-->

Sumatra Menangis, Peringatan dari Alam


Oleh : Meidy Mahdavikia

Sumatra kembali berduka. Air bah datang tanpa ampun, membawa lumpur, batu, dan puing-puing yang merenggut nyawa serta merobohkan rumah-rumah sederhana. Di Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh, dan wilayah lainnya, banyak warga hanya sempat menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan. Sebagian bahkan tak sempat menyelamatkan apa pun. 

Seperti dilansir *_CNNIndonesia.com (1/12/2025)_*, ratusan orang dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian bencana alam di Sumatra, sementara ribuan lainnya harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal sekaligus rasa aman yang selama ini mereka genggam.

Di tengah suasana duka itu, negara bergerak dengan penanganan darurat. Berbagai bantuan disalurkan dan anggaran digelontorkan. Bahkan, dana ratusan miliar rupiah telah disiapkan untuk penanganan bencana Sumatra, sebagaimana dilaporkan *_beritasatu.com (2/12/2025)_*. Namun, di balik angka-angka anggaran dan laporan resmi, ada luka yang tak mudah dihitung dari anak-anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang tercerai, dan trauma yang akan tinggal lama di ingatan mereka. Bagi para korban, bencana ini bukan sekadar peristiwa, melainkan titik balik hidup yang memaksa mereka memulai segalanya dari nol.

Hujan kembali dituding sebagai penyebab utama. Padahal, hujan tidak pernah berniat membawa bencana. Ia seharusnya memberi kehidupan, menyuburkan tanah, dan menjadi rahmat bagi manusia. Ketika hujan justru berubah menjadi petaka, sesungguhnya ada kesalahan manusia yang telah lama dibiarkan dan terus berulang.

Derita Rakyat di Balik Kebijakan yang Merusak

Banjir bandang dan longsor di Sumatra bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan akumulasi panjang dari kerusakan lingkungan yang terjadi secara sistematis. Hutan yang dahulu menjadi benteng alami kini berubah menjadi lahan konsesi. Bukit-bukit dibelah, tanah dikeruk, dan sungai dipersempit. Semua dilakukan atas nama pembangunan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam sistem sekuler kapitalisme, alam sering dipandang sebatas komoditas. Izin demi izin dikeluarkan tanpa pertimbangan matang tentang dampak jangka panjangnya. Relasi antara penguasa dan pengusaha kerap berjalan searah, sementara suara warga desa yang hidup berdampingan dengan hutan nyaris tak terdengar. Ketika bencana datang, mereka yang paling dekat dengan alam justru menjadi pihak yang paling menderita.

Negara kerap hadir setelah musibah terjadi dengan memberi bantuan, membangun tenda, dan menyalurkan dana namun absen dalam mencegah kerusakan sejak awal. Rakyat diminta bersabar dan tabah, sementara akar persoalan terus dibiarkan tumbuh. Inilah wajah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, yang menjadikan keuntungan sebagai kompas utama, meski harus dibayar dengan nyawa manusia dan kehancuran lingkungan.

Islam dan Harapan yang Tak Pernah Padam

Islam memandang setiap jengkal bumi sebagai amanah dari Allah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia sendiri. Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangunkan nurani agar manusia berhenti merusak sebelum penyesalan datang terlambat.

Dalam sistem Islam, negara tidak berjarak dari penderitaan rakyatnya. Negara hadir sebagai pelindung dan pengurus, bukan sebagai fasilitator eksploitasi. Hutan dijaga karena fungsinya menopang kehidupan, bukan karena nilai jualnya. Tambang dan sumber daya alam dikelola untuk kemaslahatan umat, bukan untuk memperkaya segelintir pihak. Setiap izin eksploitasi ditimbang dengan sangat hati-hati, dan akan ditolak jika berpotensi menimbulkan bahaya, sekecil apa pun.

Islam juga menekankan pencegahan sebagai wujud kasih sayang kepada manusia. Negara wajib menyusun tata ruang yang adil, menjaga daerah resapan air, serta mengalokasikan anggaran untuk mitigasi bencana sebelum air meluap dan tanah runtuh. Seorang pemimpin dalam Islam memahami bahwa setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan setiap nyawa yang melayang bukan sekadar angka statistik.

Sumatra hari ini menangis, bukan karena hujan, tetapi karena manusia yang lupa batas. Tangisan itu seharusnya menjadi panggilan nurani: sudah saatnya berhenti hidup dalam sistem yang merusak, dan kembali pada aturan Allah yang menjaga keseimbangan alam serta keselamatan manusia. Di sanalah harapan sejati masih bisa tumbuh.