-->

Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat

Oleh : Tika Syahida, Penulis Ideologis Maros

Jakarta, dominasi Amerika Serikat (AS) atas tatanan dunia dinilai semakin menguat melalui hegemoni politik, ekonomi, militer, dan budaya. Di balik jargon demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia, banyak pengamat menilai bahwa ideologi kapitalisme yang dipimpin AS telah menciptakan ketimpangan global, menjerat negara-negara lemah dalam ketergantungan.

Al Jazeera menegaskan bahwa sistem ekonomi global saat ini telah menciptakan ketimpangan ekologis, di mana kekayaan terkonsentrasi pada segelintir elite, sedangkan kerusakan lingkungan dan penderitaan sosial diwariskan kepada generasi berikutnya.

Fenomena banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah, Sumatera, yang banyak jembatan dan rumah hanyut, menunjukkan pola kerusakan yang serupa. ini dipicu oleh tiga aktivitas utama: perkebunan sawit, pertambangan, dan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Selain krisis ekologis, dinamika politik internasional di awal 2026 semakin memanas. Amerika Serikat telah melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya pada 3 Januari 2026. (Wikipedia)

Dalam praktiknya, Amerika kerap bertindak sepihak tanpa memperhatikan kedaulatan negara lain. Invasi militer, sanksi ekonomi, dukungan terhadap rezim represif, serta tekanan politik menjadi instrumen rutin untuk menjaga kepentingannya. Ironisnya, nilai-nilai yang mereka gembar-gemborkan HAM, demokrasi, dan kebebasan sering kali dilanggar oleh tangan mereka sendiri. Inilah standar ganda yang menyingkap wajah asli kekuasaan global Amerika.

Ideologi kapitalis sekuler yg dibawa Amerika telah merusak umat dari berbagai sisi. Dalam akidah, Islam direduksi menjadi urusan ibadah ritual semata, sementara hukum Allah disingkirkan dari pengaturan kehidupan. Dalam muamalah dan akhlak, standar halal-haram digantikan oleh asas manfaat dan keuntungan, sehingga praktik riba, penipuan, eksploitasi, serta gaya hidup individualistis dianggap wajar. Pada ekonomi, kekayaan terpusat pada segelintir elite, ketimpangan dan kemiskinan meluas, prinsip tersebut bertentangan dengan keadilan Islam.

Dalam politik, kedaulatan hukum Allah diganti oleh hukum buatan manusia yang tunduk pada kepentingan oligarki dan kekuatan global seperti Amerika. Secara sosial budaya, nilai-nilai Islam terkikis oleh liberalisme, hedonisme, dan relativisme moral. Sementara dalam pendidikan, tujuan pembentukan kepribadian Islam tergeser oleh orientasi pasar kerja semata, bukan pembinaan iman dan akhlak.

Akibatnya, umat Islam tercerabut dari jati dirinya dan kehilangan arah hidup yang lurus sesuai syariat.

Para pemimpin global saat ini bukan pengurus (ra’in), melainkan pelayan kepentingan korporasi dan oligarki global. Akibatnya, hutan dibabat demi industri, laut dirusak demi energi dan tambang, tanah dieksploitasi tanpa batas, serta emisi dan limbah dibiarkan selama “menguntungkan”. Industri kotor dipindahkan ke negara miskin, dan proyek-proyek ekstraktif dipaksakan melalui utang, tekanan politik, serta ancaman militer.

Realitas tersebut menegaskan kegagalan kepemimpinan global berbasis kapitalisme sekuler. Sangat berbeda dengan kepemimpinan dalam Islam yang berlandaskan amanah dan kemaslahatan seluruh manusia.

Kepemimpinan dalam islam

Kapitalisme sekuler bukan sekadar sistem ekonomi, melainkan ideologi yang merusak totalitas kehidupan umat Islam. Solusi mendasarnya bukan tambal sulam, tetapi kembali kepada Islam kaffah menjadikan akidah Islam sebagai asas dalam seluruh aspek kehidupan, baik individu, masyarakat, maupun negara.

Islam memiliki modal kebangkitan yang nyata, yakni mabda’ Islam itu sendiri.
Islam memiliki konsep kepemimpinan politik (Sistem pemerintahan islam), sistem ekonomi yang adil, politik luar negeri yang menjaga kehormatan umat, serta mekanisme amar makruf nahi mungkar yang hidup.

Dengan kepemimpinan Islam, umat tidak lagi tercerai-berai dalam batas negara nasional yang rapuh, tetapi bersatu dalam satu visi dan kekuatan.
Daulah Islam akan menjaga darah, harta, dan kehormatan seluruh manusia, menghapus penjajahan dan dominasi negara adidaya, mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan rakyat, bukan korporasi, menegakkan keadilan hukum tanpa pandang bulu, menjaga keseimbangan alam sebagai amanah, bukan objek eksploitasi

Karena syariat Allah bersifat adil dan menjaga kemaslahatan, sistem islam menjadi rahmat bagi seluruh manusia, baik Muslim maupun non-Muslim, serta mencegah berbagai kerusakan dan bencana yang lahir dari keserakahan manusia.

Wallahu a'lam bishawab