-->

Gagal Caleg Berujung Stress, Buah Politik Demokrasi Kapitalisme

By: Hasna Hanan

Sejumlah rumah sakit menyiapkan ruangan khusus untuk mengantisipasi calon legislatif (caleg) yang mengalami stres atau gangguan jiwa akibat gagal dalam pemilihan legistlatif (Pileg) di Pemilu 2024. (KOMPAS.TV)

Rumah Sakit Oto Iskandar Dinata, Soreang, Bandung Jawa Barat, misalnya,  salah satu rumah sakit yang menyiapkan ruangan khusus untuk caleg yang mengalami gangguan mental, sekaligus juga dokter spesialis yang menanganinya

Sementara itu dikutip dari laman berita ANTARA, Psikiater sekaligus Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional DR Dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ menyebut, tak sedikit caleg kalah suara yang akhirnya berobat ke psikiater, menyatakan bahwa mereka tidak dapat menerima kekalahan tersebut. Bahkan, tidak hanya caleg yang berobat, namun keluarga hingga tim sukses mereka juga tak jarang yang turut mengalami stres hingga gangguan kesehatan mental akibat kekalahan tersebut.

“Semua kembali ke intensi atau tujuan dari calegnya, kalau intensinya memang kompetisi sehat, tujuannya jelas, punya visi-misi dan lain sebagainya, saat kalah atau menang itu akan sama seperti di kontestasi lainnya,” Nova menjelaskan.

Miris melihat politik kapitalisme hari ini yang penuh dengan intrik dan politik uang dengan transaksi yang jumlahnya melebihi 6 digit angka, hanya demi kekuasaan yang ternyata bila gagal ujungnya adalah kerusakan mental hingga mempertaruhkan nyawa.

Ambisi kekuasaan dan iming-iming materi yang akan membawa pada angan-angan kebahagiaan dunia telah meracuni pemikiran para caleg, sehingga ketika tujuannya tidak untuk melayani kepentingan rakyat dan disorientasi dari tujuan pemilu itu sendiri, maka akan berguguran caleg yang kalah kecewa di bangsal-bangsal rumah sakit jiwa, tidak terima dengan semua harta yang telah ia korbankan meski menghalalkan segala cara. Naudzubillahi mindzalik

Kapitalisme biang cacat mental para caleg

Apa yang tidak membuahkan kerusakan di sistem kapitalisme demokrasi ini, selain keburukan dan solusi persoalan rakyat yang tidak tuntas, malah sebaliknya menyalahi fitrah manusia dalam menyelesaikan persoalan hidup.

Kapitalisme dengan landasan dasarnya sekulerisme jelas- jelas telah memisahkan tuhan sang Kholiq untuk mengatur kehidupan, tapi keberadaan nya hanya untuk mengatur ibadah ritual saja, dan paham ini tidaklah berlaku dan berhak disematkan kepada Islam dan kaum muslimin.

Akan tetapi kehidupan kaum muslimin saat ini telah terkungkung di alam yang serba kapitalisme, jauh dari pemahaman Islam yang shohih yaitu Islam adalah sebuah mabda' peradaban yang tinggi.

Oleh karenanya tidaklah heran ketika politik kekuasaan dalam demokrasi akan diselimuti hawa nafsu kekuasaan materi dari hulu hingga hilir dari awal pencalonan dengan uang(materi) untuk tujuan akhirnya kekuasaan+materi(uang).

Dan faktanya terjadi pada  pemilu hari ini yang berbiaya tinggi, sehingga pasti membutuhkan perjuangan dengan mengerahkan segala macam cara untuk meraih kemenangan. 

Di sisi lain, hari ini jabatan menjadi impian, karena dianggap dapat menaikkan harga diri /prestise, juga jalan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kemudahan/fasailitas lainnya.

Kekuatan mental seseorang akan menentukan sikap seseorang terhadap hasil pemilihan. Pendidikan hari ini berpengaruh terhadap kekuatan mental seseorang. Dan faktanya juga p,endidikan hari ini gagal membentuk individu berkepribadian kuat, terbukti meningkatnya kasus gangguan mental di Masyarakat.

Islam Solusi Tuntas Gangguan Mental

Islam sebagai sistem kehidupan yang lengkap telah memberikan aturan yang menjadikan kehidupan manusia berjalan sesuai dengan syariat sang Kholiq Allah SWT, karena kelemahan dan keterbatasan manusia inilah maka membutuhkan aturan TuhanNya bukan malah sebaliknya, membuangnya dan membuat aturan sendiri untuk mengatur manusia yang lain, ini artinya manusia harus tunduk dan menghamba pada aturan buatan manusia dengan sifat lemah dan terbatasnya.

Oleh karenanya Islam akan menjaga manusia dengan syariat Islam melalui berbagai mekanisme aturan kehidupan, agar tidak masuk kedalam jurang kerusakan dan keburukan seperti pada kondisi cacat mental, depresi, stres dan lainnya ketika mengarungi dan menjalankan fungsinya sebagai penguasa, maka mulai dari aspek pendidikan didalam Islam, akan menanamkan sosok individu yang tidak hanya ahli dalam keilmuwan dunia tetapi juga seorang rahib yang ahli akhirat, sehingga keimanan akan membawa seorang penguasa muslim menampakkan kepribadian Islam yang khos dan pribadi yang kapabel serta berintegritas tinggi dalam menyelesaikan persoalan umat tanpa tergiur dengan harta, tahta dan wanita yang tidak halal baginya.

Oleh karenanya sistem pendidikan Islam  menghantarkan individu menjadi orang yg memahami kekuasaan adalah amanah dan beriman pada qadha dan Qadar yanag telah ditetapkan Allah, dan melahirkan individu yang selalu dalam kebaikan karena selalu bersyukur dan bersabar, terhindar dari gangguan mental.

Wallahu'alam bisshawab