DI BALIK KRISIS SUDAN YANG BERDARAH
Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)
Dunia terhenyak melihat Sudan berdarah. Penyebabnya karena perang saudara yang telah menewaskan ribuan warga Sudan. Yang berkonflik ada dua kubu, yaitu pihak Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti dari pasukan Rapid Support Forces (RSF).
Dalam tiga hari sebanyak 1.500 warga Sudan meninggal saat penguaasaan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di el-Fasher. Ini menunjukkan semakin mengerikannya perang saudara di Sudan (www.republika.com, Jumat 31 Oktober 2025) (1). Ada 62.000 warga mengungsi dalam kurun waktu empat hari (26 hingga 29 Oktober 2025) (www.minanews.com, Minggu 2 November 2025) (2). RSF pun semakin menggila, membunuhi warga di masjid dan rumah sakit (www.newsrepublika.com, Kamis 30 Oktober 2025) (3)
Jenderal Abdel Fattah dan Hemedti sebelumnya adalah sekutu, yang bekerja sama mengkudeta pemerintahan transisi pada tahun 2021. Tapi pada bulan April 2023 keduanya berseteru karena perebutan kekuasaan, berujung perang besar yang menjadi ajang pembantaian rakyat tak berdosa. Namun, di balik krisis perebutan kekuasaan di Sudan ada peran asing (Barat) di dalamnya. Barat, khususnya AS dan Inggris, berupaya mengadu-domba rakyat Sudan. Tujuannya demi mengokohkan hegemoni mereka sambil menguras kekayaan alam Sudan. Barat menggunakan proxy untuk memelihara kepentingan mereka di Sudan.
Sudan adalah salah satu negara terbesar di Afrika dan berbatasan dengan tujuh negara, yaitu Afrika Tengah, Sudan Selatan, Chad, Mesir, Eritrea, Ethiopia, dan Libya. Meski negara kaya emas dengan produksi stabil 80 ton/tahun sebelum konflik, tapi jalan beraspal di Sudan sangat sedikit. Banyak jalan yang tidak beraspal sehingga sulit dilalui karena lumpur dan banjir. Menurut sebuah laporan berjudul "Emas dan perang di Sudan" yang disusun oleh Chatham House Institute, perdagangan emas menjadi sumber konflik di Sudan dan menjadi sumber pendanaan terpenting untuk perang sejak 2023 ini. Perang ini menghancurkan warga Sudan dan perekonomiannya. Hal ini mengakibatkan sekitar 30,4 juta orang (lebih dari dua pertiga total populasi) membutuhkan berbagai bantuan; baik kesehatan, makanan, dan berbagai bentuk dukungan kemanusiaan lainnya. Kelaparan akut semakin parah di sana (www.khazanah.republika.co.id, Sabtu 1 November 2025) (4).
Sudan adalah bagian dari negeri-negeri Muslim di era Kekhilafahan Islam yang termasuk bagian benua Afrika. Dakwah Islam di sana dimulai pada tahun 641 M pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu Mesir ditaklukkan oleh Panglima Perang ’Amr bin al-’Ash ra. Pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan, diutuslah Panglima Perang ’Uqbah bin Nafi untuk menyebarkan dakwah Islam ke bagian selatan; melalui Lembah Nil menuju Nubia yang menjadi bagian dari Sudan utara. Pada masa Khilafah Utsmaniyah saat kekuatan Khilafah melemah di Afrika, satu-persatu negeri-negeri di Afrika jatuh ke tangan penjajah Barat; yaitu ke negara Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda, Jerman, Italia, Portugal dan Belgia. Motif utama semua negara kafir penjajah Barat adalah untuk merampas kekayaan alam di wilayah Afrika.
Pada tahun 1898 Sudan direbut Inggris dari tangan Khilafah Islam. Tujuan Inggris dua : melumpuhkan kekuatan Khilafah Utsmaniyah dan mengamankan kendali atas Mesir serta Sungai Nil yang merupakan salah satu dari dua jalur perdagangan ke koloni-koloninya di India dan Afrika Selatan. Rekayasa Inggrislah semua konflik yang terjadi di Sudan untuk berkuasa di sana, dengan melakukan taktik adu domba antar etnis maupun agama. Komunitas di utara yang “lebih Arab”, lebih diberdayakan; dibandingkan komunitas yang “lebih Afrika” di wilayah barat dan selatan. Inggris membagi Sudan menjadi dua : Sudan Utara dan Selatan. Sudan Selatan dikelola secara terpisah dari wilayah Utara yang lebih maju secara ekonomi melalui proses yang disebut “Kebijakan Selatan”.
Dominasi Inggris di Sudan pun melemah setelah Amerika Serikat melalui PBB mendesak negara-negara Eropa agar memerdekakan negara-negara jajahan mereka. Amerika mulai mengokohkan hubungan diplomatik dan pengaruh politiknya di Sudan Usai deklarasi kemerdekaan Sudan pada tahun 1956 . setelah itu perlahan kekuatan AS di Sudan semakin menggeser pengaruh Inggris. Amerika menempatkan Darfur di bawah kendali agennya, Hemedti (RSF). Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dari SAF juga agen Amerika di Sudan dari kubu yang berbeda. Amerika sebagai negara pengemban kapitalisme terbesar di dunia saat ini dan menjadi adidaya dunia, menunjukkan betapa imperialisme benar-benar diterapkan di Sudan sebagai metode penjajahan ala kapitalisme yang efektif untuk diterapkan di negara-negara jajahannya, termasuk Sudan.
Konflik saat ini adalah siasat jahat Amerika dengan tujuan : membersihkan sisa pengaruh Inggris di Sudan, membentuk kuartet kekuatan politik bersama (dengan Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir) untuk mencegah masuknya pihak ’asing’ dalam menangani konflik Sudan, dan memecah-belah Sudan serta memelihara konflik agar melemahkan Sudan sehingga mudah dikuasai. Terutama wilayah Darfur, karena strategis (jalur yang menghubungkan Sudan menuju Chad, Libya dan Republik Afrika Tengah) dan kaya akan cadangan berbagai jenis mineral (emas, tembaga, batu kapur dan tanah). Selain itu, Amerika dan Inggris mempunyai kepentingan politik yang sama di Sudan, yaitu menghentikan kebangkitan Islam yang bisa menjadi ancaman atas penjajahan mereka di sana. AS memainkan isu terorisme dan radikalisme untuk mencegah kebangkitan Islam dengan politik pecah belah dan adu domba.
Setelah Myanmar, Uyghur, India dan Gaza, kini Sudan menyusul terzalimi dan menderita. Kaum Muslimah di sana diperkosa, perumahan penduduk dan fasilitas umum dihancurkan. Ribuan nyawa kaum Muslimin di sana melayang seperti tidak ada harganya. Padahal nyawa seorang Mukmin sangat berharga di sisi Allah. Nabi saw. bersabda:
“Hancurnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan seorang Mukmin tanpa haq” (HR Ibnu Majah).
Ironisnya, para pemimpin Muslim berkhianat pada kaum Muslimin. Mereka justru bekerja sama dengan negara-negara Barat penjajah untuk menzalimi rakyatnya sendiri, sama seperti yang mereka lakukan terhadap Gaza, Uighur, Rohingya, dan India. Mereka tidak menggubris sabda Nabi :
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu (disakiti)” (HR al-Bukhari).
Penderitaan dan kezaliman yang bertubi-tubi ini karena umat Islam tidak memiliki pelindung yang ditakuti oleh para penjajah, yaitu Khilafah Islamiyah. Sebuah negara Islam berdasarkan Syariat-Nya yang akan mempersatukan seluruh umat Islam di dunia dengan dua tujuan : untuk melindungi Islam dalam pelaksanaannya secara kafah (menyeluruh) dan untuk melindungi umat Islam. Ini karena Khilafah adalah junnah (perisai) yang melindungi dan menjaga umat. Seperti sabda Nabi saw.:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tidak adanya Khilafah yang menjadi penyebab rangkaian penderitaan umat seolah tanpa akhir. Anehnya, umat masih saja berharap kepada pihak-pihak asing yang justru merekalah yang menjadi penyebab umat ini menderita.
Karenanya, umat Islam harus dinaikkan level berpikirnya sehingga mampu membaca seluruh problem dunia dalam kacamata ideologis. Umat harus sadar bahwa nyata adanya perang peradaban antara Islam dan ideologi non Islam. Umat pun harus disadarkan bahwa hanya sistem Islam (Khilafah) yang bisa diharapkan memberi solusi secara tuntas berbagai krisis baik politik, ekonomi, dan lain-lain; sehingga kerahmatan bisa tercipta di dunia. Kesadaran ini harus memotivasi umat untuk turut berjuang menegakkan Khilafah karena dorongan iman.
Persatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan Khilafah menjadi sesuatu yang wajib untuk diwujudkan; untuk melawan hegemoni negara-negara kafir Barat yang terus membuat umat Islam terjajah, terpecah dan menderita. Untuk itulah dibutuhkan berjuangan dakwah umat bersama jamaah dakwah ideologis yang istikamah mendakwahkan pentingnya penegakan Islam kafah dalam naungan Khilafah, sebagaimana dulu perjuangan Rasulullah beserta para sahabat untuk mewujudkan kehidupan Islam dengan berhijrah ke Madinah dan menegakkan Daulah Islam.
Saatnya umat bersatu dalam ukhuwah islamiyyah di bawah naungan Khilafah. Umat Islam sedunia harus menggalang kekompakan membangun kekuatan sebagaimana perintah Rasulullah saw, yaitu dengan mengangkat seorang Khalifah yang akan melindungi umat sedunia dari ancaman dan penderitaan. Semoga Allah SWT menyegerakan pertolongan kepada umat ini dengan tegaknya Khilafah, agar jihad bisa dilakukan untuk membebaskan wilayah negeri-negeri Islam yang terjajah; serta untuk menjaga kehormatan Islam dan penjagaan terhadap kaum muslimin.
Wallahualam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) https://www.republika.id/posts/59338/pembantaian-di-sudan-kian-brutal
(2) https://minanews.net/el-fasher-sudan-dilanda-krisis-lebih-dari-60-ribu-warga-mengungsi-dalam-empat-hari/
(3) https://news.republika.co.id/berita/t4x6ei393/rsf-menggila-di-sudan-bunuhi-warga-di-masjid-dan-rumah-sakit
(4) https://khazanah.republika.co.id/berita/t50rfg320/12-fakta-tentang-sudan-yang-jarang-diketahui-publik-berikut-penjabarannya-part6

Posting Komentar