-->

Krisis Kesehatan Mental pada Generasi, Islam Selalu Hadir Sebagai Solusi


Oleh : Alimatul Mufida (Mahasiswa) 
                          
Satu dari tiga remaja di Indonesia (sekitar 15,5 juta) mengalami masalah kesehatan mental, menurut survei I-NAMHS 2022. Masalah mental dapat bermacam-macam, seperti kecemasan yang berlebihan, kebingungan seperti kehilangan arah, bahkan saking parahnya ada yang menginginkan mengakhiri hidupnya. Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dua siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, ditemukan bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025 ini.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bullying dalam kedua kasus ini. Siswa korban Bagindo ditemukan tergantung di ruang kelas, Selasa (28/10/2025) siang, sedangkan Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS, Senin (6/10/2025) malam. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa.

Persoalan kesehatan mental yang semakin bervariasi hingga kasus bunuh diri yang
meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati. Tidak semua kasus kesehatan mental melibatkan aktivitas bullying. Fakta ini lebih menggambarkan semakin hari kepribadian remaja nampak rapuh. Remaja mendapatkan berbagai macam paparan yang membuat semakin merasakan cemas setiap harinya, mulai dari trend pakaian, kosmetik, kebutuhan barang, dan berbagai standar gaya hidup ala kapitalisme.

Generasi muslim khususnya para remaja menjadi over konsumtif pada hal-hal yang
tidak esensial. Mereka hanya dimanfaatkan, dieksploitasi, dan menjadi sasaran empuk industri hiburan, kecantikan, fashion, khas kapitalisme. Akhirnya, apabila mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan yang distandarisasi oleh sistem sekuler-kapitalisme, seringkali menjadi merasa tertekan, cemas, hingga putus asa dan kehilangan arah. Selain dari paparan eksternal, kerapuhan kepribadian juga mencerminkan lemahnya keadaan internal dasar anak, yaitu akidahnya. Hal ini adalah implikasi dari pendidikan sekuler yang hanya sekedar mengejar pencapaian duniawi tidak berdasar dan mengabaikan pengajaran spiritualitas.

Agama hanya diajarkan secara teori tapi tidak meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak. Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan Barat menganggap anak baru dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga sering kali anak sudah balig namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya. Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Pemicu gangguan mental sangat kompleks, mulai dari kesulitan ekonomi, tidak hadirnya peran orang tua sebagai pihak yang mengarahkan dan menanamkan nilai-nilai tauhid, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. 

Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental. Paparan media sosial yang semakin masif membuat rusak mental generasi. Media sosial hanya menjadi ajang pamer, tapi bagi mereka yang tidak memenuhi standar ala kapitalisme akan tereliminasi. Mungkin akan mengejar dengan segala cara untuk meraih standar tersebut atau justru berakhir depresi, putus asa, bahkan mendorong remaja dan anak-anak makin rentan bunuh diri.

Islam menjadikan dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang
pendidikan adalah akidah sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam
menghadapi setiap kesulitan. Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam.

Dalam Islam ketika balig anak juga diarahkan untuk aqil sehingga Pendidikan anak sebelum balig Adalah Pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya. Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. Kurikulum pendidikan Khilafah memadukan
penguatan kepribadian Islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu.
Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan sudut pandang islam.