-->

Kehilangan yang Tidak akan Tergantikan


Oleh : Meidy Mahdavikia

Bayangkan seorang anak kecil yang terbangun dari tidurnya bukan karena sentuhan lembut ibunya, melainkan karena dinginnya air bah yang menerjang rumah. Tawa riang ketika bermain sekejap berubah menjadi tangis yang menyayat hati. Banjir bandang di Sumatra ini tidak hanya meninggalkan lumpur dan puing bangunan, tetapi juga luka mendalam bagi anak-anak yang kini menjadi yatim piatu. Sebagaimana dikutip dari BBCIndonesia.com (7/1/2026), banyak nyawa melayang dan tempat tinggal hancur. Bagi anak-anak ini, kehilangan orang tua berarti kehilangan segalanya, termasuk hak mereka untuk dicintai dan dilindungi seolah hanyut terbawa arus.

Anak-anak yang kehilangan pegangan hidup kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Mereka berisiko telantar tanpa pendidikan dan akses kesehatan yang layak karena sistem perlindungan anak sering terjebak aturan yang rumit. Sangat menyedihkan melihat mereka hanya tercatat sebagai angka dalam laporan bencana, tanpa pelukan atau perhatian nyata dari pihak yang seharusnya menjaga mereka. Trauma yang mereka alami bisa membekas seumur hidup jika tidak ditangani dengan penuh kemanusiaan.

Kenyataan ini menunjukkan rapuhnya sistem yang ada dalam memberikan perlindungan sejati. Negara yang seharusnya hadir sebagai ayah bagi rakyatnya justru tampak abai. Sebagaimana diulas situs FH.Untar.ac.id (9/1/2026), pemerintah belum memiliki rencana atau komitmen khusus yang menyentuh nasib anak-anak yatim piatu. Dalam kehidupan yang serba materi, urusan politik dan kepentingan ekonomi sering diutamakan daripada tangis anak-anak tak berdosa. Tanpa jaminan pengasuhan yang jelas, mereka harus berjuang sendiri meniti ketidakpastian di tengah luka yang masih basah.

Hati-Hati yang Terluka, Tak Ada yang Memeluk

Anak-anak yatim piatu di Sumatra bukan hanya kehilangan rumah dan orang tua, tapi juga pelukan hangat yang seharusnya menemani mereka setiap hari. Minimnya perhatian terhadap anak-anak yatim piatu di Sumatra tidak lepas dari cara pandang sistem yang memisahkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sistem yang hanya menilai untung rugi materi, negara sering sibuk dengan administrasi dan pembangunan fisik, sementara anak-anak ini duduk sendiri menatap luka yang tak terlihat. Mereka menjadi korban ganda, diterjang bencana alam sekaligus abainya sistem terhadap kemanusiaan.

Perlindungan anak sering diserahkan pada pihak swasta atau lembaga amal tanpa jaminan nyata dari negara. Padahal merawat anak yatim adalah amanah yang sangat mulia. Tanpa kehadiran negara, mereka harus menghadapi kerasnya dunia tanpa pelindung yang pasti, sementara jalur perwalian yang tidak jelas membuat hak-hak dasar mereka sering terabaikan dan mereka rentan dieksploitasi.

Ketiadaan rasa kasih sayang dalam pengelolaan negara membuat kebijakan yang lahir terasa kaku dan tak menyentuh akar masalah. Mereka butuh lebih dari sekedar nasi bungkus atau tenda darurat sementara. Anak-anak ini membutuhkan kepastian tentang siapa yang akan menyekolahkan, merawat, dan membimbing mereka tumbuh dewasa dengan penuh perhatian. Selama sistem masih memandang rakyat sebagai beban ekonomi, bukan amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, nasib anak-anak yatim akan terus terabaikan, menunggu tangan yang hadir dengan kasih sayang nyata untuk menghapus luka yang mereka bawa.

Permata Anak Yatim dalam Dekapan Allah SWT

Islam menawarkan solusi yang indah dan penuh rahmat dalam memuliakan anak-anak yatim piatu. Dalam pandangan Islam, pengurusan atau riayah terhadap anak-anak ini adalah kewajiban suci yang harus dipenuhi oleh negara dengan penuh kesungguhan. Negara yang berlandaskan syariat Islam akan memastikan bahwa tidak ada satu pun anak korban bencana yang telantar. Jalur perwalian yang jelas disiapkan agar anak-anak yang masih memiliki kerabat dapat tetap tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dikenal. Kasih sayang dari keluarga dekat menjadi obat terbaik bagi trauma yang mereka alami.

Bagi anak-anak yang benar-benar kehilangan seluruh anggota keluarga, negara melalui Baitulmal menanggung penuh seluruh kebutuhan hidup mereka. Mulai dari tempat tinggal yang nyaman, pendidikan yang berkualitas, hingga layanan kesehatan terbaik harus tersedia tanpa mereka memikirkan biayanya. Pengaturan ini bukan sekadar bantuan sosial biasa, melainkan pelaksanaan kewajiban agama untuk memastikan setiap anak yatim mendapatkan haknya secara adil. Sebagaimana dilansir dari Sumbar.Antaranews.com (8/1/2026), lembaga khusus yang fokus pada perlindungan anak yatim korban bencana menjadi wadah penting agar mereka tetap memiliki masa depan yang cerah.

Dengan berlandaskan syariat Islam, negara tidak hanya hadir sebagai pengatur semata, tapi sebagai pelindung yang hangat, selalu menjaga dan merawat rakyatnya dengan penuh perhatian. Anak-anak yatim piatu dipandang sebagai permata yang harus dijaga agar kelak menjadi generasi yang kuat dan mandiri. Dengan kasih sayang yang lahir karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, setiap air mata anak-anak Sumatra dibasuh dengan perhatian dan cinta yang tulus, sehingga mereka merasa dihargai dan disayangi. Inilah jalan keluar hakiki agar kemuliaan anak-anak yatim tetap terjaga dan keberkahan senantiasa menaungi kita.

Wallahu ‘alam