105 Tahun Umat Tanpa Perisai
Oleh : Ida Nurchayati
Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang sangat penting karena terjadi berbagai peristiwa diantaranya Israk Mikraj Baginda Nabi saw. Peristiwa yang mengandung unsur politis dimana Nabi Muhammad saw menjadi imam bagi para Nabi, indikasi bahwa Umat Islam pemimpin atas umat dan bangsa lain. Sejarah mencatat Umat Islam pernah memimpin peradaban dunia selama kurang lebih 13 abad menyatukan 2/3 dunia dalam satu kepemimpinan hingga 27 Rajab 1342 H (3 Maret 1924).
Khilafah institusi pemersatu dan periayah umat. Perisai yang melindungi darah, nyawa, harta, dan kehormatan kaum muslim. Runtuhnya kekhilafahan berarti hilangnya perisai umat. Nasib umat seperti anak ayam yang kehilangan induknya, sekaligus hilangnya naungan penjaga umat. Umat menjadi santapan dan rebutan musuh-musuh Islam.
Umat Dihegemoni Barat
Musuh-musuh Islam menyadari bahwa khilafah adalah institusi pemersatu umat, perajut ukhuwah Islamiyah kaum muslim seluruh dunia dalam satu kepemimpinan. Selama kekhilafahan tegak maka umat Islam sulit dikalahkan. Untuk melemahkan kaum muslim, umat Islam dipecah menjadi 55 negara dengan sekat nasionalisme dan bendera berbeda. Sesama muslim ibarat satu tubuh tinggal cerita.
Sekian tahun Gaza merintih dan merana tanpa solusi nyata. Penguasa boneka dinegeri-negeri kaum muslim justru bergandengan tangan dengan barat menyambut normalisasi dengan zionis Israel baik secara sembunyi atau terang-terangan. Gagasan Trump, pembentukan Dewan Perwalian Gaza mereka terima dengan tangan terbuka, padahal target akhirnya adalah pelucutan Hamas. Padahal Hamas selama ini adalah benteng perlawanan terakhir bagi zionis dalam mempertahankan Gaza.
Nasib umat di belahan lain tak berbeda. Rohingya, Kashmir, Chechnya dan Turkestan Timur tak kalah memprihatinkan. Suriah terperangkap dalam jebakan Amerika. Irak dan Libya dibombardir dan diporak-porandakan AS, Yaman dan Sudan dipecah belah dan diadu domba. Negaranya dibelah, sumber daya alamnya dirampas.
Hegemoni Barat tidak sebatas pada aspek politik dan ekonomi yang karenanya menjadi sarana penjajahan gaya baru. Lebih dari itu, aspek sosial budaya hingga gaya hidup barat juga mendominasi negeri-negeri muslim. Dampaknya kerusakan moral, keretakan rumah tangga hingga tingginya angka kriminalitas.
Umat Membutuhkan Khilafah
Selain kewajiban, sebagaimana kesepakatan para imam mazhab, kecuali al A'sham yang memang tuli dari syariat, khilafah merupakan kebutuhan mendesak bagi umat. Umat membutuhkan pelindung sebagaimana Sabda Nabi SAW,
"Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung... (HR Muslim).
Imam adalah perisai yang akan melindungi harta, darah, nyawa dan kehormatan kaum muslim. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. ketika menjaga kehormatan seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya di Pasar Bani Qaunuiqa. Sebagaimana Khalifah Mu'tasim billah menjawab seruan seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya di Amuriyah. Demikian juga Shalahuddin al Ayubi dengan heroik merebut kembali tanah Palestina sebagaimana pendahulunya Umar bin Khattab merebut Al Quds dari cengkeraman tentara Romawi. Demikian pula Muhammad al Fatih Sang penakluk Konstantinopel sebagai panglima dan tentara terbaik seperti disampaikan Rasulullah saw.
Khilafah Janji Allah dan Bisyarah Rasulullah
Kembalinya kekhilafahan yang kedua suatu keniscayaan meski orang-orang kafir berusaha menghalanginya. Sebagaimana Allah berjanji dalam Surat An Nuur ayat 55,
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Khilafah juga bisyarah atau kabar gembira dari Rasulullah saw. Dalam hadis riwayat Ahmad, beliau bersabda,
"..Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaj al-Nubuwwah. Setelah itu, beliau diam".
Juga dihadis lain,
"Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?". Rasul menjawab, "Kota Heraklius dibuka lebih dahulu. Yaitu: Konstantinopel.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)
Mengembalikan Kemuliaan Umat
Umat Islam dilahirkan sebagai umat terbaik seperti firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 110. Namun, faktanya justru sebaliknya, umat terpuruk dan terhinakan. Ini terjadi karena umat Islam berpaling dari peringatan Allah, mencampakkan tatanan kehidupan Sang Penciptanya. Kemuliaan umat hanya terwujud dengan ketaatan totalitas pada Allah dengan penerapan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan, yakni dengan tegaknya Khilafah Islam.
Kembalinya khilafah bukan hal mustahil ketika tentara kaum muslim mau berlepas dari boneka penjajah barat, membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel dengan tegaknya khilafah. Kita adalah umat Muhammad, pewaris Umar bin Khattab dan Sholahuddin al Ayubi yang gagah berani. Kita generasi penerus Mu'tasim billah dan Muhammad al Fatih, sang perisai dan komandan pasukan terbaik. Kota Roma menanti. Atas ijin Allah khilafah pasti tegak bak mentari terbit dipagi hari meski orang kafir senantiasa menghalangi.
Wallahu a'lam

Posting Komentar