-->

IRONIS, NASIB GURU DALAM SISTEM KAPITALIS


Oleh : Hotmalailatur romadani simbolon, S.Pd

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak guru yang harus berurusan dengan hukum. Ironisnya, sebagian besar kasus itu justru bermula dari aktivitas mereka ketika menjalankan profesinya, profesi yang sejak dulu kita sebut mulia karena mengemban tugas mencerdaskan bangsa. Persoalan ini menuntut solusi yang tidak hanya legal, tetapi juga manusiawi, termasuk melalui penerapan restorative justice bagi kasus-kasus tertentu agar tidak menimbulkan luka sosial yang berkepanjangan bagi keluarga guru maupun komunitas pendidik lainnya.Laporan-laporan yang menyeret guru ke ranah pidana memang beragam. Namun pada pokoknya, ada dua jenis laporan yang paling sering muncul: dugaan kekerasan terhadap siswa dan dugaan pelecehan seksual. seperti kasus yang baru saja terjadi di SMK Negri 3 Tanjung Jabung Timur. Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra adu jotos dengan siswanya hingga video yang memuat aksi mereka viral di media sosial. Tak berhenti di situ, Agus Saputra melaporkan adu jotos itu ke Polda Jambi sebagai penganiayaan.

Peristiwa keributan hingga adu jotos itu terjadi di SMK 3 Negeri Tanjung Jabung Timur, dari video yang beredar selama 58 detik, awalnya agus sempat menyampaikan perkataan lewat mikrofon. Belakangan diketahui bahwa perkataan Agus diduga merupakan hinaan yang menyulut amarah sejumlah siswa hingga adu jotos terjadi.Pihak guru yang menyaksikan kemudian melerai perkelahian itu dengan membawa Agus masuk ke ruangan. Dinas Pendidikan Provinsi Jambi saat ini telah mendalami informasi soal insiden keributan antara guru dan murid.

Agus mengatakan kejadian itu terjadi pada Selasa (13/1) pagi, saat kegiatan belajar berlangsung. Ketika itu, kata Agus, dirinya sedang berjalan di depan kelas dan mendengar salah satunya siswanya menegurnya dengan kata-kata tidak pantas.Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, dilansir detiksumbagsel 05/01/2026).

Guru memang memegang peran sentral dalam dunia pendidikan sebagai ujung tombak pembentukan generasi bangsa. Namun, di balik tanggung jawab yang besar, guru sering menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi efektivitas pengajaran dan kesejahteraan mereka sendiri. Mulai dari beban administratif yang tinggi, tuntutan kurikulum, pembentukan moral hingga masalah kesejahteraan, tantangan ini perlu mendapat perhatian serius untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik.

Guru tidak lagi dipandang sebagai figur otoritatif, teguran disiplin dianggap pelanggaran hak anak, membuat guru ragu bersikap tegas.Orang tua merasa punya hak melampiaskan emosi, sementara guru bekerja di bawah bayang-bayang ketakutan akan laporan publik.Terkadang guru melakukan kekerasan fisik (tampar, pukul) atau verbal akibat frustrasi menghadapi siswa yang bermasalah atau tidak disiplin.Akibat perilaku siswa yang tidak terkendali memicu reaksi dari guru atau orang tua melaporkan balik guru. Kasus seperti guru honorer di Jambi menunjukkan guru bisa menjadi tersangka meski menjalankan tugas, membuat profesi guru rentan kriminalisasi. Kegagalan membangun ekosistem sekolah aman dan harmonis, serta lemahnya Satgas Pencegahan Kekerasan. Mengakibatkan Guru takut menegakkan aturan, murid kehilangan bimbingan moral.Guru takut bertindak, siswa trauma, hubungan sosial rusak.Sekolah menjadi arena konflik, bukan tempat belajar.inilah salah satu contoh gagalnya negara kapitalis menyelesaikan konflik yang terjadi di dunia pendidikan.seharusnya Negara wajib menjamin sekolah sebagai tempat aman bagi anak-anak. Namun negara juga berkewajiban memberikan perlindungan yang adil bagi guru agar tidak mudah dikriminalisasi. Sekolah, orang tua, komite sekolah, dan pemerintah harus berada dalam satu frekuensi: menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan bermartabat.Guru yang berintegritas harus dilindungi. Guru yang melanggar harus diproses. Dan guru yang mendidik dengan benar harus diberi ruang aman untuk bekerja tanpa rasa takut.

Padahal dalam Islam Guru wajib dihormati karena mereka adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang mendidik, membimbing, dan membentuk karakter serta pola pikir murid, sehingga menjadi kunci sukses dan keberkahan ilmu. Menghormati guru menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi guru memberikan yang terbaik, dan mempermudah murid menyerap ilmu. Menghormati guru, baik saat di sekolah maupun di luar, merupakan wujud adab yang tinggi demi kemajuan pendidikan dan kesuksesan diri sendiri.
Wallahu a'lam bishowab