilafah Solusinya
Oleh : Endang Setyowati
Penderitaan kaum Muslim di Palestina belum ada tanda-tanda berakhir. Justru semakin parah. Serangan, pembunuhan pencaplokan wilayah Palestina terus dilakukan oleh rezim Zionis Yahudi laknatullah.
Malah sekarang rezim Zionis Yahudi melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Seperti yang di kutip dari Antara, (31/12/2025),
Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengutuk keputusan sewenang-wenang Israel untuk membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Jalur Gaza.
Melalui pernyataan, Kemlu menolak alasan Israel atas pemberlakuan larangan tersebut, menekankan bahwa organisasi-organisasi ini memberikan dukungan kemanusiaan, layanan kesehatan, dan lingkungan yang penting bagi warga Palestina, terutama di Gaza, di tengah agresi Zionis Yahudi praktek taktik kelaparan dan serangan terhadap kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat.
Kemlu menegaskan Zionis tidak memiliki kedaulatan atas wilayah-wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem, dan Palestina menyambut baik tugas organisasi-organisasi yang diakui secara internasional maupun nasional yang beroperasi sesuai dengan standar kemanusiaan yang telah ditetapkan.
Kemlu menggambarkan tindakan Zionis sebagai pembajakan, penindasan dan pelanggaran terhadap hukum dan norma internasional, termasuk pendapat nasehat Mahkamah Internasional (ICJ) tentang kewajiban Zionis terhadap organisasi-organisasi kemanusiaan.
Yang mana membuat penderitaan rakyat di Palestina semakin berkepanjangan. Sejak agresi Zionis bulan Oktober 2023 di jalur Gaza menelan korban meninggal hingga 71.269 orang, dan 171.232 mengalami luka. Menurut (GMO) Kantor Media Pemerintah, dalam masa perjanjian genjatan senjatapun mereka melanggarnya, sehingga menelan korban meninggal sebanyak 418 orang dan melukai 1.141 orang.
Begini ketika hegemoni Barat tengah menguasai Timur Tengah. Karena negeri kaum Muslim sangatlah kaya dan melimpah akan minyak bumi, sehingga Barat sangat silau akan hal tersebut sehingga segala upaya mereka lakukan agar bisa menguasai sumber daya alam tersebut.
Sehingga Barat (AS) menempatkan penguasa bonekanya di negeri kaum Muslim. Agar AS bisa memastikan negeri kaum Muslim berjalan sesuai arahan AS.
Maka tidak heran ketika masalah Palestina ini AS memberikan solusi dua negara, yang jelas akan merugikan warga Palestina.
Dan Zionis Yahudi adalah sekutu yang penting bagi AS di Timur Tengah. Zionis di pasang untuk memastikan agar kepentingan di Timur Tengah tetap terjaga.
Seperti istilah simbiosis mutualisme begitulah kedudukan antara AS dengan Yahudi. Maka membuat Yahudi merasa dilindungi eksistensi serta supremasi kekuatan militernya di Timur Tengah.
Ketika pasca serangan Zionis pada 7 Oktober 2023 lalu, membuat AS dan Zionis Yahudi saling bekerjasama untuk mempercepat upaya mendesain arah baru kawasan Timur Tengah, agar AS tetap bisa mengontrol sesuai keinginannya.
Untuk daerah Gaza, pada September 2025 lalu, AS telah mengajukan proposal untuk menangani jalur Gaza sehingga akan mengekalkan pendudukan Zionis atas Palestina. Salah satu poin pentingnya yakni usulan AS bahwa jalur Gaza harus dipimpin oleh pemerintahan teknokrat Palestina tanpa keterlibatan Hamas.
Inilah bukti nyata bahwa AS ingin mengendalikan Gaza sebagai zona ekonomi khusus secara vulgar menampakkan hasrat AS untuk mengendalikan Gaza. Dan menempatkan penguasa boneka yang siap bekerja melayani kepentingan AS.
Langkah ini kian terealisasi saat presiden AS, Donald Trump melakukan upaya normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Zionis dalam kerangka Abraham Accords demi menyusul jejak negara Timur Tengah lainnya seperti Yordania (1994) dan Mesir (1979). Melalui Abraham Accords, AS dan Zionis berharap bahwa Timur Tengah menjadi lebih stabil dari ancaman musuh-musuh politiknya terutama dari kalangan kelompok jihad Islam dan gerakan Islam ideologis.
Sudah seharusnya umat Islam menyadari bahwa saat ini mereka terkotak-kotak dalam ikatan nasionalisme malalui konsep nation state. Sehingga saat ada aktivis kemanusiaan global seperti Sumud Freedom Flotilla belum mampu menembus blokade Zionis atas Palestina.
Inilah bukti bahwa pemahaman yang ditanamkan oleh kaum kafir melalui konsep nasionalisme selama ini mampu melumpuhkan kekuatan besar umat Islam.
Padahal kita tahu, bahwa umat Islam adalah umat yang satu sebagai tabiat umat Rasulullah Muhammad saw.
Melihat hal tersebut maka sangat penting sekali bagaimana kita kaum Muslim bersatu dalam satu institusi polik umat Islam yaitu Khilafah. Dengan adanya institusi Khilafah bukan hanya pemersatu seluruh kaum muslim namun juga bisa menggerakkan, menomando umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah.
Hanya seorang Khalifah saja yang bisa mengomando umat untuk diajak berjihad, membela tanah kelahirannya. Palestina adalah tanah usriyah yaitu tanah yang dibebaskan kaum Muslim. Hingga kiamat nanti Palestina akan tetap milik kaum Muslim.
Dan di dalam Islam sangat tegas dalam memberikan legitimasi untuk melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang terlebih dahulu memeranginya. Hanya Khalifah saja yang mampu memerintahkan kaum Muslim untuk beriman dan berjuang di jalan Allah swt.
Allah SWT berfirman:
"Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian...
Bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian".
(TQS Al Baqaroh[2]: 190-191).
Begitulah pembelaan Khalifah terhadap rakyatnya, karena Khalifah adalah pemimpin kaum Muslim. Khalifah adalah penjaga bagi umat Islam. Maka ketika tidak ada Khalifah saat ini, kaum Muslim seperti ayam yang kehilangan induknya, diintimidasi, di genosida di rebut wilayahnya tanpa ada yang bisa membelanya.
Maka saat inilah tugas kita kaum Muslim untuk bersatu memujudkan berdirinya Khilafah min haj nubuah.
Waallahu a'lam bi shawab

Posting Komentar