-->

Tingginya Beban Hidup, Mematikan Fitrah Keibuan

Oleh: Yuniasri Lyanafitri

Insiden tragis kembali terjadi di Desa Membalong, Kabupaten Belitung. Seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun diduga membunuh dan membuang bayinya yang baru lahir di pondok kebun tetangganya. Perilaku keji tersebut dilakukan karena motif ekonomi. Pelaku mengaku terdesak secara finansial karena sudah memliki dua orang anak dan menganggap tidak akan mampu untuk memikul tanggungan anak lagi. Hal ini karena pelaku hanya seorang buruh, begitu juga dengan suaminya. Sehingga pelaku pun tega membunuh anak ketiganya ini. Menurut pihak kepolisian, pelaku melakukan aksinya tanpa bantuan siapapun. Bahkan sang suami pun sangat terkejut saat mengetahui aksi istrinya tersebut. (www.bangka.tribunnews.com 23/01/2024)

Kejadian mengerikan ini sudah kerap terjadi akhir-akhir ini. Tragisnya, motif dibalik kekejian tersebut hanyalah karena materi. Dari masalah ekonomi berujung pada tindak pidana. Saat ini uang mampu membutakan kemanusiaan manusia. Perseteruan, saling sikut kini lumrah terjadi dalam hubungan keluarga, antar saudara, anak dengan orang tua, bahkan mampu mematikan fitrah seorang ibu yang seharusnya mengasihi dan melindungi anaknya. Tentu hal ini menjadi pertanyaan besar tentang sebab yang mendasari perilaku amoral tersebut.

Melihat dari sisi individunya, manusia saat ini hidup dengan aturan yang membebaskan setiap aktivitasnya. Semua aturan diterabas. Apapun dapat dilakukan untuk memenuhi keinginannya. Namun, di sisi lain secara mental sangat rapuh. Hal ini ternyata karena lemahnya keimanan seseorang apalagi sebagai muslim. Terbukti dengan ditinggalkannya aturan agama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Halal-haram tidak lagi menjadi patokan manusia dalam memutuskan perbuatannya. Sehingga suatu keniscayaan perbuatan amoral dapat terjadi dengan mudahnya.

Manusia tidak lagi takut untuk berbuat yang mengundang murka Allah swt. Kesadaran akan hubungannya dengan pencipta telah hilang lenyap tak tersisa. Manusia lupa posisinya sebagai hamba yang serba terbatas dan butuh dengan kuasa penciptanya. Oleh karena itu, manusia akan sangat rapuh saat terjadi peristiwa yang diluar kendalinya. Akhirnya ia mampu melakukan hal sampai di luar batas untuk menenangkan nafsunya.

Kerusakan pribadi individu ini terjadi terus menerus akibat dari lingkungan yang mendukung dengan membiarkan perilaku tercela. Ditambah, rendahnya kesadaran untuk segera mencari solusi yang mengakar. Hingga lama-kelamaan tumbuh kepribadian yang lemah dan rapuh. Lingkungan yang buruk tersebut juga membentuk rendahnya kepedulian masyarakat dengan tingginya egoisme. Saling mengingatkan pun menjadi hal buruk karena opini yang terbentuk tidak boleh ikut campur dengan urusan orang lain. Padahal hal ini akan menjadi rentetan dampak pada tidak berfungsinya peran keluarga yang seharusnya menjadi pelindung dan pencetak generasi unggul.

Seorang ibu yang berperan penting dalam mencetak generasi unggul malah terbebani dengan pemenuhan biaya hidup yang kian melambung tinggi. Bagaimana untuk tidak  terpikirkan sebagaimana pelaku kasus tersebut, biaya membesarkan anak saat ini sangat tinggi. Mulai dari buaian sampai urusan pendidikan yang layak pun hanya mampu diraih orang-orang yang berduit. Untuk orang-orang yang hanya cukup untuk makan, merasa tidak akan mampu untuk merawat dan membesarkan anak. Tentu hal ini bukan hanya sekadar karena malas bekerja atau malas berusaha untuk mencari nafkah, tetapi juga karena faktor lain yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola hidup yang rusak ini.

Faktor lain tersebut merupakan sistem hidup yang memiliki seperangkat aturan hingga membentuk kebiasaan manusia dalam mengukur benar-salah. Sistem yang menjauhkan manusia dengan aturan agama. Semua hal diputuskan oleh terbatasnya pemikiran manusia. Padahal manusia juga dilengkapi dengan nafsu. Sehingga aturan yang diterapkan seringkali hanya berdasarkan nafsunya.

Hal ini tentu akan mendatangkan banyak masalah di kemudian hari. Oleh karena itu, semakin menegaskan bahwa berulangnya kasus serupa membuktikan sebab masalah bukan hanya pada kesalahan individu melainkan pada kerusakan lingkungan hidup dan sistem hidup yang diterapkan secara global. Sehingga masalah yang terjadi semakin carut marut. Solusi penyelesaian yang ditawarkan pun hanya mencakup permukaan. Bahkan malah sering menimbulkan masalah baru sebagaimana efek domino.

Ditambah, rakyat malah dituntut mandiri untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan dasarnya. Sehingga rakyat tertekan dan hidup dibawah rasa was-was untuk memikirkan kehidupannya esok hari. Sistem yang rusak itu tak lain adalah sistem kapitalis sekuler. Sistem yang memisahkan antara kehidupan dengan aturan agama.

Kapitalis sekuler terus menerus menggerus ketahanan iman per individu rakyatnya. Dan negara sama sekali tidak mengupayakan penjagaan keimanan tersebut. Malah bersikap tak acuh seolah bukan menjadi tanggung jawab utamanya. Bahkan sedikit demi sedikit menjerumuskan rakyat ke dalam lubang kemaksiatan. Rakyat dibutakan oleh kebutuhan hidup yang tinggi. Hingga melalaikan kewajibannya sebagai seorang makhluk kepada Penciptanya. Ibarat kata "ora edan, ora keduman" (Kalau tidak ikut sebagaimana mayoritas maka tidak bakal kebagian jatah).

Akhirnya rakyat mampu bersikap bengis, kejam, dan menghalalkan segala cara untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Sungguh negara tidak peduli dengan kesejahteraan rakyatnya apalagi kondisi keimanannya.

Negara hanya bertindak sebagai pengusaha yang terus melucuti apapun dari rakyat selama bisa menguntungkan kepentingan dan kekuasaannya. Mekanisme penjagaan kepada masyarakatnya sama sekali tidak diterapkan negara saat ini.

Padahal seharusnya negara memiliki kewajiban menjamin kesejahteraan ibu dan anak melalui nafkah. Negara juga mampu menciptakan suasana keimanan dengan dukungan dari masyarakat. Ditambah, negara memberi santunan atau bantuan modal kepada rakyatnya yang ingin berusaha tetapi memiliki keterbatasan.

Oleh karena itu, keinginan mewujudkan negara yang ideal yang mampu menyelesaikan setiap masalah hingga ke akar berarti harus mengganti sistem hidup yang rusak tersebut. Karena sistem hidup yang rusak akan berdampak besar bagi kehidupan rakyat pada setiap aspeknya. Dengan kata lain, membuang sistem yang terus menjerumuskan manusia kepada kemaksiatan dengan mudahnya.

Dan hanya dengan sistem Islam yang diterapkan pada institusi negara yang berasal dari Pencipta manusia yang mampu menjaga keimanan manusia. Negara dengan sistem Islam atau bisa disebut khilafah akan mewujudkan suasana keimanan dimanapun dan kapanpun. Karena Islam memiliki seperangkat aturan hidup, seperti sistem ekonomi dan politik yang meniscayakan ketersediaan dana untuk mencukupi kebutuhan setiap individu rakyatnya.

Aturan Islam yang berasal dari Allah swt tentu sesuai dengan kebutuhan hidup manusia. Karena memang hanya Allah swt Yang Maha Mengetahui semua kondisi makhluknya. Jadi, kenapa mesti ragu untuk menerapkan aturan Islam secara total, apalagi notabenenya sebagai seorang muslim yang mendamba surga-Nya.

Allah swt berfirman, "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah : 50)

wallahu'alam bishshowwab