-->

MBG Berjalan Stunting Belum Hilang

MBG Berjalan Stunting Belum Hilang

Oleh. Susi Ummu Musa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan hampir setahun sejak awal diluncurkan yaitu pada Januari 2025. Mulanya, salah satu tujuan utama diadakannya program ini adalah untuk mengatasi persoalan gizi dan stunting di Indonesia serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, meskipun program ini berjalan di banyak daerah, dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting belum terlihat jelas pada data publik (Liputan 6, 2025).

Sebenarnya awal kemunculan program MBG ini menuai pro kontra karena dianggap terlalu repot dan akan menguntungkan pihak pihak lain namun ternyata program ini tetap terus di jalankan meski banyak polemik yang terjadi, dari keracunan massal hingga ompreng yang mengandung Babi. 
Banyak keluhan yang diterima pihak sekolah terkait MBG yang tidak layak salah satu wali murid dari Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan, mengungkapkan bahwa selama sepekan terakhir, kualitas makanan yang diterima siswa justru mengkhawatirkan.

Ia menyebut menemukan buah busuk hingga lauk belum matang pada paket makanan MBG.
“Dari seminggu ini, menunya tidak sesuai standar gizi. Ada buah busuk seperti mangga dan salak, lalu tahu baksonya ada yang belum matang,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Masih banyak daerah lain yang menerima keluhan terkait MBG dengan kasus yang sama bahkan yang paling parah keracunan massal yang terjadi dibeberapa sekolah. 
Setahun program ini terus berjalan dengan memakan anggaran triliunan namun belum bisa menuntaskan angka stunting yang ada di Indonesia. 
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia tercatat sebesar 21,5 persen. Angka ini hanya mengalami penurunan tipis, yaitu 0,1 persen dibandingkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 yang menunjukkan angka 21,6 persen. Dengan capaian tersebut, penurunan stunting di Indonesia masih jauh dari target yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 14 persen pada tahun 2024 (Tarmizi, 2024).

Langkah besar pemerintah dalam menangani stunting belum tepat sasaran namun sebaliknya menimbulkan permasalahan baru yang beredar ditengah masyarakat. 
Terkait itu MBG juga akan tetap berjalan saat anak tengah libur sekolah dilansir dari KOMPAS.TV - Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengkritik program makan bergizi gratis (MBG) yang tetap disalurkan atau berjalan, padahal sekolah saat ini sedang libur.

"Masyarakat hari ini itu bingung, bagaimana mungkin ketika anak-anak sekolah libur, kemudian MBG itu masih jalan, orang tua harus ke sekolah, guru tetap harus di sekolah, dan lain-lain," katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Jumat (26/12/2025).

Tidak hanya itu program 
MBG tidak lepas dari berbagai tantangan dan masalah. Pertama, distribusi makanan yang tidak merata di sejumlah daerah, khususnya wilayah terpencil dan tertinggal, menyebabkan ketimpangan dalam implementasi program ini. (Nafanu, 2025). Kedua, kualitas makanan yang disediakan belum sepenuhnya memenuhi standar gizi yang ditetapkan, karena minimnya pengawasan dan keterbatasan anggaran di tingkat daerah (MJ, 2025). Ketiga, masalah logistik, seperti keterlambatan pengiriman bahan pangan dan ketersediaan tenaga kerja lokal untuk mengelola dapur umum, juga menghambat kelancaran program (Hidayat, 2025). Kasus-kasus yang terjadi tersebut berpotensi menggagalkan tujuan utama MBG untuk menekan angka stunting. 

Beberapa tokoh juga turut berkomentar terkait MBG 
Dalam video yang dibagikan akun X @kegblgnunfaedh, Senin, 24 Februari 2025, UAS menyampaikan kritik terhadap konsep program tersebut Menurut UAS, tugas utama negara bukanlah memberikan makanan gratis kepada anak-anak, melainkan memastikan para orangtua memiliki pekerjaan dan pendapatan yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka. 

Tugas negara itu bukan ngasih makan anak, tugas negara itu ngasih kerja kepada bapaknya. Anaknya ya, diurus bapaknya, ngapain negara ngurus," ujar UAS dalam ceramahnya.

Maka sebenarnya apa yg dikatakan UAS adalah benar bahwa untuk memenuhi gizi anak anak dinegri ini adalah orang tua karena sebagai orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya , jika orang tua memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga maka pasti anak anak akan bahagia dan terjamin kebutuhan nya. 
Itu jika telah ada lapangan pekerjaan yang baik untuk semua masyarakat yang tinggal dinegri ini. 

Kebutuhan pokok murah, sekolah gratis, kesehatan gratis, pajak tidak dibebankan kepada rakyat maka hidup akan terasa ringan. 
Sementara jika kita bicara fakta hari ini tentu sangat jauh panggang dari api semua dibebankan kepada rakyat, berapa banyak angka pengangguran yang setiap tahun bertambah, phk massal yang terus naik lantas bagaimana mungkin angka stunting akan hilang dari peredarannya jika untuk makan saja mereka harus bersusah payah dahulu. 

Maka program MBG ini hanya membuka celah bagi para pemilik modal dilansir Muslimah News, program MBG hanyalah salah satu bentuk program populis yang sekaligus kental aroma bisnis. Melalui program berparadigma “proyek” ini, pencitraan akan terus berjalan. Sedangkan di pihak lain, ada banyak perusahaan di berbagai sektor yang sahamnya siap terdongkrak karena barang dan jasanya digunakan untuk mendukung program. Sebut saja, sektor pertanian dan perkebunan, sektor consumer goods (untuk makanan olahan, seperti bumbu dapur dan pendukungnya), sektor produk susu olahan, sektor non-cyclical (produksi beras), sektor logistik (pengiriman bahan baku makanan), dan sebagainya. Bukan rahasia kalau pemain utamanya diketahui ya itu-itu juga.

Wajar saja, sebab sistem kapitalis sekuler yang mencengkram dinegri ini masih kokoh berada di tengah tengah kaum Muslim, sebagian dari mereka terus berada digarda terdepan menjadi pembela dan pejuang, Padahal mereka sendiri telah hancur bersamanya untuk itu umat harus segera menyadari bahwa sistem ini telah rusak dan kembali kepada sistem islam. 
Dalam Islam, sumber-sumber kekayaan alam ditetapkan sebagai milik umat. Negara berkewajiban mengelolanya demi sebesar-besar kepentingan rakyat melalui mekanisme baitulmal yang dikenal kuat dan memiliki sumber-sumber pemasukan yang banyak dan berkelanjutan. Di luar hasil pengelolaan SDA, pos pemasukan negara jumlahnya sangat banyak. Misalnya, ada pos anfal, fai, ganimah, kharaj, khumus, jizyah, dll. Dari sini saja, bisa dibayangkan modal negara memakmurkan rakyat begitu melimpah ruah. Wajar jika kehidupan masyarakat dalam naungan Khilafah begitu ideal dan mengagumkan. Bahkan, kehebatannya menjadi bahan pembicaraan dan role model bagi bangsa-bangsa yang lain sepanjang masa kala itu. 

Sungguh, keadilan, kesejahteraan, dan keberkahan benar-benar nyata dalam sistem kepemimpinan Islam. Hal ini sesuai janji Allah ﷻ dalam QS Al-A’raf ayat 96 bagi mereka yang beriman;

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.”


Wallahu a'lam bissawab