-->

ALIH FUNGSI HUTAN MENGUNDANG BENCANA



Oleh : Kanti Rahayu (Aliansi Penulis Rindu Islam)

Telah terjadi bencana alam di beberapa wilayah di Indonesia, seperti tanah longsor di Cilacap, Banjarnegara, banjir bandang di Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi tengah, aceh dan banjir air rob di pulau seribu. Data terbaru korban banjir di sumatra dan aceh yang meninggal sebanyak 753 orang, yang hilang sebanyak 650 orang, 576.300 di penampungan yang tersebar di sumatra utara, aceh dan sumatra barat, data ini di kutip dari webnya resmi milik BNPB (detinews, 3/12/2025).

Bencana sepert ini bukan pertama kali terjadi di indonesia, setiap musim hujan datang bencana banjir pasti terjadi, akan ada banyak korban, penyelesaian yang tidak tepat, bantuan yang datangnya terlambat. Para pemangku jabatan akan bilang semua bencana ini karena cuaca yang extrem dan dana tidak cukup untuk membantu pemulihan warga yang terdampak. 

Bencana banjir dan longsor di Sumatra saat ini bukan karena cura hujan yanag tinggi, tapi karena kerusakan lingkungan alamnya yang para, hutan di sana di rubah jadi ladang sawit, sungai yang menyempit sehinggah tak mampu menampung air, perbukitan yang rata dengan tanah, Alih fungsi lahan inilah penyebab utamanya bukan karena cura hujan tinggi atau cuaca yang extrem. 

Sementara itu air laut yang pasang di pulau seribu, di sebabkan karena ada pembagunan di pulau pari yang dapat merusak lingkungan sekitarnya, karena aktivitas pembangunanya adalah pengerukan pasir pembangunan resor yang dapat merusak , terumbu karang, dan ekosistem mangrove

Sebenarnya dengan adanya hutan mangrove sangat berguna untuk menghalangi pasangnya air laut kedaratan dan dapat menghalangi pengikisan daratan, keberadaan mangrove dapat menjaga kelestarian di lingkungan sekitar. 

Setelah melihat fakta yang terjadi kita dapat menilai bahwa pencegaan bencana di negara ini, masih belum tepat sasaran dan ala kadarnya saja. Jadi jangan heran jika setiap tahun bencana seperti banjir, tanah longsor, air laut pasang setiap tahunya selalu terjadi. Ironisnya yang menjadi kambing hitamnya karena cura hujan tinggi atau cuaca yang extrem.

Miris sekali mendengar bencana yang menghantam negara ini, negara yang subur tapi selalu kena banjir musiman. Pencegaan banjir yang di lakukan pemerintah masih sekedarnya saja, alasannya karena fasilitas tidak memadai, medannya sangat sulit untuk di jangkau, dengan semua argumen ini rakyatlah yang menderita akibat bencana yang terjadi.

Pemerintah nampak tidak tanggap sekali dalam mengatasi masalah bencana yang terjadi, semua ini tidak lepas dari di berlakukanya sistem kapitalis di negeri ini. Pemerintah selalu menghitung untung rugi dalam menyelesaikan masalah rakyat, Dari sini bisa terlihat kalau pemerintah lebih mendukung pengusaha padahal banjir dan longsor yang di hadapi rakyat sumatra akibat dari alih fungsi hutan yang menjadi perkebunan sawit. 

Nampak sekali kalau penerapan sistem kapitalis tidak bisa memberi rasa aman dan nyamab terhadap rakyatnya, penguasa lebih cenderung membela pengusaha, maka dari itu sudah waktunya kita kembali kepada sistem islam yang mampu memberi rasa aman dan nyaman terhadap rakyat.

 Dalam sistem Islam, bencana merupakan suatu fenomena yang harus dipandang dengan pendekatan yang menyeluruh: aspek spiritual dan politik secara bersamaan. Aspek spiritual mengajarkan kita untuk melihat bencana sebagai indikasi kekuasaan Allah, serta sebagai kesempatan untuk merenungkan bahwa setiap peristiwa membawa pesan tertentu. Namun, Islam tidak hanya berfokus pada aspek spiritual saja. Ada juga aspek politik yang sangat penting, yakni cara negara mengatur lingkungan, melindungi ekosistem, dan menjamin keselamatan warga melalui kebijakan yang tepat dan bertanggung jawab.

Selain itu, penanganan bencana adalah tanggung jawab negara yang tidak dapat dinegosiasikan. Dalam pandangan Islam, negara harus secara serius, terencana, dan menyeluruh dalam menangani hal ini: mulai dari identifikasi risiko, pendidikan pencegahan, pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, hingga sistem peringatan dini yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Setiap lapisan masyarakat harus dipersiapkan untuk menghadapi keadaan darurat, bukan dibiarkan tidak berdaya seperti sistem kapitalisme saat ini.

Ketika bencana terjadi, negara Islam tidak akan membiarkan rakyatnya terjebak menunggu evakuasi. Pemerintah wajib memberikan bantuan dengan cepat dan layak. Kebutuhan dasar rakyat harus dipenuhi: makanan, tempat tinggal sementara, pakaian, layanan kesehatan, hingga dukungan psikologis. Negara juga bertanggung jawab memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan normal setelah bencana, bukan hanya memberikan bantuan sementara dan membiarkan rakyat "mengurus nasib mereka sendiri".

Inilah perbedaan antara negara yang menganggap rakyat sebagai amanah dan negara yang melihat rakyat hanya sebagai komoditas . Bencana memang merupakan bagian dari kehendak Allah, tetapi ketidakpedulian negara dalam menjaga dan melindungi rakyat tidaklah merupakan takdir. Itu merupakan pilihan dan akibat dari sistem yang tidak baik.

Saatnya umat menyadari bahwa solusi yang setengah hati dan respon yang bersifat sementara tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah bencana yang berulang. Kita memerlukan sistem yang berlandaskan pada hukum Allah, yang menggabungkan kekuatan spiritual dan politik, serta memprioritaskan keselamatan manusia di atas segalanya. Karena ketika negara tidak peka, rakyatlah yang terus hp lah di korban.