-->

Kekerasan Remaja Dampak Normalisasi Gaul Bebas

Oleh : Siti Khairunnisa

Berita viral di media sosial yang sudah tidak asing dan semua yang bermain sosial media pasti akan menemukan berita yang membuat geger kepala. Tidak disangka, kampus ataupun sekolah tidak lagi menjadi wadah yang aman bagi setiap pelajar. Terjadi kasus pembacokan di UIN Sultan Syarif Kasim Riau saat mahasiswi sedang menunggu sidang proposal. Pelaku sesama mahasiswa menyerang dengan senjata tajam hingga korban terluka dan dirawat.

Dengan motif yang diduga dikarenakan persoalan pribadi yang terjadi diantara mereka. Dan pembacokan ini terjadi di ruang lingkup kampus yang seharusnya aman dan nyaman malah justru menjadi tempat yang menakutkan. Lukanya mungkin hanya dirasakan oleh pelaku dan korban tetapi dampaknya diterima dan dirasakan oelh semua yang mendengar dan melihat pemberitaannya. Kasatreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian mengungkapkan korban dan pelaku saling mengenal satu sama lain. “Antara korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Jadi pelaku ini dengan sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban,” ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, dilansir detikSumut, Jumat (27/2/26).

Melihat pemberitaan ini menjadi suatu keresahan yang mendalam bagi penulis sendiri. Dikarenakan masalah ini bukan masalah yang baru sebenarnya tetapi menciptakan luka yang begitu mendalam. Hal yang harus kita soroti adalah tentang perilaku pemuda yang sudah terbiasa dengan aksi kekerasan jika telah menyenggol emosionalnya. Dan menjadi hal yang dikategorikan wajar. Seperti, tanggapan netizen di khalayak media sosial sudah terbentuk statment “ini memang salah si perempuan wajar kalau dengan sikap yang demikian dia dibacok”. 

Dan pemberitaan seperti ini ternyata hal yang biasa karena ruang pendidikan tidak ada yang menjamin pembentukan kepribadian generasi. Ya, namanya juga pendidikan sekuler yang digunakan otomatis akan mencetak generasi yang memiliki pola fikir sekuler yang senantiasa menuntut kebebasan. Dan ujung dari bebas adalah kehancuran. Sekuler membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri setiap pemuda tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Akhirnya, terbentuklah sikap normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya dalam bentuk pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan dan lain-lain). 

Tidak heran jika ujungnya sampai pada pembunuhan karena norma-norma agama telah dihilangkan dalam diri setiap orang yang hidup dalam sistem rusak sekuler ini. Nyatanya, memang tujuan sekuler adalah memisahkan agama dari kehidupan ini tetapi makin kesini mulai terlihat tujuan yang sebenarnya adalah menghilangkan agama dari kehidupan. Dan negara dengan sistem kapitalis yang berasaskan pada sekulerisme ini tidak memprioritaskan dalam pembinaan generasi sekalipun ada pembentukan generasi yang ada hanya berorientasi pada materi. Sudah saatnya semua orang peduli dan sadar akan kondisi saat ini, yang sangat rusak, untuk beralih kepada aturan yang akan membangun generasi gemilang.

Maka, yang kita butuhkan adalah sistem pendidikan islam dibangun diatas dasar akidah karena hanya pendidikan yang membentuk pola pikir dan pola sikap sesuai dengan nilai syariat. Dan generasi akan dididik untuk memiliki kesadaran pada syariat sehingga tercipta masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan sehingga tercipta suasana yang mendukung pada ketaatan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang diluar batas syariat.

Dengan demikian, kita membutuhkan sebuah wadah besar yang membentuk lingkungan aman dan nyaman dimanapun kita berada yaitu dalam naungan daulah khilafah sehingga aturan dan sanksi yang diberikan hadir memberikan efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan pada diri setiap masyarakat. Sesuai firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ یَاْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰۤی اَهْلِهَا ۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَیْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا یَعِظُكُمْ بِهٖ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِیْعًاۢ بَصِیْرًا

"Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruhmu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." 
Wallahu A’lam bishawab.