-->

Badai PHK Terus Menghantam, Masa Depan Kian Suram

Oleh: Erna Ummu Azizah

Kebangkrutan demi kebangkrutan melanda perusahaan-perusahaan, baik dalam maupun luar negeri. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) pun kian menghantui. Ratusan hingga ribuan karyawan harus siap menerima pil pahit diberhentikan dari pekerjaan.

Dilansir dari Reuters, Jumat (16/2), "Nike berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2 persen dari total karyawan atau sekitar 1.600 orang. Keputusan tersebut diambil demi memangkas biaya operasional perusahaan setelah mengalami penurunan laba." (CNN Indonesia, 16/2/2024)

Begitupun, "Bisnis perusahaan kosmetik asal Inggris, The Body Shop telah terjerumus ke dalam administrasi atau di ambang kebangkrutan, menempatkan 2.000 pekerja dalam risiko pemutusan hubungan kerja (PHK)." (Kumparan, 24/2/2024)

Sedangkan dalam negeri, "Pemutusan hubungan kerja atau PHK di industri tekstil dan produk tekstil masih terus berlanjut sejak tekanan ekonomi pandemi hingga saat ini. Kabar teranyar, dua perusahaan tekstil di Semarang, Jawa Tengah, mem-PHK sekitar 5.300 pekerjanya. Penyebabnya, permintaan di pasar ekspor menurun di tengah pelemahan ekonomi global dan pasar dalam negeri yang tertekan karena dibanjiri produk impor." (Kompas, 21/2/2024)

Sungguh miris, di tengah ekonomi sulit dengan berbagai beban hidup yang menghimpit, badai PHK pun terus menghantam. Tentu kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan, terlebih dunia saat ini tengah menghadapi kemiskinan ekstrem. Terbayang masa depan generasi pun kian suram. 

Potret Buram Sistem Ekonomi Kapitalisme

Tak dipungkiri, saat ini sistem ekonomi Kapitalisme telah mencengkeram hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sistem ekonomi ini tak hanya bergerak di sektor riil, namun juga sektor non-riil, hingga muncul transaksi yang menjadikan uang sebagai komoditas, seperti bursa efek dan saham, perbankan sistem ribawi, juga asuransi.

Hal ini menyebabkan turunnya produksi dan investasi di sektor riil yang akhirnya mendorong kebangkrutan perusahaan dan PHK, serta pengangguran. Ditambah lagi dalam sistem ini, negara hanya berfungsi sebagai regulator (pembuat kebijakan), sehingga berlepas tangan terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Maka tak heran dalam sistem kapitalisme, yang kaya makin kaya, yang miskin kian sengsara. Karena hanya mereka yang memiliki modal besarlah yang akan berjaya. Sedangkan rakyat di bawah hanya bisa hidup pas-pasan, itupun masih bersyukur jika mampu bertahan hidup.

Sistem Ekonomi Islam Membawa Kesejahteraan

Sejarah membuktikan bahwa ketika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan, maka kesejahteraan mampu diwujudkan. Seperti halnya pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, semua rakyatnya hidup berkecukupan, hingga petugas zakat pada saat itu tidak menjumpai seorang pun dari rakyatnya yang hidup miskin.

Islam hanya akan mengembangkan ekonomi di sektor riil, seperti perdagangan, pertanian, perindustrian, kelautan, kehutanan, tambang dan sebagainya. Sedangkan sektor non-riil seperti bursa saham, asuransi dan perbankan ribawi diharamkan dalam Islam.

Sistem ekonomi Islam akan memberlakukan mata uang berbasis emas dan perak (dinar-dirham) yang tidak bergantung pada mata uang lain sehingga bebas krisis moneter. Sistem ekonomi inilah yang akan mewujudkan ekonomi yang tumbuh stabil, bebas krisis dan berkeadilan.

Negara dalam sistem Islam akan mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh warganya, baik muslim maupun non-muslim. Mekanismenya yaitu dengan cara menyediakan lapangan kerja yang seluas-luasnya untuk para laki-laki, karena di pundak merekalah kewajiban mencari nafkah berada.

Bagi warga negara yang ingin membuka usaha, maka negara pun akan memberikan kemudahan baik dalam masalah modal tanpa bunga, maupun pelatihan skill/keterampilan. Negara juga akan melindungi industri dari persaingan tidak sehat. Intinya negara itu akan memberikan perlindungan dan kemudahan-kemudahan bagi rakyatnya tanpa birokrasi yang berbelit dan tanpa pungutan pajak.

Dengan mekanisme seperti ini maka tak akan ada rakyat yang menganggur. Dan insya Allah semua kebutuhannya bisa tercukupi, baik itu sandang, pangan maupun papan. Sedangkan, masalah pendidikan, kesehatan dan keamanan itu akan dijamin oleh negara dengan memberikan fasilitas, sarana dan prasarana secara cuma-cuma. Dimana dananya ini bersumber dari hasil pengelolaan SDA oleh negara yang masuk ke pos kepemilikan umum Baitul Maal.

Sungguh hanya dalam sistem Islam masalah pengangguran bisa diatasi hingga tuntas. Hingga terwujud kesejahteraan dan keberkahan bagi seluruh rakyatnya karena itu adalah amanah seorang pemimpin dalam Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Seorang imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a'lam bish-showab.[]