-->

Generasi Islam, Generasi Fiisabilillah, Bukan Generasi Bullying

Oleh: Maulli Azzura

Kasus bullying yang terjadi di Bengkong Sadai, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), pada Minggu, 29 Februari 2024, menjadi luka pilu yang mendalam bagi dunia anak khususnya di Kota Batam. Anak yang seharusnya menjadi masa menyenangkan berubah menjadi masa yang pilu dengan ada nya kasus perundungan (bullying) yang kerap kali terjadi. (BatamNews.com 02/03/2024)

Miris sekali kasus bullying pelajar yang tidak kunjung ada habisnya. Pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa, kini lebih banyak dijumpai dengan berbagai kasus tindak kriminal dan kekerasan. Tentu hal ini menjadi PR bagi kita semua mengingat bahwa pemuda kini menjadi sasaran empuk untuk melancarkan penjajahan barat yang tidak kita sadari sudah menyerang.

Pemuda adalah Suatu peradaban yang maju atau tidaknya tergantung kepada pemuda yang ada di dalam suatu negara. Tentu untuk itu pemuda yang ada haruslah pemuda yang berintelektual dan mempunyai kualitas yang mumpuni serta memiliki visi dan misi yang jelas dalam hidupnya. Bukan pemuda yang mencari jati diri dengan tes keberanian untuk bullying bahkan sampai membunuh dan menyerang secara brutal demi eksistensi diri agar nampak keren dan di segani.

Akar dari masalah yang ditimbulkan oleh pemuda, tak lain adalah sekulerisme yang menciptakan generasi minim ilmu agama dan menyuguhi nya dengan berbagai macam kebebasan yang berlaku. Paham yang menuntun mereka dengan slogan "Yang penting Happy " menjadikan pemikiran dan perasaan mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Maka konsep halal haram pun akan mereka lewatkan dengan slogan tersebut.

Seperti ini lah jika sekulerisme sudah menguasai generasi. Kapitalisme mengomersilkan pendidikan dan pencapaian nilai-nilai akademik menjadi fokus utama sehingga abai terhadap pembinaan kepribadian pelajar. Ditambah lagi dengan abai nya pemerintah dalam menyelesaikan masalah dengan hukum pisau dapurnya, malah menjadikan generasi semakin bebas menerapkan slogan dengan alasan menikmati masa muda.

Pernahkah kita merasakan bagaimana bila bullying itu berlanjut dan terus-menerus menimbulkan dendam antar pemuda?. Dan bukan hanya itu, lalu bagaimana dengan korban yang tidak bersalah yang hanya takut dikucilkan karena tidak melakukan pembullyan/tidak bergabung dalam geng-geng ciptaan para remaja, maka terpaksa mereka pun akan ikut terseret di dalamnya?.

Jika sudah memahami akar masalah adalah sekulerisme, maka masihkah percaya pada kapitalisme dalam menyelesaikan masalah pemuda? Untuk itu, saatnya mengganti sistem  kufur dengan sistem yang shahih, yakni sistem Islam. Islam memiliki konsep yang jelas dan tegas dalam menyelesaikan masalah bullying pelajar. Islam akan menjaga pemudanya dari kerusakan. Maka dalam sistem Islam (Khilafah) pemuda akan dibina dan diberdayakan

Sistem Islam akan membina pemuda menjadi berkepribadian yang Islami dengan memberikan pembinaan akidah yang kuat, serta tsaqofah yang mumpuni sehingga akan lahir pemuda-pemuda Fiisabilillah yang akan memperjuang keadilan dan kemaslahatan untuk umat.

Wallahu A'lam Bishowab