-->

Kepentingan Kapital Dibalik Banjir Berulang!

Oleh: Fitriani, S.Hi - Guru dan Aktivis Dakwah

Banjir yang terus berulang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia beberapa waktu ini termasuk di wilayah Riau sehingga menyebabkan 6.467 warga mengungsi karena banjir Kepala BPBD Riau M. Edy Afrizal dalam keterangannya di Pekanbaru,  

mengatakan jumlah korban banjir di Provinsi Riau terus bertambah. Pihaknya mencatat jumlah warga provinsi itu yang mengungsi akibat banjir sudah mencapai 6.467 jiwa.

BPBD mencatat jumlah pengungsi terbanyak adalah warga Kabupaten Rokan Hilir, yakni 3.992 orang lantaran rumah mereka terendam banjir. "Di Kabupaten Kepulauan Meranti tercatat sebanyak 2.240 jiwa yang mengungsi akibat terdampak banjir. Di Kabupaten Bengkalis ada 191 jiwadan di Kota Dumai 44 orang. Kita turut berduka, karena banjir mengakibatkan empat meninggal. Sebanyak 4.686 kepala keluarga (KK) atau 18.744 jiwa warga Riau yang terdampak," katanya. (cnnindonesia.com,13/01/2024)

Tidak hanya itu, di Jakarta hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari juga mneyebabkan banjir. Yang mengakibatkan lima rukun tetangga (RT) dan enam ruas jalan di DKI Jakarta terendam banjir. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menjelaskan bahwa terjadi peningkatan genangan dari tiga RT menjadi lima RT, mencakup 0,016 persen dari total 30.772 RT. Enam ruas jalan juga masih tergenang.

Wilayah yang terdampak mencakup lima RT, termasuk tiga RT di Kelurahan Duren Tiga (Jakarta Selatan) dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter (cm) akibat hujan deras dan luapan Kali Mampang. Sementara itu, dua RT di Jakarta Timur mengalami genangan dengan ketinggian 30 cm, juga akibat curah hujan tinggi, kata Isnawa (beritasatu.com,11/01/2024)

Sungguh miris!. Fakta yang kita lihat tentang banjir memang masih menjadi masalah dinegeri ini. Pasalnya bukan baru sekali atau dua kali ini terjadi tapi sudah terus berulang-ulang bahkan hampir diseluruh wilayah dinegeri ini. Hal ini terjadi karena persoalan banjir ini tanpa solusi konkret hingga terus berulang kali terjadi.

Pertanyaannya adalah mengapa banjir terus terjadi dan  berulang setiap tahunnya? Jika kita perhatikan hal ini bukan karena factor alam semata atau karena tidak berfungsinya drainase, resapan air atau kurangnya kanal. Tapi lebih dari itu, masalah yang tersistemik yang lahir dari diterapkannya system kapitalistiklah penyebabnya. Adanya alih fungsi lahan  dan semakin terdegradasinya luasan hutan  serta adanya deforestasi menjadi faktor utama penyebab terjadinya bencana banjir ini.

Sistem kapitalisme yang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi, memberi ruang seluas-luasnya bagi penguasa dan para kapital untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Maka tak heran saat profit oriented menjadi tujuan utama dari pemangku kebijakan, muncullah banyak aturan yang memberikan kemudahan dalam pembangunan industri, tempat wisata dan bisnis menggiurkan lainnya.

Akhirnya penebangan hutan secara massif terus dilakukan untuk memperoleh bahan baku pembangunan tanpa memperhatikan rusaknya lingkungan sekitar.

Belum lagi maraknya pembangunan tidak diiringi dengan efek kelanjutannya pada lingkungan sekitar, mengakibatkan hilangnya ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Akhirnya kemungkinan air terserap akan semakin kecil. Apalagi  sebagian besar tanah sudah berganti menjadi aspal atau beton. Sungai yang semakin dangkal, maka sudah dipastikan dengan hujan sedikit saja banjir akan dengan mudahnya terjadi. Parahnya bukan hanya sekali atau dua kali, banjir bisa terjadi berulang kali. Inilah ynag dihasilkan kapitalisme, Karena kapitalisme telah terbukti melahirkan banyak kebijakan yang hanya berpihak pada kepentingan penguasa dan para kapital. Bahkan nilai-nilai kapitalisme telah nyata mengabaikan ekologi alam dan hajat hidup manusia.Tak heran jika kerusakan dan bencana terus terjadi.

Maka sudah seharusnya pemerintah secepat mungkin untuk mengevaluasi setiap pembangunan yang dilakukan termasuk pembangunan pariwisata, penggantian pohon yang tidak banyak meresap air, dan sebagainya.

Sehingga semua banjir yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia erat kaitannya dengan Pembangunan wilayah yang tidak direncanakan secara komprehensif dan mendalam.  Inilah model Pembangunan yang dibangun atas asas kapitalisme yang hanya mengutamakaan keuntungan dan abai atas dampak terhadap lingkungan termasuk tata kota secara keseluruhan dalam berbagai bentuknya yang telah penulis sebutkan diatas.

Maka berbeda dengan kapitalis, Islam menjamin pembangunan harus selalu menjaga keseimbangan lingkungan. Kebijakan Pembangunan dalam Islam mempertimbangkan kemaslahatan Masyarakat dan menjaga lingkungan agar tetap dalam keharmonisannya. Ekonomi. Islam tidak tersentralisasi dan berorientasi pada pertumbuhan, melainkan berorientasi pada distribusi. Hal ini karena prinsip tata kota dalam Islam dikembangkan dengan memberikan daya dukung lingkungan, karena Islam melarang bersikap zalim baik terhadap sesama manusia, hewan dan tumbuhan.

Islam juga menetapkan tentang status kepemilikan harta di dunia, terbagi menjadi tiga, yaitu kepemilikan umum, negara dan individu. Kepemilikan umum dan negara berupa sumber alam seperti ; tambang, mata air dan pengelolaan hutan  tidak boleh dikuasai atau diserahkan pengelolaannya pada individu, baik lokal maupun asing atau di-privatisasi. Negara tidak berhak mengubah kepemilikan umum (milik masyarakat) menjadi milik individu, apapun dalihnya termasuk membiarkan penebangan hutan secara liar apalagi sampai menggunduli hutan.

Maka untuk mengatasi masalah banjir secara tuntas, sudah semestinya kita mengembalikan segala sesuatu hanya kepada sistem Islam.  Berharap pada sistem Kapitalisme-sekuler untuk merealisasikan program-program maslahat bagi rakyat adalah harapan semu. Karena sudut pandang yang digunakannya bukanlah riayah (mengurus) rakyat, tapi deal-deal politik dan kepentingan antara penguasa dan para capital ( pengusaha). Sehingga sangat jelas bahwa ada kepentingan kapital dibalik banjir yang selalu berulang.

Satu-satunya harapan adalah dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah. Karena dengan Syariah Kaffah masalah banjir akan mendapatkan solusinya . Wallahu a'lam bi ash-shawwab.