-->

Gen Z di Persimpangan Layar, Antara Potensi Perubahan dan Jerat Ideologi Digital


Oleh : Henise

Era digital telah menjadi ruang hidup baru yang tak terpisahkan dari generasi hari ini. Bagi Gen Z, dunia maya bukan sekadar alat bantu, tetapi medan utama belajar, berinteraksi, berekspresi, bahkan bergerak. Di satu sisi, era ini menghadirkan kemudahan luar biasa. Di sisi lain, pengaruh buruknya juga semakin nyata dan sistemik. Di sinilah Gen Z berada di persimpangan, menjadi agen perubahan yang sadar arah, atau sekadar arus yang digerakkan algoritma.

Fakta: Generasi Digital dengan Dua Wajah

Tak dapat dimungkiri, era digital membawa banyak kemudahan. Informasi dapat diakses cepat, jejaring terbuka luas, dan ruang ekspresi tersedia tanpa batas. Gen Z tumbuh sebagai digital native yang luwes memanfaatkan teknologi. Mereka cepat belajar, responsif terhadap isu global dan lokal, serta mampu menginisiasi gerakan melalui media sosial.

Namun, di saat yang sama, Gen Z kerap dipandang sebagai generasi rapuh. Tekanan media sosial memicu problem mental, kecemasan, krisis identitas, dan kelelahan eksistensial. Nilai-nilai hidup pun mengalami pergeseran. Banyak dari mereka mempertanyakan agama sebagai sesuatu yang “tidak otentik”, sementara nilai inklusif-progresif dianggap lebih relevan. Cara pandang ini sering kali berbeda tajam dengan generasi sebelumnya.

Meski demikian, potensi Gen Z tidak bisa diremehkan. Aktivisme media sosial menunjukkan bahwa mereka memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan dan ketimpangan. Isu lingkungan, kemanusiaan, hingga politik kerap mereka angkat. Namun, pertanyaannya ke mana arah semua potensi ini digerakkan?

Kritik Ideologis: Ruang Digital yang Tidak Pernah Netral

Masalah mendasarnya terletak pada satu hal penting, ruang digital tidak pernah netral. Di balik kemudahan dan kebebasan berekspresi, terdapat hegemoni nilai sekuler-kapitalistik yang menguasai platform digital. Algoritma bekerja bukan untuk membentuk manusia yang berkarakter, melainkan untuk menjaga atensi, emosi, dan keterlibatan demi keuntungan.

Nilai-nilai ini membentuk pola pikir Gen Z secara halus namun konsisten. Aktivisme pun kerap menjadi pragmatis, yang penting viral, mendapat validasi, dan diakui. Banyak gerakan berhenti pada simbol, tagar, atau opini sesaat tanpa menyentuh akar masalah. Kritik dilontarkan, tetapi solusi sering kali dangkal dan tidak menyentuh sistem.

Karakteristik digital native memperkuat kondisi ini. Ketergantungan pada respons cepat membuat refleksi mendalam jarang terjadi. Naluri mempertahankan eksistensi dan pengakuan diri diarahkan pada popularitas, bukan kebenaran. Naluri beragama pun terdorong ke wilayah privat, dianggap subjektif dan tidak relevan untuk mengatur kehidupan publik.

Dalam situasi seperti ini, Gen Z bukan generasi yang lemah, tetapi generasi yang dibentuk oleh sistem yang salah arah. Tanpa disadari, energi kritis mereka justru dimanfaatkan untuk melanggengkan nilai yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Menata Arah: Mengubah Paradigma, Bukan Sekadar Konten

Menyelamatkan generasi dari pengaruh buruk era digital tidak cukup dengan literasi media atau kampanye kesehatan mental semata. Persoalannya bukan hanya konten, tetapi paradigma berpikir. Selama paradigma sekuler menjadi dasar, maka ukuran baik-buruk akan selalu kembali pada selera, manfaat sesaat, dan tekanan mayoritas.

Islam menawarkan perubahan paradigma yang mendasar. Cara pandang Islam menempatkan manusia sebagai hamba sekaligus pengemban amanah. Akal, naluri, dan kebutuhan jasmani diarahkan oleh aturan yang jelas, bukan dibiarkan bebas tanpa kendali. Dengan paradigma ini, ruang digital tidak ditolak, tetapi diposisikan sebagai sarana untuk tujuan yang benar.

Aktivisme Gen Z perlu diarahkan dari sekadar reaksi emosional menjadi pergerakan ideologis yang sadar arah. Kritik terhadap ketidakadilan harus diiringi pemahaman tentang akar sistemik masalah. Perubahan yang diperjuangkan tidak berhenti pada permukaan, tetapi menyentuh tata nilai dan sistem kehidupan.

Di sinilah pentingnya memberikan kerangka berpikir Islam secara utuh. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga mengatur relasi sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Ketika ini dipahami, naluri mencintai kebaikan, membela sesama, dan membangun masa depan akan menemukan saluran yang sahih.

Sinergi Penyelamatan Generasi

Upaya ini tidak bisa dibebankan pada individu semata. Sinergi keluarga, masyarakat, dan negara menjadi kebutuhan mendesak. Keluarga berperan menanamkan identitas dan nilai sejak dini. Masyarakat membangun lingkungan yang sehat secara pemikiran dan sosial. Negara memastikan ruang publik, termasuk ruang digital, tidak menjadi alat perusakan generasi.

Tanpa sinergi ini, Gen Z akan terus berjuang sendirian di tengah derasnya arus ideologi global. Potensi besar mereka akan habis untuk respons sesaat, bukan perubahan hakiki.

Era digital adalah keniscayaan. Pertanyaannya bukan apakah Gen Z akan bergerak, tetapi ke mana mereka diarahkan. Jika paradigma Islam hadir secara menyeluruh, Gen Z tidak hanya akan menjadi generasi kritis, tetapi juga generasi pembawa perubahan yang menyelamatkan manusia, bukan sekadar memuaskan algoritma.

Wallahu a'lam