-->

Mewarisi Jejak Kepemimpinan Rasulullah dalam Isra Mi'raj


Oleh : U Diar

Rajab adalah salah satu bulan penting yang di dalamnya terdapat peristiwa sangat krusial bagi umat Islam. Bahkan Alquran mengabadikan peristiwa tersebut dalam sebuah surat bernama Al Isra yang artinya perjalanan malam. Menceritakan tentang apa yang terjadi di fase hidup Rasulullah Muhammad, terutama berkaitan dengan ibadah inti yang diperintahkan langsung tanpa perantara malaikat dan wajib harian yang dikerjakan oleh umat Islam, yakni sholat. 

Peristiwa ini menegaskan betapa pentingnya posisi sholat bagi kaum muslimin. Sholat secara spiritual adalah sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah (lihat QS. Al-Baqarah ayat 45), sedangkan secara sosial sholat berperan penting untuk mencegah kekejian dan kemungkaran dalam berinteraksi dengan sesama manusia (lihat QS. Al-'ankabut ayat 45). Sholat sekaligus menjadi isyarat aktivitas kepemimpinan Rasulullah kepada para Nabi ketika beliau menjadi imam di masjidil Aqsha. 

Secara historis, para Nabi hidup di masa sebelum Rasulullah Muhammad ada. Jumlah mereka pun banyak, berasal dari berbagai daerah, beragam suku, yang mayoritas berbeda dengan Rasulullah. Menurut Prof. Dr. Rawwas Qol'ahji, fenomena ini sejak awal menjadi isyarat bahwa Rasulullah dengan risalahnya adalah pemimpin berbagai agama dan suku yang ada. Dan hal ini terbukti semenjak Rasulullah sampai di Madinah. 

Di Madinah, Rasulullah membangun Islam sebagai sebuah institusi independen yang jauh berbeda dengan ketika masih di Makkah. Ketika di Madinah, beliau memiliki dukungan kekuatan skala kepemimpinan dari suku Auz dan Khazraj dan suku lain di sekitarnya. Dakwah di masa itu pun meluas secara diplomatik dengan beliau mengirimkan surat ke berbagai negeri untuk mengajak masuk Islam pemimpinnya. Di Madinah pula beliau memimpin kaum muslimin menjalankan seluruh hukum Alquran dan juga menyusun strategi memperluas penyebaran dakwah Islam ke negeri-negeri tetangga. 

Sejak saat itu IsIam di Madinah menjelma menjadi agama sekaligus aturan hidup yang diterapkan, yang bergerak menjadi mesin penunjuk cahaya bagi negeri-negeri sekitar yang masih berada di kegelapan jahiliyah. Beliau meletakkan pondasi kuat kepemimpinan Islam, yang awalnya ditopang dengan spiritual sholat. Hingga 10 tahun lamanya beliau memformat kepemimpinan dan kelengkapannya di Madinah. Sepeninggalan beliau, warisan kepemimpinan Islam ini dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. 

Kepemimpinan Islam terus membersamai hidup kaum muslimin berikutnya, hingga mereka hidup dalam suasa iman yang tinggi. Keadaan demikian terus terjadi di masa kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Namun kepemimpinan ini lenyap pasca runtuhnya Utsmaniyah di tahun 1924.

Kekosongan kepemimpinan Islam ini berakibat pada perubahan drastis bagi kehidupan kaum muslimin. Tanpa hadirnya Islam yang dijadikan aturan hidup, kaum muslimin dikondisikan dalam kepemimpinan kapitalis yang banyak bertentangan dengan karakter aturan Allah. Kezaliman dan kegagalan menjamin kehidupan manusia yang layak dan bermartabat tak dapat dielakkan. Bahkan tak sedikit kaum muslimin yang pada akhirnya menjadi korban ambisi kapitalisme ini. 

Ekonomi kapitalisme memporak-porandakan kekayaan alam negeri-negeri muslim melalui neo imperialisme mereka. Kekayaan alam di negeri-negeri kaum muslimin justru tidak terasa dalam menyejahterakan penduduknya lantaran dikooptasi oleh korporasi multinasional yang bernaung dibawah payung hukum kapitalis. Kesenjangan sosial tak dapat dihindari, kemiskinan dan kekayaan segelintir orang terpisah oleh jurang perbedaan yang begitu dalam. 

Keamanan menjadi barang yang sangat mahal. Bahkan nyawa kaum muslimin pun tak begitu diperhatikan, kendati kapitalis dan pengikutnya mengklaim dirinya sebagai penjaga keamanan global. Derita kaum muslimin masih perih, Wanita dan Anak-anak Di Gaza, Di Sudan, dan lainnya masih hidup dalam kondisi memilukan. Kurang pangan, sandang, dan papan yang layak, yang padahal menurut ide HAM itu semuanya adalah hak dasar yang harus didapatkan setiap orang.

Dari sisi moral, kepemimpinan kapitalis saat ini tidak serius menjaga dan memeliharanya. Generasi disuguhi dengan berbagai media yang secara mental tidak baik bagi mereka. Dibuat begitu terobsesi pada materi duniawi melalui berbagai cara, dibuat sibuk mengejar kebahagiaan fisik, namun disisi lain mereka tidak dikenalkan dengan konsep dan konsekuensi dosa dan pahala. Akibatnya berjamuran pola hidup yang asalkan "bahagia" apapun dilakukan tanpa peduli halal haramnya, tanpa menimbang dosa tidaknya. 

Jika semuanya dibiarkan, bukan tidak mungkin kepemimpinan kapitalis akan menggerus semua jejak Islam yang ditinggalkan Rasulullah, termasuk sholat. Memang masih dikerjakan, tapi hanya oleh sebagian saja. Memang masih dikerjakan, tapi dibuat tidak berdampak dan tidak bisa memainkan fungsi spiritual maupun sosialnya. 

Untuk itu, dalam momen Rajab ini, kiranya sangat penting untuk mengingat dan menggali kembali jejak warisan Rasulullah. Bukan hanya sholat saja, melainkan juga soal kepemimpinan Islam secara global atas bangsa-bangsa yang ada. Sebab dengan adanya kepemimpinan Islam global saja, kaum muslimin akan kembali bisa didudukkan sebagai umat terbaik. Umat yang terjaga sholat nya sekaligus dihilangkan kezaliman yang ada, terjamin keamana dan moralnya, dengan aturan dari Allah yang diterapkan dalam kehidupan harian. []