-->

Kemiskinan Baru Terjadi Pasca Banjir, Bukti Penguasa Dzalim

Kemiskinan Baru Terjadi Pasca Banjir, Bukti Penguasa Dzalim

Oleh. Susi Ummu Musa

Tentunya kita sudah melihat secara jelas bagaimana vidio banjir bandang yang terjadi di 3 provinsi betapa sangat mengerikan nya banjir di akhir tahun lalu yang banyak memakan korban jiwa. 
Namun banjir kali ini disertai dengan kayu gelondongan yang begitu banyak jumlahnya hal ini yang menjadi sorotan publik terkait banjir bandang yang terjadi. 

Rumah rumah ikut hanyut terbawa arus, jembatan, listrik putus dan ekonomi lumpuh total membuat masyarakat yang terkena banjir bingung dan tidak tahu harus bagaimana setelah ini. 
Sebulan pasca banjir mereka juga tidak ingin terus terpuruk dan mengaharapkan bantuan dari para dermawan namun mereka juga sulit untuk bangkit karena akses belum juga pulih. 

Hal ini dirasakan salah satu warga yang berada di Tapanuli Utara dialah Pinahot, lelaki berusia 33 tahun, adalah petani durian di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara.

Dia dan petani lainnya nekat menerobos sungai sedalam dada orang dewasa lantaran terpaksa.
Sebab, jembatan menuju ladang mereka hanyut diterjang banjir bandang pada 25 November 2025 lalu.

Mereka nekat menerobos sungai karena belum ada perbaikan jembatan baru pasca banjir sementara ia sebagai kepala keluarga masih bertanggungjawab terhadap anak dan istrinya. 
Sebab kerusakan jembatan hingga lahan pertanian akibat banjir-longsor menyebabkan para petani durian di Desa Sibalanga, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, merugi. Penanggulangan bencana yang keliru berpotensi menciptakan kemiskinan baru, kata pengamat.(BBC NEWS) 

Ada ribuan masyarakat yang terkena banjir bandang masih berada dalam masa sulit dan harus mengulang kehidupan dari nol lagi. 
Seperti apa yang dikatakan pengamat jika penanggulangan bencana yang keliru berpotensi menciptakan kemiskinan baru. 
Benar benar sangat dzalim para penguasa yang kongkalikong dengan pengusaha telah menciptakan ruangnya sendiri demi memenuhi keinginan kelompok nya. 

Penebangan hutan yang dilakukan adalah awal dari sebuah kehancuran yang dahsyat, tidak perlu lagi mereka bersembunyi namun alamlah yang mengungkap fakta apa yang terjadi. 
Kini rakyat telah menjadi korban keserakahan para elite dibawah penguasa yang tertidur pulas karena materi lebih berharga dari sebuah nyawa.
Mereka bangkit sendiri kembali mencari letak rumah mereka hanya harapan yang entah kapan mereka wujudkan untuk mendirikan nya kembali yang terpenting mereka bisa berkumpul dengan keluarga nya. 

Di sisi lain masih ada isak tangis dan suara lirih menyebut nama anaknya yang telah hilang terbawa arus, persis didepan matanya kehilangan yang menyisakan duka masih terngiang dalam bayangannya. 
Sulit bagi mereka melupakan kejadian itu yang ada hanyalah doa dan semangat untuk melanjutkan hidup bersama segala harapan baru. 

Bukan dengan pemerintah tapi dengan diri sendiri ia akan dikatakan layak untuk menjalani hidup ketika kakinya masih kokoh untuk berdiri. 
Sebab terasa hambar jika harus berharap kepada pemerintah yang telah hilang kepercayaannya dimata rakyat. 

Wallahu a'lam bissawab