-->

Sekulerisme Menyuburkan Bullying di Kalangan Pemuda


Oleh : Suwarni

Bullying bukanlah hal baru yang ada dan terjadi di tengah - tengah pemuda ataupun para pelajar saat ini. Bullying tak hanya terjadi dikalangan siswa tingkat atas tapi juga tingkat dasar. Bullying tak hanya terjadi di kawasan kota tapi juga sudah menyebar hingga pelosok daerah. 

Melihat Fenomena bullying yang kian marak di kalangan pelajar, tentu ini bukanlah sekadar masalah individu, melainkan cerminan dari kerusakan sistemik dalam tatanan kehidupan yang diatur oleh ideologi sekuler kapitalis. Ketika seorang siswa SMA diduga melakukan aksi berbahaya akibat tekanan sosial dan pengucilan, kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap akar persoalan yang lebih dalam.

Bullying bukan hanya ancaman fisik, pukulan, ataupun bentakan. Bullying bisa dalam bentuk yang lebih halus, seperti pengucilan sosial, ejekan, tekanan atau candaan yang merendahkan. Ini adalah bentuk kekerasan yang tidak terlihat tetapi meninggalkan luka batin yang dalam.Hal ini menunjukkan telah terjadi krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Dampak bullying yang akan dialami korban bullying akan berakibat serius, sebab korban bisa menderita gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, atau kehilangan kepercayaan diri.

Belum lagi di era digital seperti saat ini, media sosial menjadi ladang subur bagi perundungan daring. Sekali seseorang menjadi bahan ejekan, efeknya menyebar cepat ke ribuan orang. Sistem kapitalisme yang menuhankan kebebasan tanpa batas justru memperparah kondisi ini. Tidak ada kontrol nilai, tidak ada pembinaan moral. Yang ada hanyalah kebebasan yang membutakan.

Maraknya kasus bullying yang terjadi menunjukkan bahwa ada kerusakan yang signifikan dalam sistem pendidikan saat ini. Pasalnya pendidikan seharusnya menjadi tempat di mana individu dipersiapkan tidak hanya secara akademis, tetapi juga dalam hal pembentukan kepribadian yang bermoral dan menghormati sesama. Namun faktanya fenomena bullying seringkali menunjukkan hal yang sebaliknya. Ini menggambarkan kegagalan dalam mencapai tujuan fundamental pendidikan yang seharusnya mendorong penghargaan, dan empati di antara sesama. 

Berbeda dengan sistem Islam, tujuan pendidikan dalam Islam membentuk kepribadian Islam dengan cara pembinaan intensif, membentuk pola pikir dan pola sikap islami, tidak hanya fokus pada nilai materi namun juga nilai maknawi dan nilai ruhiyah. Kurikulum pendidikan berbasis aqidah Islam, menjadikan adab sebagai dasar pendidikan. Negara akan menayangkan konten yang bermanfaat dan tayangan edukatif. Ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari konten yang memicu perilaku negatif seperti bullying, menuju konten yang dapat memberikan nilai-nilai positif dan mendidik. Negara juga akan memberikan sanksi tegas terhadap pelaku bullying. Sehingga orang yang akan melakukan tindakan tersebut akan berfikir dua kali untuk melakukannya. Negara (khilafah) wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial. 

Inilah gambaran jika Islam dijadikan sebagai ideologi, maka kasus bullying tentu tidak akan terjadi. Jadi akankah kita masih diam saja melihat kerusakan yang terjadi pada sistem saat ini atau ikut berjuang bersama kelompok dakwah ideologis untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah di muka bumi ini?

Wallahu a'lam bishshawab