Lonely in The Crowd, Dampak Buruk Sosial Media dalam Sistem Sekuler Liberal
Oleh : Umma Almyra
Fenomena media sosial dalam dua dekade terakhir telah mengubah wajah kehidupan manusia. Kehadiran platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) seolah menjanjikan keterhubungan tanpa batas. Manusia yang sebelumnya dibatasi ruang dan waktu kini bisa berinteraksi dengan siapa pun, kapan pun. Namun, keterhubungan digital ini tidak selalu identik dengan kedekatan yang nyata. Justru, semakin banyak orang yang merasa kesepian meski dikelilingi oleh jutaan “teman maya”. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah lonely in the crowd—kesepian di tengah keramaian.
Riset yang dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi bukti nyata fenomena ini. Dengan judul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”, penelitian ini mengungkap bahwa representasi digital seringkali dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Teori hiperrealitas yang mereka gunakan menunjukkan bahwa konten digital bukan sekadar hiburan, tetapi juga pembentuk emosi dan persepsi sosial. Seseorang bisa tampak “ramai” di media sosial, tetapi hatinya kosong, jiwanya rapuh, dan kehidupannya terasa sepi.
Fakta ini sejalan dengan laporan lain. Studi global yang dilakukan Cigna (2020) menemukan bahwa Generasi Z—generasi yang lahir di era digital—adalah kelompok yang paling rentan merasa kesepian. Sebanyak 79% Gen Z di Amerika Serikat mengaku merasa kesepian, meski mereka adalah generasi dengan interaksi digital tertinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah kesepian bukan sekadar kurangnya literasi digital atau manajemen waktu menggunakan gawai. Ada persoalan sistemik yang lebih dalam, yakni bagaimana peradaban kapitalisme-sekuler memosisikan manusia dan interaksinya.
Kesepian Massal dalam Era Digital
Hari ini, jutaan manusia hidup dalam hiruk-pikuk dunia maya. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir layar, menonton video pendek, atau membalas komentar. Namun, ironisnya, ketika layar itu ditutup, banyak yang merasa sendirian. Tidak ada teman sejati yang benar-benar memahami perasaan mereka. Tidak ada keluarga yang sungguh-sungguh mereka ajak bicara.
Kesepian ini bukan fenomena individu semata, melainkan gejala sosial. Ia menandakan adanya keretakan dalam struktur masyarakat. Sistem sekuler liberal yang mengatur kehidupan hari ini justru menumbuhkan pola hubungan yang rapuh. Kebahagiaan diukur dengan jumlah like dan followers, bukan dengan kedalaman ukhuwah. Relasi manusia lebih sering dibentuk oleh algoritma ketimbang oleh nilai-nilai persaudaraan sejati.
Di titik inilah kita menyaksikan betapa rapuhnya generasi muda. Mereka seharusnya berada pada fase produktif, penuh energi, dan kaya karya. Namun banyak di antara mereka yang justru terjebak dalam krisis identitas, kecemasan sosial, bahkan depresi. Fenomena lonely in the crowd menggerus daya juang generasi muda sehingga mereka kehilangan kepekaan terhadap problematika umat.
Kapitalisme dan Industri Media: Pencipta Kesepian Baru
Kita tidak bisa menutup mata bahwa industri media sosial berada di bawah kendali kapitalisme global. Platform-platform besar tidak diciptakan untuk mempererat hubungan manusia, melainkan untuk mengakumulasi keuntungan. Data pribadi pengguna menjadi komoditas, perhatian manusia dijual ke pengiklan, sementara algoritma dirancang untuk menciptakan kecanduan.
Fenomena ini melahirkan masyarakat asosial. Anak-anak lebih sibuk dengan gawainya ketimbang bercengkerama dengan orang tua. Suami-istri bisa duduk satu meja, tetapi tenggelam dalam layar masing-masing. Hubungan keluarga yang seharusnya hangat justru terasa dingin dan jauh.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya. Generasi muda yang kehilangan interaksi sosial nyata akan menjadi pribadi yang lemah. Mereka tidak terbiasa berdiskusi serius, tidak tahan dengan perbedaan, dan sulit berempati. Akibatnya, mereka mudah diombang-ambingkan arus informasi tanpa pijakan ideologis yang kokoh.
Allah ﷻ sudah mengingatkan:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."
(QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh larut begitu saja dalam arus informasi tanpa kendali. Namun, kapitalisme justru mendorong manusia untuk terus-menerus mengonsumsi informasi tanpa arah, sehingga akal dan hati mereka terkikis.
Dampak Buruk bagi Umat
Fenomena kesepian massal ini jelas berdampak buruk bagi umat. Pertama, umat kehilangan generasi produktif. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Generasi yang larut dalam kesepian dan asosial tidak akan mampu memberikan manfaat optimal. Potensi mereka terbuang sia-sia karena waktu habis dalam dunia maya yang semu.
Kedua, kepedulian sosial umat melemah. Padahal Islam menekankan ukhuwah dan solidaritas. _Rasulullah ﷺ bersabda:_
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi, bagaikan satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Muslim)
Namun, bagaimana mungkin umat bisa merasakan penderitaan saudaranya jika mereka sibuk dengan dunia maya, sementara hati mereka kosong? Kesepian membuat umat terjebak dalam lingkaran individualisme, padahal Islam menuntut kebersamaan.
Ketiga, kelemahan umat semakin nyata di hadapan musuh-musuh Islam. Generasi yang seharusnya menjadi penopang kebangkitan justru menjadi generasi rapuh yang tidak mampu memikul amanah dakwah.
Islam sebagai Solusi
Fenomena lonely in the crowd menunjukkan kegagalan sistem sekuler liberal dalam mengatur kehidupan manusia. Sistem ini menempatkan kebebasan individu di atas segalanya, bahkan ketika kebebasan itu merusak tatanan sosial.
Islam hadir dengan solusi komprehensif. Pertama, Islam meneguhkan identitas manusia sebagai hamba Allah, bukan sekadar konsumen dalam pasar digital. Seorang muslim diajarkan bahwa hidupnya punya tujuan jelas: beribadah kepada Allah ﷻ (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
Kedua, Islam menekankan pentingnya interaksi sosial yang nyata dan bermakna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa isolasi sosial bukanlah pilihan. Seorang muslim dituntut hadir dalam masyarakat, aktif menyelesaikan persoalan umat, bukan tenggelam dalam dunia maya.
Ketiga, Islam memberikan peran penting kepada keluarga. Orang tua wajib menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, membiasakan anak untuk berdialog, dan membangun kehangatan dalam rumah tangga. Dengan begitu, anak tidak mencari pelarian di media sosial.
Keempat, peran negara sangat krusial. Negara dalam Islam bukan hanya regulator ekonomi, tetapi juga penjaga moral dan pelindung umat. Negara harus memastikan bahwa teknologi digital digunakan untuk kemaslahatan, bukan sekadar untuk bisnis kapitalis. Negara juga berkewajiban mencetak generasi produktif yang siap memikul tanggung jawab dakwah dan kepemimpinan dunia.
Fenomena lonely in the crowd adalah potret nyata betapa rapuhnya kehidupan dalam sistem sekuler liberal. Media sosial yang awalnya menjanjikan keterhubungan justru menciptakan kesepian massal. Generasi muda yang seharusnya menjadi pilar umat kini terancam menjadi generasi rapuh.
Islam memberikan solusi yang kokoh. Identitas seorang muslim harus dikembalikan pada fitrahnya sebagai hamba Allah. Interaksi sosial harus dibangun di atas ukhuwah Islamiyah, bukan sekadar algoritma media. Keluarga harus menjadi benteng pertama, dan negara harus hadir sebagai pengarah peradaban.
Umat Islam tidak boleh terus-menerus menjadi korban sistem sekuler liberal. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kebangkitan sejati hanya akan terwujud jika kita kembali kepada Islam secara kaffah. Dengan itu, generasi muda tidak lagi kesepian di tengah keramaian, melainkan menjadi generasi yang kuat, produktif, dan peduli terhadap problematika umat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb

Posting Komentar