-->

Isro' mi'raj Momentum Membumikan Hukum Allah SWT.


By: Hasna Hanan 

Setiap tahun dibulan Rajab umat muslim selalu diingatkan sebuah peristiwa yang spektakuler, menakjubkan yang tidak mampu difikirkan oleh akal manusia tapi itu terjadi dan harus diyakini kebenarannya dengan keimanan. 

peristiwa Isra’ Mi’raj ini memiliki arti penting bagi pembinaan kepribadian manusia, karena dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut Nabi menerima perintah shalat lima waktu dalam sehari. Shalat inilah yang merupakan inti dari peristiwa besar tersebut, karena shalat merupakan tiang agama dan dasar dari pembangunan keperibadian manusia. Dalam pengertian lebih luas, shalat memiliki arti zikir dan senantiasa mengingat Allah dalam segala tindakannya, sehingga dengan menegakkan shalat ini diharapkan manusia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan dan segala macam tindakan keji lainnya, sebagaimana penegasan Allah SWT melalui firman-Nya, “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS. Al-‘Ankabut:35). Inti dari perisiwa inilah yang hingga sekarang menjadi tradisi wajib yang senantisa dikerjakan oleh setiap muslim. 

Jika perintah lain cukup dengan wahyu melalui Malaikat Jibril, perintah shalat langsung diturunkan Allah kepada Rasulullah _ShallalLahu 'alaihi wa Sallam_ tanpa perantara Jibril. Diantara kemuliaan dan keutamaan shalat, yaitu  shalat adalah tiang agama Islam. Islam pada diri seseorang tidaklah tegak kecuali dengan shalat. Rasulullah _Shallallahu 'alaihi wa Sallam_ bersabda :

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

_“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.”_ (HR. Tirmidzi  dari  Mu’adz) 

Ibarat sebuah bangunan,  Islam disangga tiang. Tiang penyangga itulah shalat. Tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Begitu pula dengan bangunan Islam. Ketika shalat dilalaikan atau bahkan ditinggalkan, maka runtuhlah keislaman pada diri seseorang,  karena tiang penyangganya sudah ambruk.

Shalat juga adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi _Shallallahu ‘alaihi wa Sallam_ bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ

_“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.”_ (HR. Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi)

Pertanyaanya kemudian, shalat yang bagaimanakah yang mampu mencegah perilaku keji dan munkar itu? Kenapa sudah banyak orang yang melaksanakan shalat tetapi justru kejahatan makin menjadi-jadi? Pertanyaan inilah yang sering terdengar di telinga kita.

Membumikan Hukum Allah SWT Dengan Perintah Shalat 

Perintah Shalat dalam peristiwa Isro' mi'raj adalah arti kiasan mengharuskan penegakan hukum Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan manusia dengan menegaskan arah besar perjuangan umat Islam menjadikan Islam sebagai sebuah sistem kehidupan yaitu ideologi yang bertolak belakang dengan Kapitalisme yang dibangun di atas keserakahan dan dominasi. Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya, dan pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi dan politik

Hal tersebut tersirat ketika  Rasulullah _ShallalLahu 'alaihi wa Sallam_ di Masjidil Aqsha, beliau memimpin shalat para Nabi dan Rasul-Rasul Allah. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa  Rasulullah _ShallalLahu 'alaihi wa Sallam_ merupakan pemimpin dan penghulu para Nabi dan Rasul yang telah Allah _Ta'ala_ turunkan sebelumnya. Dan agama Islam beserta syariatnya yang Rasulullah _Shallallahu 'alaihi wa Sallam_ bawa menjadi ajaran dan syariat yang berlaku untuk seluruh kaum muslimin dan umat manusia di seluruh dunia. Allah _Ta'ala_ berfirman :

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَآ فَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

_"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."_ (QS. Saba' 34: Ayat 28)

Selain itu Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram yang ada di Makkah ke Masjidil Aqsha yang ada di Syam melintasi ribuan kilometer yang jauh dari kota Makkah. Allah SWT ingin membuktikan bahwa ajaran yang Rasulullah bawa bukan hanya untuk penduduk Makkah saja tetapi untuk seluruh wilayah yang ada di bumi ini. 

Sungguh bagi mereka yang beriman dan berakal akan meyakini setiap peristiwa yang terjadi atas kehendak Allah SWT, dengan menjalankan Rosulullah Saw dalam Isro' mi'raj menunjukkan bahwa kaum muslimin harus menyadari bahwa hukum Allah SWT dalam bentuk risalah yang berupa Wahyu yang diberikan kepada kekasihnya Rosulullah tidak hanya sekedar untuk beliau dan umatnya saja tapi, Allah SWT menginginkan seluruh makhluk-Nya menjalankan kehidupan ini dengan membumikan Al-Qur'an dan as-sunah sebagai way of life yang akan menyelamatkan dan membawa rahmatan Lil A'alamiin.
Wallahu'alam bisshowab