-->

Judol dan pinjol Mencengkram Ruang Digital, Mencekam Generasi

Oleh : Ika Fibriani, S.Pd.I 
Pendidik dan aktivis Islam
                                      Dalam era digitalisasi seperti saat ini, Masyarakat dihadapkan dengan dua nama yang saling berkaitan. Seperti dua mata uang yang selalu membuat manusia dibuat gila olehnya, dibuat stress bahkan melakukan tindak kriminal sekalipun. Judol dibuat menarik sedemikian rupa di berbagai platform yang menawarkan kekayaan semu secara instan, namun akan membuat pemainnya kalah hingga merasa kecanduan ingin main terus. Pinjol hadir bagi para pemain yang kalah untuk menawarkan pinjaman. Namun konsekuensinya adalah saat meminjam dalam jumlah kecil, tapi bunga yang harus dibayarkan berkali-kali lipat bahkan harus mengembalikan dalam hitungan hari. 
                              
Hal ini membuat Masyarakat, baik tua atau muda mudah terjerat pinjol dan judol. Baik dia seorang pengusaha, pedagang, karyawan bahkan seorang pelajar sekalipun. Seorang yang terjerat pinjol akan depresi hingga melakukan bunuh diri karena selalu dikejar-kejar oleh debt collector yang akan meneror menyebarkan data pribadinya. Ini membuat banyak orang terseret masalah yang tidak dapat diselesaikan, karena akan sulit sekali keluar dari jeratan setan tersebut.
                                      Karena banyaknya kalangan pengguna ruang digital, sehingga hal ini dimanfaatkan fitur atau golongan yang tidak bertanggung jawab masuk diberbagai flatform digital. Walau pinjol illegal dan tidak diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tapi hal ini masih banyak berafiliasi kepada beberapa nomor rekening di Bank-Bank komersil. 
                                    Fakta yang Mencengangkan dari PPATK
                                
Data kuartal I-2025, yang dikumpulkan oleh PPATK menunjukkan jumlah deposit yang dilakukan oleh pemain berusia 10-16 Tahun lebih dari Rp2,2 miliar. Usia 17-19 tahun mencapai Rp47,9 miliar dan deposit yang tertinggi usia antara 31-40 Tahun mencapai Rp2,5 triliun. 71,6 persen masyarakat yang melakukan judi online berpenghasilan di bawah Rp5 juta dan memiliki pinjaman di luar pinjaman perbankan, koperasi dan kartu kredit. Terbukti, pada 2023 dari total 3,7 juta pemain, 2,4 juta di antaranya memiliki pinjaman tersebut, angka itu naik pada tahun 2024 menjadi 8,8 juta pemain dengan 3,8 juta diantaranya memiliki pinjaman. ( https://www.menpan.go.id/ 04 Juni 2025 ).
                                        Hal ini membuktikan bahwa anak usia 10 tahun sudah terbiasa melakukan judol dan pinjol karena mereka difasilitasi HP oleh orang tuanya. Sistem belajar online saat Covid-16 juga memicu terjadinya anak-anak makin sering menggunakan HP. Dengan kurangnya kontrol orang tua serta minim wawasan literasi digital terhadap game yang dikira game lokal, ternyata yang dimainkan adalah game internasional, maka terjebaklah dalam judi online. Karena game kebanyakan mudah diakses lewat gogoel, App store. Rentan usia < 18 tahun (anak-anak & remaja) adalah penyumbang terbesar pengguna internet.  
                                        Sistem kapitalisme yang selalu bersandar pada keuntungan materi akan selalu membuat inovasi baru, contohnya saja judol, negara Asia pembuat game on line terbesar dengan berbagai game ternamanya ( PUBG Mobile, Genshin Impact, Free Fire, Arena of Valor dan lain-lain) berhasil merauk keuntungan besar serta memikat para pemain dari negara manapun. Para oligarki ini seakan tidak perduli akan dampak negatif yang ditimbulkan dari game tersebut. 
                                        Negara dalam sistem sekuler juga tidak akan kuat dan tidak adanya kemauan untuk menutup akses game global yang masuk ke dalam negeri. Karena negeri ini juga pengguna terbesar gogoel, App store yang menguasai pasar internasional. Jika akses game tersebut ditutup, artinya negara Asia akan menutup akses gogoel dan hal ini harus siap ada sanksi ekonomi & tekanan diplomatic. Upaya yang hanya bisa dilkaukan adalah memblokir sementara lalu dibuka kembali. Jika orang yang mengetahui hal tersebut, pasti akan membobol lewat VPN, karena lemahnya negara dan tidak berdaulat terhadap persaingan ekonomi global.
                                      Solusi Preventif terhadap Judol dan Pinjol
                                      Sudah jelas sekali judi dan riba hukumnya haram.
ayat suci Al-Quran ayat QS. Al-Mā’idah: 90 menjelasakan tentang judi

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan undian nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.”
                                        QS. Al-Baqarah: 275 menjelaskan tentang riba

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya:
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
                                      Islam mengharamkan judi dan riba bagi siapa saja, karena banyak menimbulkan kerusakan seperti hancurnya bangunan rumah tangga, pencurian, permusushan antar sesama, dan lalai dalam beribadah. Dalam Islampun orang yang melakukan judi akan mendapatkan hukuman yang serupa dengan hukuman peminum khamar yaitu cambukan.                                                               Negara sebagai pelindung dan pelayan umat, maka harus benar-benar melindungi rakyatnya, termasuk dari judol dan pinjol. Negara akan menutup rapat-rapat celah terjadinya judol dan pinjol menguasai platform online negeri Islam. Negara Islam akan berdaulat dan mempunyai kekuatan ekonomi yang tidak akan bergantung kepada negara Asing yang akan menyetirnya. Karena Negara Islam akan berusaha membuat fasilitas internet sendiri.
                             
Negara Islam akan selalu memberi pemahaman kepada masyarakat dan generasi bahwa judol dan pinjol hukumnya haram. Siapa saja yang melakukan aksi judol dan pinjol serta pemainnya, maka akan mendapatkan jinayat tegas berupa cambuk. Negara juga membina masyarakat tentang syariat Islam, Menjamin pekerjaan kepada para ayah agar ia bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dengan hal itu, Masyarakat tidak akan mengambil jalan singkat lagi untuk menjadi kaya.