-->

Jebakan Media Sosial, Melemahkan Peran Generasi Muda dalam Kehidupan


Oleh : Asha Tridayana

Maraknya penggunaan media sosial telah memberikan banyak pengaruh pada kehidupan masyarakat terutama Gen Z. Mereka sangat erat dengan digitalisasi hingga setiap aktivitas yang dilakukan diekspos melalui media sosial agar mendapat respon dari pengguna lain. Seolah satu sama lain saling terhubung dan menjalin komunikasi. Namun, tidak disangka perasaan sepi masing-masing Gen Z tidak dapat dihilangkan malah memunculkan keterasingan dan gangguan kesehatan mental. Mereka lebih dominan dalam dunia maya sementara nihil dalam interaksi dunia nyata.

Realita ini menarik sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk melakukan penelitian dengan judul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual". Riset tersebut berhasil mendapatkan pendanaan dari Kemendiktisaintek. Berawal dari melihat kondisi masyarakat sekitar yang akhirnya menemukan hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan rasa kesepian.

Konten digital dianggap lebih nyata dibandingkan realitas itu sendiri. Padahal sering kali konten yang dibuat hanya rekayasa untuk menarik minat pengguna lain. Sementara konten terus disebarluaskan seperti konten kesepian yang lebih mudah membawa pengguna media sosial merasakan seolah mengalami hal serupa. Hingga mempengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial secara nyata. Melihat dampak yang sangat besar bagi Gen Z maka riset yang dilakukan akan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengembangkan strategi literasi digital dan manajemen penggunaan gawai (www.detik.com 18/09/25).

Tidak mengherankan terjadi fenomena kesepian di saat ramai bermedia sosial. Terlebih Gen Z yang memang dikenal sebagai generasi digitalisasi. Mereka mudah insecure, kesepian, moody dan lain sebagainya hingga berujung pada gangguan kesehatan mental. Hal ini disebabkan konten media sosial bebas diakses oleh semua kalangan sementara konten sangat bervariasi. Semakin sering berselancar di media sosial semakin mudah kondisi seseorang terbawa isi konten. Mereka lebih betah berlama-lama di dunia maya karena merasa terwakilkan perasaannya melalui konten yang beredar dibandingkan berinteraksi secara nyata.

Persoalan ini tidak sebatas karena kurangnya literasi digital ataupun manajemen penggunaan gadget. Karena sudah mempengaruhi pola pemikiran dan pola sikap seseorang. Sekalipun penggunaan dibatasi, tetap memicu keinginan untuk bermain gadget. Terdapat efek ketergantungan yang tanpa disadari sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan. Inilah dampak meluasnya industri teknologi dalam sistem kapitalisme yang berorientasi pada materi dan keuntungan. Tanpa peduli sejauh mana isi konten dapat merusak generasi. Selama mendatangkan cuan segalanya dapat dilakukan.

Selain itu, ketergantungan pada gadget juga mengakibatkan sikap asosial. Masyarakat khususnya Gen Z merasa kesulitan bergaul secara nyata. Terbiasa dalam dunia maya yang dipenuhi rekayasa sehingga dalam menyikapi realitas persoalan menjadi tidak berdaya. Dunia nyata terasa tidak menarik bahkan hubungan diantara anggota keluarga pun menjadi asing. Kehangatan keluarga tidak lagi dirasakan karena tidak banyak yang dapat dikomunikasikan dan lebih memilih sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Tidak cukup hanya itu, sikap asosial dan perasaan kesepian yang melanda generasi juga berdampak buruk dan merugikan umat. Mereka hanya fokus pada diri sendiri, tidak peduli dengan keadaan umat. Apalagi generasi muda seharusnya dapat lebih produktif dengan karya-karyanya. Potensi besar yang tersimpan justru terpendam dan tidak berdaya. Kemampuan berpikir kritis yang seharusnya melekat pada generasi muda tidak lagi mampu digunakan terlebih untuk mengindera persoalan umat. Mereka terjebak dalam kesepian dan sikap asosial yang membentengi diri dari perubahan hakiki.

Oleh karena itu, perlu penyadaran terhadap masyarakat khususnya Gen Z atau generasi muda agar melakukan perbaikan. Menyadari bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan tanpa tujuan jelas akan menambah fenomena sikap asosial dan perasaan kesepian dalam diri masyarakat. Terlebih lagi akan berpengaruh buruk pada kehidupan umat. Tentunya dengan melakukan perubahan mendasar yang mampu mengubah pola pikir dan pola sikap sehingga terbentuk pemahaman yang terealisasi dalam aktivitas keseharian.

Yakni mengembalikan identitas diri seorang muslim dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Islam tidak hanya ritualitas dan spiritualitas yang membatasi hidup seseorang. Justru Islam satu-satunya agama yang memiliki aturan kompleks dan mampu membentuk manusia sesuai fitrahnya. Berinteraksi secara nyata dan tidak mudah terbawa konten rekayasa.

Apalagi manusia dibekali akal oleh Allah swt untuk memahami aturan Islam dan menerapkannya dalam kehidupan. Sehingga akan berhati-hati dalam bertingkah laku dan senantiasa memiliki tujuan jelas dalam setiap perbuatannya sesuai syara'. Dengan begitu, tidak gampang menjadi korban industrialisasi kapitalis sekuler yang mengagungkan kebebasan. Asalkan mendapatkan keuntungan dapat menghalalkan segala cara.

Tentunya dibutuhkan peran negara dalam merealisasikan upaya setiap individu untuk menjalankan aturan Islam sepenuhnya. Karena melalui negara yang menerapkan Islam dapat memaksimalkan peran dan tanggung jawabnya dalam meriayah seluruh masyarakat agar terikat dengan hukum Allah swt. Termasuk dalam mengendalikan dunia digital agar dimanfaatkan sesuai syariat. Sehingga Gen Z pun menjadi lebih terarah dan memahami tujuan hidupnya. Mereka juga mampu menggali potensi besar dalam dirinya untuk menghasilkan karya. Bahkan menjadi lebih produktif karena pemikiran kritisnya tersalurkan. 

Tidak hanya itu, dampak yang lebih besar lagi menjadikan generasi muda dapat berkontribusi pada setiap persoalan umat dari mengindera, menganalisis dan memberikan solusi hakiki. Allah swt berfirman, "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk (QS Al-Kahfi [18]: 13).

Wallahu'alam bishowab.