-->

Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Global Islam


Oleh: Hamnah B. Lin

Dunia terus mengalami keguncangan luar biasa, mulai dari ekonomi, tata pergaulan, digitalisasi hingga hancurnya keluarga- keluarga muslim karena pengaruh peradaban barat. Wajar jika demikian, karena umat tidak memilki satu komando, umat tidak lagi memilki sosok orangtua yang bisa melindungi, merawat dan mencurahkan segalanya untuk umat. Umat sedang dalam kondisi kebingungan.

Bulan ini adalah momentum peringatan peristiwa Isra Mi‘raj, yang merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Isra Mi‘raj bukan hanya peristiwa spiritual yang sarat mukjizat. Isra Mi‘raj juga mengandung pesan politik dan peradaban yang sangat mendalam. Isra Mi‘raj adalah penegasan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual-individual, melainkan ideologi yang memimpin kehidupan manusia secara menyeluruh di bawah kepemimpinan global.

Kewajiban shalat lima waktu merupakan salah satu pesan inti Isra Mi‘raj. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang Allah SWT wajibkan secara langsung kepada Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha tanpa perantara. Hal ini menunjukkan kedudukan shalat sebagai fondasi utama pembentukan manusia bertakwa yang layak memikul amanah besar kepemimpinan global. Allah SWT berfirman yang artinya, "Mintalah kalian pertolongan dengan sabar dan shalat" (TQS al-Baqarah [2]: 45).

Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Shalat sekaligus menjadi pembeda antara iman dan kufur. Selain itu, al-Quran juga menegaskan “fungsi sosial” shalat: "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (TQS al-‘Ankabut [29]: 45).

Maka sesungguhnya shalat tidak hanya membentuk kesalehan individual. Shalat juga melahirkan manusia yang baik secara sosial seperti memiliki sifat jujur, amanah dan adil. Ini adalah di antara sifat-sifat yang diperlukan bagi kepemimpinan Islam, yang mendesak  dibutuhkan dunia hari ini.

Dimensi politik Isra Mi‘raj tampak jelas ketika Rasulullah saw. memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol kosong. Ia adalah isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya. Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji menegaskan bahwa peristiwa ini adalah indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia. Ia menulis bahwa imamah Rasulullah saw. atas para nabi merupakan isyarat kepemimpinan Islam atas seluruh agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai rasul terakhir (Rawwas Qal‘ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah li as-Sîrah an-Nabawiyyah, hlm. 75–83).

Isyarat ini kemudian terwujud secara langsung setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah saat beliau menegakkan Negara Islam. Negara Islam tersebut memimpin masyarakat majemuk yang terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim. Demikian sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah (Watsîqah al-Madînah). Piagam ini  antara lain mengatur hubungan sosial dan politik secara adil di bawah kepemimpinan Islam.

Setelah era Negara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. kepemimpinan Islam global mencapai bentuk institusionalnya dalam wujud Khilafah Islam. Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah khalifah pertamanya. Setelah wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq digantikan oleh Sahabat Umar bin al-Khaththab ra. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., Kota al-Quds—tempat yang pernah disinggahi Rasulullah saw. dalam peristiwa Isra Mi’raj—dibebaskan  tanpa pertumpahan darah. Khalifah Umar ra. menerima kunci kota tersebut dari Patriark Nasrani dengan penuh kehormatan. Ini adalah sebuah peristiwa yang diakui oleh sejarawan Muslim maupun non-Muslim sebagai teladan kepemimpinan yang adil dan beradab.

Namun, tragedi besar kemudian menimpa umat Islam ketika Khilafah dihancurkan pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M). Dalam pidatonya pada Peringatan Keruntuhan Khilafah, Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menyebut peristiwa ini sebagai “gempa dahsyat” yang menghancurkan kekuatan politik umat Islam dan membuka pintu penjajahan global.

Kemudian ketika kekosongan kepemimpinan Islam global kemudian diisi oleh kepemimpinan Kapitalisme global yang saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Kepemimpinan ini terbukti melahirkan kezaliman sistemik. Ini karena sistem Kapitalisme global jelas tidak dibangun di atas wahyu. Kapitalisme berdiri di atas asas sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan—yang menjadikan kepentingan materi, modal dan kekuasaan sebagai standar utama pengambilan keputusan. Amerika Serikat (AS), sebagai pemimpin Kapitalisme global, secara konsisten menempatkan dirinya sebagai “polisi dunia”. Akan tetapi, faktanya peran ini bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk menjaga kepentingan geopolitik dan korporasi raksasa. 

Selain zalim, Kapitalisme global juga adalah ideologi yang gagal. Bahkan kegagalan Kapitalisme global ini disorot oleh para pemikir Barat sendiri. Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, misalnya, dalam Globalization and Its Discontents (2002), mengakui bahwa globalisasi kapitalistik yang dipimpin Amerika Serikat dan institusi seperti IMF justru memperparah kemiskinan, ketidakstabilan politik dan ketimpangan sosial di banyak negara berkembang. 

Bahkan Francis Fukuyama—pengusung tesis “babak akhir sejarah”—belakangan mengakui bahwa demokrasi liberal dan Kapitalisme global gagal menghadirkan keadilan dan stabilitas. Keduanya justru memicu krisis kepercayaan, populisme ekstrem dan kehancuran kohesi sosial.

Pengakuan para pemikir Barat ini menegaskan bahwa Kapitalisme global bukan hanya gagal secara moral menurut Islam, tetapi juga gagal secara empiris menurut ukuran ilmiah mereka sendiri.

Adalah Islam tentu berbeda dan bertolak belakang dengan Kapitalisme. Ideologi Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya, maupun pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi atau politik. Dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum-hukum Allah SWT. Maka dari itu, ideologi Islam dengan kepemimpinan global Khilafah bukan sekadar alternatif, melainkan solusi peradaban yang rasional, historis dan manusiawi karena berbasis wahyu, bukan hawa nafsu.

Inilah sebabnya mengapa Islam—dalam bentuk kepemimpinan global (Khilafah)—menjadi ancaman ideologis terbesar bagi Kapitalisme global. Pasalnya, Islam menawarkan tatanan dunia alternatif yang adil, independen dan bebas dari dominasi modal serta hegemoni militer. Selama Khilafah belum tegak, dunia akan terus berada dalam lingkaran kezaliman global. Selama Kapitalisme memimpin dunia, keadilan sejati hanyalah slogan kosong.

Hanya saja, Menurut Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji, kepemimpinan Islam global mensyaratkan dua hal utama (Qal’ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah, hlm. 80). Pertama: Adanya sistem Islam yang diterapkan secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Ini sejalan dengan firman Allah SWT: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh" (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Kedua: Adanya pemimpin yang amanah, yakni Khalifah yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara kâffah. Bukan penguasa boneka yang tunduk pada kepentingan Barat.

Dengan demikian, pemimpin global yang mendesak umat butuhkan adalah kepemimpinan Islam khikafah Islamiyah, yang adil karena menerapkan syariat Allah sebagai Sang Pencipta, berlaku untuk seluruh manusia di dunia. Maka kepastian sejahteranya umat, satu komandonya umat akan dirasakan oleh seluruh umat sedunia.
WalLâhu a‘lam bi ash-shawâb.