-->

Polemik Study Tour, Stop Atau Lanjut


Oleh : Maulli Azzura

Kementrian perhubungan prihatin dengan banyaknya lakalantas yang menimpa para siswa yang sedang study tour saat ini.

Seperti kasus. Bus pengangkut siswa study tour menabrak truk di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (24/5/2024) malam. Satu siswa dan satu guru tewas dalam insiden itu. Polisi kini memburu sopir yang kabur dari lokasi kejadian. (kompas.id 25/05/2024)

Bus Study Tour SMP Cendikia Cirebon Terbakar di Yogyakarta, Tak Ada Korban (29/05/2024) https://dtk.id/NYXvcG

Acara perpisahan dan studi tour rombongan SMK Lingga Kencana, Depok, berakhir tragis di Jalan Raya Ciater, Subang. Pada Sabtu (11/5/2024) malam itu, kecelakaan maut terjadi yang menimpa bus Trans Putera Fajar yang mereka tumpangi. (detikjabar.com 30/05/2024)

Dengan banyaknya lakalantas yang terjadi akibat human eror driver atau mungkin armada yang kurang memperhatikan kelayakan jalan, akhirnya banyak pihak meminta study tour ditiadakan. 

Asumsi tersebut sebenarnya bukan asumsi yang tepat. Mengingat study tour dan kecelakaan adalah dua variabel yang berbeda yang tidak bisa dijadikan sebuah alasan suatu kesimpulan atau sebuah keputusan yang menjadi pertimbangan ada dan ditiadakannya study tour tersebut. Jika kita menelisik lebih jauh, tentu kecelakaan diluar kehendak manusia. Karena manusia hanya berusaha agar suatu aktivitas bisa terencana dan terealisasi dengan baik.

Bagi sebagian orang terutama kampung yang orang tuanya berpenghasilan rendah, menilai study tour memberatkan, disisi lain bahwa anak ketika menginjak dewasa atau baligh mereka wajib mengetahui dunia luar. Belum lagi psikologis anak ketika mereka tidak ikut dalam acara study tersebut, pastilah kita semua pernah mengalaminya, seolah hasrat itu membuat kita minder. Ada lagi banyak yang mengira ini sebuah ladang bisnis menjanjikan bagi para guru. Jadilah sebuah polemik ditengah masyarakat. Lalu bagaimana yang seharusnya?.

Sebagai seorang Muslim tentu kita berpandangan berbeda terhadap asumsi tersebut. Terlebih study tour banyak mengajarkan kepada anak-anak bagaimana ketika mereka keluar. Yang paling penting kita memanage aktivitas tersebut dengan baik yang disandarkan pada syariat Islam. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan bisa menjadi pelajaran berharga ketika mereka sepulang dari study tour tersebut.

*Pertama, terkait masalah tujuan atau tempat yang akan dikunjungi merupakan tempat yang memang bukan area berbahaya atau bisa mengancam jiwa siswa. Tentunya akan banyak manfaat jika kita mengarahkan ke tempat bersejarah dan mengandung nilai-nilai ke-Islaman, sehingga anak bisa tahu sejarah dengan bimbingan para pendamping study tersebut. Misal diarahkan ke tempat perusahaan atau sebuah aktivitas bisnis syar'i dan sebagainya. Bagaimana perjalanan sebuah bisnis ( modal, karyawan, sistem upah dan seterusnya ) ini kan bisa menambah wawasan mereka. 

*Kedua* pastikan ketika kita memesan bus atau armada yang akan dipakai sesuai dengan kriteria layak jalan dan pastikan juga rundown acaranya, tujuannya bukan dari mereka yang mengatur. Misal seperti berangkat waktu sholat tiba, memisahkan antara ikhwan dengan akhwat, jadi dalam akad ijarotul ajir diusahakan mereka yang mengikuti aturan kita sebagai penyewa jasa (musta'jir). 

*Ketiga* memanage biaya dan hemat pengeluaran seperti penginapan, harga sewa bus yang jauh-jauh hari sudah di booking agar lebih rendah dari price (harga) saat angka sewa armada melonjak. Meski begitu baik ajir maupun musta'jir sama-sama ridho dan adil. Ajir mendapatkan keuntungan bisnis dan musta'jir mendapatkan pelayanan yang maksimal.  Disini juga kita secara otomatis mengajarkan kepada siswa bagaimana mereka mengeluarkan biaya tanpa membebani orang tua (menabung) dan mengajarkan ke mereka tentang fiqih muamalat (sewa menyewa armada). Sehingga ketika acara study tour tiba, siswa bisa ikut dan orang tua/wali tidak keberatan misal ada penambahan biaya yang dirasa belum cukup. Dengan demikian tidak ada yang beranggapan ini dan itu hanya mengambil keuntungan. 

*Keempat* setelah selesai acara study tour, diharapkan pada semua siswa untuk membuat dan menuliskan pengalaman berharga tersebut baik mulai dari titik awal hingga sesampai tujuannya. Ibroh apa saja yang mereka peroleh, sehingga acara tersebut benar-benar berkesan dan bernilai positif. 

Dengan demikian cukup jelas bagi kita bagaimana yang seharusnya disikapi dengan benar. Terkait kecelakaan armada, meski diluar kendali manusia, disini ada sebuah indikasi abainya dinas perhubungan untuk membuat aturan keselamatan yang mana didalamnya hanya dijadikan ladang bisnis dan suap menyuap sehingga banyak armada yang tidak layak jalan-pun bisa lulus uji. Artinya banyak oknum-oknum pegawai hingga wirausahawan armada pariwisata yang melakukan kemaksiatan hingga menghilangkan banyak nyawa.

Andai aturan yang mengikat didalamnya sesuai dan terukur dengan baik dan disandarkan pada tolabul 'ilmu sebagaimana Rasulullah wajibkan bagi umatnya, tentu acara study tour akan bernilai ibadah. Ibadah bagi semua pihak yang terkait dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana pengalaman dunia luar, serta penyikapan kedewasaan tata cara bergaul dengan benar, edukasi yang benar, atau mereka menjadi tahu batas-batas yang syariat larang dan syariat perbolehkan. Jadi marilah lebih bijak dalam menentukan tindakan dengan pola pikir yang jernih, hingga tidak ada prasangka-prasangka buruk yang akan menjadikan keributan antar saudara sesama muslim.

Wallahu A'lam Bishowab