-->

Momen Rajab dan Isra Mi'raj untuk Masa Depan


Oleh : Yaurinda

Rajab dan Isra' Mikraj selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat muslim, diperingati dengan istimewa. Namun harus diketahui bahwa momen ini bukan sekadar tentang perjalanan nabi Muhammad SAW ke langit dan turunnya perintah shalat. Namun ada beberapa peristiwa yang harusnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Setelah peristiwa isra' mikraj tidak lama berselang momen baiat aqabah ke dua dilaksanakan. 

Dalam momen ini menjelaskan dalam arti isra' mikraj bukan hanya sekadar momentum spiritual namun juga gerbang menuju perubahan politik umat Islam secara ideologis. Rasulullah membuktikan Islam bisa memimpin dunia dengan gebrakan politik ala Rasulullah. Namun sangat disayangkan pasca runtuhnya Khilafah, selama 105 tahun memimpin, umat Islam belum bisa menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kafah di seluruh penjuru bumi. 

Kita sebagai muslim harus memahami bahwa arti peristiwa Isra' Mi'raj bukan hanya sebagai perintah ibadah shalat yang dimaknai ibadah mahdhah semata. Padahal, shalat memiliki makna tersirat yang dipakai dalam hadits larangan memerangi Imam selama masih menegakkan Shalat, yang berarti menegakkan shalat adalah menegakkan hukum Allah. Dari sini kita dapat melihat bahwa umat belum banyak yang menyadari bahwa ditetapkannya sistem yang diterapkan hari ini yaitu sekuler demokrasi secara global adalah penentangan terhadap hukum dari langit (hukum Allah).

Saat sistem Islam ditinggalkan kehidupan manusia semakin terpuruk secara terstruktur. Ini jelas berakibat fatal untuk kaum muslimin sendiri mulai dari kemerosotan berfikir, ditutupnya pintu ijtihad membuat masalah masyarakat tidak terselesaikan, pendidikan yang mahal dan susah semakin memperburuk keadaan, belum lagi ekonomi yang kacau balau.

Inilah yang disebut bencana politik ekonomi struktural, bencana sosial kemanusiaan dan bencana alam. Runtuhnya Khilafah 105 tahun yang lalu adalah bencana besar bagi umat. Setelah peristiwa besar itu dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Maka menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia menjadi sangat penting.

Dengan demikian rajab dan Isra' Mi'raj, menjadi momen membumikan kembali hukum Allah dari langit, yaitu dengan cara mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam Kaffah. Momen ini harusnya mengingatkan kembali bahwa Islam yang memuliakan manusia dan mewujudkan kesejahteraan kepada seluruh umat. Rahmat untuk seluruh umat bukan sekedar klaim namun realita.

Penjajahan di Palestina, tempat perjalanan Isra' Mikraj Rasulullah saw yang telah jatuh di tangan entitas Yahudi harus segera dibebaskan. Demikian pula negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan kembali dalam satu kepemimpinan. Kezaliman penguasa kafir pada minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina selatan harus dihentikan. Tidak kah cukup bagi kita semua keterpurukan yang senantiasa dipertontonkan di media memantik semangat kita untuk memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam.

Mari jadikan momentum ini untuk menyeru kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan hukum langit demi kesejahteraan dan kemuliaan umat. Umat Islam, umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al Mu'tasim, cucu Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah, pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Tegaknya Khilafah Islam akan mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan umat Islam. 

Partai Islam ideologis mari terus berjuang siang dan malam, dengan sungguh-sungguh memimpin dan membimbing umat agar dapat melanjutkan kehidupan Islam. Penegakkan Khilafah adalah perjuangan pokok untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, perjuangan agung yang pasti diridhoi Allah SWT, dan tentu sangat penting dan vital untuk umat yang sedang terpuruk selama sejarah. Wanita, pendidikan, ekonomi, kesehatan, sistem politik yang telah porak poranda harus segera diatasi. Umat harus segera menyambut perjuangan menegakkan Khilafah.