-->

Kerusakan Global Akibat Sekulerisme Kapitalisme


Oleh : Tri S, S.Si

Gencatan senjata yang sudah disetujui Israel ternyata tak menjadikan mereka mengurangi penderitaan yang diberikan kepada Palestina. Kantor media pusat (GMO) menyatakan, kondisi di Gaza sebagai kasus “kematian perlahan,” Israel telah melakukan 969 pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza sejak mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, menewaskan 418 warga Palestina dan melukai 1.141 lainnya. Selama 80 hari terakhir, Israel melakukan penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan militer ke daerah pemukiman, pengeboman rumah, penghancuran skala besar, dan penangkapan ilegal (www.minanews.com, 29/12/25).

Berbagai penolakan dari berbagai pihak atas apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina juga dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina yang mengutuk keputusan sewenang-wenang Israel, sebab membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Jalur Gaza (www.antaranews.com, 31/12/25).

Meloncat ke Indonesia, di akhir 2025, Indonesia mengalami penderitaan karena ulah tangan manusia, yakni para elite pengusaha dan oligarki yang melakukan alih fungsi lahan secara sembrono hingga menyebabkan banjir dan longsor di Sumatra. Korban yang terdampak bahkan sempat mengalami kelaparan dan terhalangnya pengiriman bantuan, sebab akses jalan yang rusak. Bencana yang dialami di Sumatra ternyata mengingatkan pada sebuah negeri di tanah yang diberkahi yaitu Palestina.

Bedanya, yang dialami umat Islam di Sumatra adalah bencana akibat kerakusan para pengkhianat negeri. Sedangkan yang terjadi di Palestina, karena seluruh penguasa Muslim memilih bergandengan tangan dengan kaum penjajah, yakni Amerika dan anaknya Israel untuk menguasai penuh tanah Palestina. Hingga saat ini, penduduk negeri para nabi itu masih mengalami penderitaan, sebab penjajah Israel laknatullah masih melakukan penyerangan dan pencaplokan wilayah Palestina. Bahkan, dengan congkaknya, rezim Israel melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Hal itu menunjukan, mereka tak akan pernah berhenti mewujudkan cita-citanya mendirikan Israel Raya dan menguasai politik-ekonomi dunia dengan berbagai cara.

Luka Palestina semakin juga diperparah oleh Amerika yang membuat berbagai tawaran penyelesaian untuk mengakhiri perang antara Israel dan Palestina, namun justru solusi yang diberikan malah memposisikan Palestina semakin jatuh dalam jurang penderitaan yang semakin dalam. Apa yang dilakukan oleh Israel dan Amerika seharusnya membuat seluruh penguasa Muslim dan umat Islam sadar, kaum Yahudi sangatlah tidak pantas dijadikan wali atau teman dekat. 

Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 28 yang artinya, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

Maka dari itu, membiarkan Israel tetap eksis, sama dengan membiarkan Palestina untuk menderita selamanya. Mengutuk dan memohon kebaikan Israel membuka bantuan kemanusiaan juga tak cukup untuk membebaskan Palestina dari penderitaan.

Begitu pun dengan penderitaan yang terjadi di Sumatra, bagaikan sinetron yang akan terus memunculkan episode baru akibat sistem sekular kapitalisme yang memisahkan agama dengan kehidupan dan menjadikan keuntungan materi di atas segalanya. Sistem ini menjerumuskan manusia terus terperdaya dalam hawa nafsu dan prasangka hingga semakin jauh dengan pemahaman Islam yang benar dan aturan Sang Pencipta Manusia Allah SWT. Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh kaum Muslim bersatu dan bangkit menghentikan pengkhianatan para penguasa Muslim dan mengajak untuk kembali pada aturan yang sempurna, yakni aturan Islam.

Islam bukanlah sekadar agama, namun ideologi yang di dalamnya memiliki berbagai peraturan khas yang bersumber dari wahyu berupa Al-Qur'an dan As-Sunah. Islam memiliki sistem pemerintahan yang dulu pernah diterapkan setelah Rasulullah SAW wafat yaitu sistem kepemimpinan Islam, khilafah. Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Ketahuilah pula bahwa para sahabat, semoga Allah meridhoi mereka, telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting saat mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu, dengan menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah SAW.”

Empat Ulama mahzab yang terdiri dari Imam Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali juga tidak pernah berselisih pendapat perihal kewajiban mengangkatnya seorang imam atau khalifah serta menjadikan sebagai Tajul Furud (nahkoda kewajiban). Khalifah adalah pemimpin dan pemersatu seluruh umat Islam yang memiliki tugas utama yaitu sebagai riayah suunil ummah (pengatur kehidupan umat) dan berperan penting dalam menyebarkan Islam ke seluruh penjuru bumi dengan cara dakwah Islam dan jihad.

Palestina adalah tanah milik kaum Muslimin yang telah dibebaskan di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Untuk itulah, dalam mengakhiri penderitaan yang dialami oleh seluruh kaum Muslim dunia dari Sumatra hingga Palestina, hanya bisa dengan cara menegakkan khilafah. Dengan kembalinya khilafah di tengah-tengah umat, maka khalifah akan menjadi seorang junnah (perisai) yang mampu melindungi kaum Muslimin dan memiliki wewenang menerapkan syari'at Islam secara Kaffah. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya” (HR Bukhari Muslim).

Kesempurnaan syari'at Islam melalui tegaknya khilafah, meniscayakan hadirnya kembali kemuliaan dan kehormatan Islam dan umatnya, sebagaimana dulu yang pernah terjadi di masa kekhalifahan Islam. Saat itu, Islam terbukti mampu menghadirkan sosok pemimpin adil dan takut kepada Allah SWT, sehingga semua aturan yang terpancar di dalamnya adalah cahaya Islam yang penuh dengan keberkahan.

Dengan demikian, hanya khilafah yang dapat memberikan ketenangan, keamanan, kesejahteraan untuk seluruh masyarakat juga alam semesta. Itu semua hanya bisa terwujud, ketika khilafah sudah kembali tegak. Karenanya, marilah kita berjuang untuk menegakkan kembali dan memohon pertolongan kepada Allah SWT juga mendakwahkan Islam sebagai ideologi agar seluruh pemimpin Islam dan kaum Muslimin mampu bersatu memperjuangkan kembalinya Islam kaffah.