BULAN RAJAB, MOMENTUM MEMBANGUN KESADARAN UMAT
Oleh : Evi Derni S.Pd
Bulan Rajab dan peristiwa isra mi'raj menjadi salah satu momen istimewa bagi umat Islam. Perjalanan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke langit untuk menerima perintah salat di saat tahun kesedihan membawa hikmah besar.Tak hanya perintah untuk ibadah tapi juga menegakkan hukum Allah di muka bumi. Sudah 105 tahun kondisi umat Islam di seluruh dunia terus berduka dan menderita tanpa KhilafahBumi isra mi'raj porak poranda dan di genosida oleh Israel laknatullah. Negeri-negeri muslim berada dalam cengkraman kepemimpinan kapitalisme global. AS terus dijajah dan dipecah belah. MMC reborn Sabtu 17 Januari 2026.
Rajab seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran umat tentang jati diri, perjuangan dan arah masa depan. Sepanjang sejarah Islam umat Islam tidak pernah kehilangan legitimasinya sebagai umat terbaik dan kepemimpinannya dalam membangun peradaban yang agung. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan kepemimpinan yang menyatukan aqidah ,syariat dan sistem hidup Islam secara menyeluruh. Kepemimpinan yang agung ini memenuhi pentas sejarah dunia berabad-abad lamanya,menjadi negara adidaya ditakuti lawan dan disegani kawan.
Namun berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, jika dikaitkan dengan bulan kemenangan, di bulan Rajab, dengan konteks diplomasi dan hubungan internasional ,bahwa dunia Islam berada di bawah negara-negara Barat, bukan hanya berada di bawah tetapi kita menjadi pengikut bahkan pengekor negara-negara Barat, dan seolah-olah umat islam itu tidak bisa bergerak tanpa keberadaan dan izin mereka.
Dunia Islam yang selama ini paling banyak dirugikan oleh negara-negara barat, baik dalam hubungan yang sifatnya damai seperti hubungan ekonomi Indonesia dan AS, negara Eropa. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang kita bisa melihat keuntungan dari investasi asing tidak menguntungkan rakyat Indonesia tapi menguntungkan negara-negara barat, baik di sektor minyak, gas, batubara dan sebagainya. Dan saat ini Cina juga masuk untuk mengeksploitasi nikel juga mayoritas menguntungkan mereka.
Kalau mereka tidak bisa mendekati dunia Islam dengan cara damai, maka mereka menggunakan cara kekerasan misalnya apa yang terjadi di Venezuela kemarin, sampai presidennya diculik. Hal ini sudah pernah terjadi di dunia Islam Afghanistan 2001, Irak 2013, kemudian Libya, Suriah, Yaman, Palestina, dunia islam tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu instruksi dari AS. AS ingin damai ,mediasi, gencatan senjata, semua kembali pada AS. Kalau kita terus berada di posisi ini maka selama itu pula kita tidak bisa berbuat apa-apa .Dunia Islam tetap menjadi korban kekejaman dan tertindas. Belum cukupkah apa yang terjadi pada Sudan yang terkoyak, oleh ambisi pemimpinnya dan intervensi kafir Barat. Masjidil Aqsa yang nyaris runtuh? Yahudi laknatullah Yahudi laknatullah alaih terus terus dan terus menggali terowongan.
Bulan Rajab adalah bulan kemenangan kaum muslimin. Sejarah track record dari kemenangan kaum muslimin cukup mengagumkan. Dan harusnya memperkuat perjuangan terutama dengan isu-isu Palestina .Penaklukan pertama oleh Khalifah Umar bin Khattab yang menerima kunci Baitul maqdis secara langsung dari pendeta sofronius .Kemudian penaklukan kedua oleh Salahuddin Al Ayyubi setelah sekitar kurang dari 100 tahun dikuasai oleh pasukan salib.
Institusi Khilafah tidak bisa dipisahkan dari kemenangan-kemenangan jihad, bahkan jihad adalah metode dalam politik luar negeri negara Islam. Politik luar negeri daulah Islam adalah mendakwahkan islam ke seluruh dunia melalui jihad dan melindungi umat Islam .Bahkan bukan hanya umat Islam orang-orang yang tertindas dari kalangan non muslim juga terjamin keamanannya misalnya pada saat pembantaian kaum Yahudi bersama umat Islam di Spanyol tahun 1400 di trekish ,banyak orang Yahudi lari ke Usmani dan mendapat perlindungan dari Khilafah utsmaniyah. Oleh karena itu kedudukan umat Islam sebagai umat terbaik yang menjadi pelindung bagi seluruh manusia di bumi Allah ini hanya akan kembali jika institusi Khilafah Islam tersebut juga kembali. Jati diri itu adalah hak, dan perjuangan untuk mengembalikannya adalah niscaya menjadi arah perjuangan masa depan.
Wallahu a'lam bishowab

Posting Komentar