-->

Akhiri Penjajahan Palestina Dengan Solusi Hakiki


Oleh: Hamnah B. Lin

Gelombang demo besar-besaran terus meluas. Para akademisi turun ke jalan menunjukkan solidaritas terhadap warga Palestina. Mulai dari Amerika Serikat, Eropa, hingga ke Asia. Seluruh mahasiswa unjuk rasa menuntut pemerintah dunia mengambil tindakan tegas agar Israel berhenti melancarkan operasi militernya di Gaza. 

Mereka terus menyerukan gerakan agar perguruan tinggi melakukan divestasi dari perusahaan yang mendukung Israel. Mereka meyakini perusahaan-perusahaan itu mendukung dan mendanai serangan Tel Aviv di Gaza (CNBC Indonesia, 11/6/2024).

Serangan udara yang dilakukan militer Israel ke Camp Pengungsian di Rafah, pada Kamis (30/5/2024) mendorong gelombang aksi bela Palestina di sejumlah wilayah di Indonesia. Hal ini juga terjadi di Kota Bogor. Seperti yang dilakukan Lembaga Kemanusiaan Salam Aid pada Sabtu (1/6/2024) pagi. Mereka menggelar Aksi Solidaritas bertajuk "Dari Bogor Untuk Palestina" di kawasan Tugu Kujang.

Pencaplokan entitas Y4hudi atas tanah Palestina sesungguhnya merupakan hasil kerja kaum kuffar yang memakan waktu lama. Ini bukan proses pertempuran yang bermula pada 7 Oktober lalu saja, melainkan sudah terjadi sejak kaum muslim mulai disusupi pemikiran asing hingga institusi kekhalifahan runtuh.

Keputusan negeri-negeri muslim untuk mencukupkan diri dengan memberi kecaman maupun usulan resolusi-resolusi yang berujung pada pengkhianatan entitas Y4hudi bukan tanpa alasan. Terbelenggunya gerak kaum muslim untuk membebaskan Palestina adalah buah dari penjajahan pemikiran dan runtuhnya kekhalifahan Islam.

Melalui penjajahan pemikiran, kaum kuffar berhasil memenjarakan kaum muslim dalam sekat-sekat geografis dan euforia nasionalisme. Atas dasar ini, setiap negara dianggap  memiliki hak dan kebebasannya masing-masing. Nasionalisme membuat batasan, mana yang menjadi urusan dalam dan luar negeri satu negara. Kalaupun menunjukkan kepedulian, nilai kemanusiaanlah yang menjadi pendorong, bukan kerangka akidah.

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Jelas, nasionalisme telah menggeser kedudukan ikatan akidah pada nomor kesekian.

Maka sungguh, panas semangat menggeloranya umat dalam aksi solidaritas bela Palestina ini, menjadi bukti bahwa umat masih mempunyai kepedulian terhadap saudaranya di Palestina. Gemuruh aksi ini harus diarahkan menuju permintaan penerapan syariat Islam secara kaaffah dalam intistusi negara Khilafah. Sebuah negara yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan dengan penerapan syariat Islam guna mengatur seluruh aspek kehidupan umat.

Mengapa harus khilafah, karena khilafah adalah bagian dari sistem pemerintahan Islam yang menjadi titah  Sang Pencipta Alam. Juga melihat realitas politik hari ini, tidak mungkin kaum muslim mengharapkan pihak lain, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk menolong mereka. Justru PBB juga terlibat dalam kelahiran dan pengakuan negara Yahudi tersebut. Mustahil pula meminta bantuan kepada negara-negara Barat karena mereka, baik AS maupun Uni Eropa, mendukung kaum Yahudi penjajah. Amerika Serikat akan mengerahkan bantuan militer saat ini. Secara rutin mereka pun setiap tahun menggelontorkan USD3,8 miliar (lebih dari Rp54 triliun) untuk keperluan militer kaum Yahudi.

Juga karena permasalahan utama dan mendasar atas berbagai problem umat Islam sesungguhnya karena ketiadaan institusi pemersatu, yakni kekhalifahan Islam. Institusi yang diruntuhkan melalui konspirasi Y4hudi ini sesungguhnya merupakan kunci bagi kemenangan kaum muslim. Untuk itu, negeri-negeri kaum muslim harus terlebih dahulu melepaskan belenggu nasionalisme yang menjerat mereka dan bersatu dalam kekhalifahan Islam.

Sedangkan dalam kondisi mendesak saat ini, yang dibutuhkan rakyat palestina adalah jihad. Negeri - negeri kaum muslim mengirimkan tentara - tentaranya untuk mengusir tentara dan pendudukan Israel dari tanah Palestina. Hal ini membutuhkan kesatuan global dunia yang dimulai dari kesamaan pemikiran dan arah gerak.

Alhasil, pergerakan umat hari ini harus terus dalam rel nya, yakni meminta penerapan syariat Islam dan tegaknya institusi khlafah sebagai perisai dan pelindung umat manusia.
Wallahu a'lam.