-->

Dua Wajah Gen Z di Era Digital



“Setidaknya ada dua wajah Generasi Z (Gen Z) di era digital,” ungkap Pemerhati Remaja, Kak Mumu dalam Kajian Muslimah Depok, Ahad (21/12/25) di Depok.

Menurutnya, adapun dua wajah media digital yang memengaruhi Gen Z yang harus diketahui yakni: Pertama, bisa berpengaruh positif. “Sehingga muncul gerakan cepat berbasis media social, seperti Arab Spring, BLM, #MeToo, pro-Palestina, demo 25 Agustus 2025,” jelasnya.

Kak Mumu juga menambahkan, pengaruh positifnya akan terjadi aktivisme digital (usaha-usaha untuk menciptakan perubahan sosial di dalam masyarakat dengan menggunakan perangkat atau medium teknologi digital) Gen Z. 

“Gen Z berpotensi menjadi aktor politik baru yang kuat. Pasalnya, aktivisme tumbuh melalui kemudahan komunikasi digital, adanya kepedulian besar pada isu kemanusiaan, Palestina, keadilan sosial serta infrastruktur digital memudahkan mobilisasi global,” ujarnya.

Namun, jelasnya ada ancaman pembajakan aktivisme. “Tanpa panduan Islam, aktivisme dapat meleset dari perjuangan hakiki umat. Ada dominasi narasi sekuler membuat aktivisme Gen Z rentan diarahkan pada agenda liberal, potensi dibajak justru untuk memperkuat hegemoni Barat dan kepentingan colonial serta perubahan tidak menyentuh akar masalah, justru memperkuat faham pro-demokrasi.

Kedua, bisa berpengaruh negatif. “Meningkatnya masalah pinjol, judol, kekerasan seksual, perundungan, kesehatan mental (1 dari 3 remaja bermasalah; 1 dari 20 mengalami gangguan mental),” sebutnya.

Pasalnya, lanjutnya, melalui platform bisa menguatkan sekularisme. Standar moral platform mengikuti nilai Barat sekuler, konten sekuler-hiburan diprioritaskan, konten Islam ideologis ditekan, Shadowban, moderasi otomatis pada konten politik Islam derta terbentuk filter bubble sekuler di kehidupan Gen Z.

“Algoritma sebagai “guru nilai” baru. Konten viral dianggap konten benar, Screen time tinggi menjadikan paparan nilai sekuler lebih kuat. Platform membentuk cara pandang, preferensi moral, dan gaya hidup,” ujarnta.

Itu semua katanya, menjadi tantangan identitas generasi Muslim.”Media sosial menjadi “pengasuh” generasi Muslim, invasi budaya (ghazw ats-tsaqafi) makin intens, terjadi erosi syakhshiyah Islamiyah dan meningkatnya masalah mental, serta melemahnya ketaatan syariah menjadikan krisis identitas dan potensi.

“Gen Z bisa menjadi harapan kebangkitan jika disentuh mabda. Karena generasi muda Muslim adalah aset umat dan agama. Mereka adalah harapan kebangkitan Islam,” pungkasnya dengan penuh optimis.[]Tami