Kapitalisasi Air, Dampak Pengelolaan Air dalam Sistem Kapitalisme
Oleh : Endang Setyowati
Indonesia negeri yang subur, di dalamnya terkandung berbagai jenis sumber daya alam. Salah satunya air, air bersih sangat berlimpah di dalam perut bumi pertiwi ini. Sehingga banyak perusahan yang membuat air kemasan.
Dan ternyata karena kehidupan saat ini mencari yang praktis dan budaya konsumtif sehingga banyak konsumen air kemasan ini.
Kita sebut saja salah satu jenis air kemasan, yaitu Aqua. Sampai-sampai ketika membeli air kemasan menyebutnya Aqua. Padahal Aqua adalah salah satu jenis brand dan pelopor air kemasan, Aqua masih menjadi merek air minum dalam kemasan (AMDK) paling terkenal di Indonesia, dengan iklannya yang berasal dari sumber mata air pegunungan.
Namun sumber air Aqua menjadi sorotan publik setelah Inspeksi dadakan atau sidak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke PT Tirta Investama (Aqua) Pabrik Subang viral di media sosial.
Danone Indonesia mengatakan pernyataan perwakilan perusahaan Aqua yang menyebut sumber air Aqua berasal dari sumur bor belum lengkap. Melalui keterangan tertulis, Danone menjelaskan bahwa sumber air yang mereka gunakan bukan berasal dari sumur bor biasa.
"Air Aqua berasal dari 19 sumber udara pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia," kata Danone Indonesia Melalui keterangan resmi pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Danone menjelaskan, air yang selama ini digunakan berasal dari akuifer dalam di kawasan pegunungan, bukan air permukaan atau air tanah dangkal. Air akuifer dalam ialah air tanah yang tersimpan di dalam lapisan batuan atau sedimen bawah tanah yang berpori dan jenuh air.
Danone menyatakan akuifer dalam yang mereka gunakan berasal dari kedalaman 60-140 meter. Air ini disebut terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air, sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia.
Menurut Danone, aktivitas yang mereka lakukan telah melalui hasil penelaahan ilmiah oleh ahli hidrogeologi dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Padjadjaran. "UGM dan Unpad mengonfirmasi bahwa sumber air Aqua tidak bersinggungan dengan air yang digunakan masyarakat," katanya.
Perusahaan air mineral kemasan ini kemudian mengklaim proses pengambilan air juga telah mendapatkan izin dari pemerintah dan diawasi secara berkala oleh pemerintah daerah dan pusat melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
(Tempo, 24/10/2025).
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menyatakan akan memanggil managemen PT Tirta Investama jika ditemukan pelanggaran terhadap UU perlindungan konsumen dan akan dikenai sanksi administratif hingga pidana dengan dugaan iklan menyesatkan.
Terlepas dari polemik soal sumber airnya, ternyata Aqua menguasai 60% pasar Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dan menurut asosiasi industri jumlah produsen AMDK ini jumlahnya lebih dari 1.200 tersebar di seluruh Nusantara dan menguasai berbagai sumber air yang ada.
Ketika KDM menyidak pabrik Aqua menyinggung keuntungan besar yang didapat dari aktivitas AMDK ini, dan ternyata nilai pasar AMDK di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp30 triliun pada tahun 2025 dengan dominasi segmen air mineral dan air galon isi ulang.
Beginilah ketika saat ini menerapkan sistem kapitalisme, yang mana akan mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Bak menjadi "emas baru", saat ini air diburu dan dikapitalisasi sehingga akan menyebabkan kemudharatan bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Karena akan membuat air itu menjadi barang mewah yang akan sulit dijangkau oleh kalangan bawah. Yang mana para penduduk di sekitar pabrik justru kekurangan air bersih karena air telah disedot oleh perusahan AMDK.
Selain itu, ternyata banyak dampak buruk akibat pemanfaatan air tanah ini jika dilakukan secara besar-besaran dan terus menerus. Misal pengambilan akuifer dalam jumlah yang banyak dapat beresiko menurunkan permukaan air tanah, menghilangkan mata air disekitar pabrik serta berpotensi amblesnya tanah disekitar.
Jika di dalam Islam, air merupakan sumber daya alam yang merupakan milik umum, maka tidak boleh diprivatisasi ataupun diswastanisasi. Rasulullah saw bersabda: "Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput, air dan api" (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Maka tugas negaralah untuk mengelola air dengan memperhitungkan alam agar tidak rusak dan penduduk disekitarnya tidak kekurangan air bersih kemudian air tersebut akan didistribusikan kapada seluruh rakyatnya tanpa mencari keuntungan.
Negara akan memperketat regulasi terkait pengelolaan SDA sehingga tidak memicu penyalahgunaan dan kerusakan alam.
Disini pemimpin (Khalifah) akan memastikan bahwa seluruh rakyatnya mendapatkan air bersih dengan gratis.
Dengan menyalurkannya secara merata dan memastikan kerusakan alam dapat di minimalisir. Karena ketika negara yang mengelola maka akan mengambil air sesuai kebutuhan bukan mengambil air selama masih ada. Dan tidak berfikir untuk mencari keuntungan.
Karena pemimpin dalam Islam ibarat penggembala, Rasulullah saw bersabda: "Imam(Khalifah) itu laksanakan penggembala, dan hanya ialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya." (HR. Bukhari dan Muslim). Maka sudah saatnya kita mengganti sistem kapitalis sekuler ini dengan sistem Islam secara kaffah yang membawa keberkahan terhadap bumi dan seisinya.
Wallahu a'lam bi showab

Posting Komentar