Makna dan hikmah dibalik peristiwa Isra' dan Mi'raj
Oleh : Asri
Rajab adalah bulan yang memiliki keutamaan dan keistimewaan sehingga menjadi bulan yang dinanti umat Islam untuk memperbanyak amal kebaikan dan meraih pahala.
Rajab pun menyimpan peristiwa sejarah yang sangat penting bagi umat Islam yang keluarga muslim bisa mengambil pelajaran darinya. Salah satunya adalah peristiwa Isra Mikraj yang terjadi pada tahun ke-10 kenabian.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidilharam di Makkah ke Masjidilaqsa di Al-Quds, Palestina. Sedangkan Mikraj adalah naiknya Rasulullah saw. menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak bisa dijangkau oleh semua makhluk, malaikat, jin, dan manusia. Perjalanan itu berlangsung hanya semalam. (Said Muhammad Ramadhan al-Buthy, Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyah).
Merupakan hal urgen bagi orang tua untuk selalu menyampaikan peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh Rasulullah dan umat Islam terdahulu. Ini karena dalam peristiwa penting tersebut banyak pelajaran yang bisa diambil oleh keluarga muslim, tidak hanya aspek ruhiyah, tetapi ada aspek politis di dalamnya yang akan berpengaruh besar untuk makin mengukuhkan keimanan anggota keluarga.
Peristiwa Penting Isra Mikraj
“Isra” secara bahasa berasal dari kata “sara”. Maknanya ‘perjalanan pada malam hari’. Adapun secara istilah, “Isra” adalah ‘perjalanan Rasulullah saw. bersama Malaikat Jibril dari Makkah ke Baitulmaqdis (Palestina)’.
Peristiwa agung ini diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an,
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa.” (QS Al-Isra’ [17]: 1)
“Mikraj” secara bahasa berarti ‘alat yang digunakan untuk naik’. Adapun secara istilah, “mikraj” bermakna ‘tangga khusus yang digunakan oleh Nabi saw. untuk naik dari bumi menuju tujuh lapis langit hingga ke Sidratulmuntaha’.
Ini berdasarkan firman Allah Swt. yang artinya, “Sungguh Muhammad telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan dia (Muhammad) tidak berpaling dari yang dia lihat itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS An-Najm [53]: 13—18)
Ada baiknya kita telusuri secara ringkas perjalanan penting ini. Semoga makin menguatkan keimanan keluarga muslim dan bisa mengambil banyak pelajaran.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa pada malam Isra Mikraj, Nabi saw. diberi dua bejana minuman berisi khamar dan susu. Beliau lalu meminum susu, bukan khamar. Kemudian Jibril as. berkata,
هُدِيتَ الْفِطْرَةَ -أَوْ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ- أَمَّا إِنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ
“Engkau telah diberi petunjuk sesuai fitrah atau bertindak benar selaras dengan fitrah. Sungguh, andai engkau mengambil arak, niscaya sesatlah umatmu.”
Peristiwa ini menegaskan bahwa Islam adalah agama lurus dan sesuai dengan fitrah manusia. Mulai dari akidah hingga ibadah, akhlak, muamalah hingga politik dan kenegaraan. Seluruhnya akan mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia dan menghilangkan kerusakan/mafsadat dalam kehidupan. Islam dengan seluruh syariatnya mustahil mendatangkan penderitaan bagi umat manusia.
Perjalanan Isra membawa Nabi saw. ke sejumlah tempat sebelum tiba di Al-Aqsa. Imam an-Nasa’i meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. dibawa oleh burak dan Malaikat Jibril as. ke Yatsrib (Madinah) untuk melaksanakan salat di sana. Kemudian Jibril as. berkata,
أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِطَيْبَةَ وَإِلَيْهَا الْمُهَاجَرُ
“Tahukah engkau, di mana engkau salat? Engkau salat di negeri yang baik. Ke sanalah orang-orang hendaknya pergi berhijrah.” (HR An-Nasa’i).
Setelah itu beliau juga diajak pergi ke Bukit Sinai dan melaksanakan salat. Kemudian beliau tiba di Baitulmaqdis.
Peristiwa tersebut mengandung dimensi politik bagi dakwah Islam. Tidak lama setelah peristiwa Isra Mikraj, berimanlah serombongan Suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Mereka lalu berbaiat kepada Rasulullah saw. di Aqabah. Setahun kemudian Yatsrib telah siap menjadi tempat hijrah kaum muslim dan berganti nama menjadi Madinah al-Munawarah.
Inilah Negara Islam pertama di dunia. Di sana hukum-hukum Allah Swt. diterapkan secara sempurna. Negara Islam di Madinah sekaligus menjadi titik sentral dakwah yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia; termasuk ke Bukit Sinai di Mesir, lalu ke Yerusalem di Palestina, dan seluruh negeri Syam.
Adapun peristiwa para nabi dan para rasul bermakmum kepada Rasulullah saw. dalam salat di Masjidilaqsa adalah isyarat bahwa kepemimpinan umat manusia sudah diserahkan seutuhnya kepada beliau dan kaum muslim. Tidak ada umat yang pantas memimpin dunia ini selain umat muslim. Tidak ada pula ideologi yang layak memimpin dunia dan umat manusia melainkan Islam.
Oleh karena itu, apakah pantas jika kaum muslim menundukkan diri pada kekuasaan pihak asing dan aseng yang malah menjajah mereka? Pantaskah pula kaum muslim tunduk pada kekuasaan lembaga-lembaga internasional buatan asing seperti PBB, IMF, dsb.? Apalagi pada faktanya semua lembaga internasional tersebut tidak berpihak kepada kaum muslim, justru malah banyak merugikan kaum muslim.
Demikianlah. Seharusnya Islam dan umatnya yang layak dan pantas memimpin dunia. Sebabnya, Islam lebih dari sekadar agama spiritual atau akhlak. Islam adalah ideologi paripurna yang juga mengatur politik dan kenegaraan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan Khulafaurasyidin.
Bahkan kelak kekuasaan Islam akan mengemban agama ini ke seluruh bagian dunia sehingga umat manusia berada dalam naungannya. Hal ini telah dijanjikan oleh Nabi saw.,
إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا
“Sungguh Allah telah mendekatkan bumi ini untukku. Lalu aku melihat bagian timur dan baratnya. Sungguh, kekuasaan umatku akan mencapai seluruh wilayah yang diperlihatkan kepadaku tersebut.”(HR Abu Dawud).Bu
Akan tetapi, kepemimpinan ini tidak mungkin terwujud melainkan dengan institusi Khilafah Islamiah yang memang telah diperintahkan oleh agama dan disepakati kewajibannya oleh para ulama.

Posting Komentar