-->

Kaum Muslim Satu Tubuh, Bilakah Terwujud?

Oleh: Ida Nurchayati (Aktifis)

Gebyar hiburan dan pesta kembang api menyambut  tahun baru 2024 terjadi diseluruh dunia. Kontradiktif dengan warga Gaza yang menerima hujanan roket dari Zionis dimalam tersebut. Sampai pergantian tahun 2024, 2,3 juta penduduk Gaza dipaksa menjadi pengungsi, 21.672  telah meninggal, 56.000 terluka (www.cnbcindonesia.com, 31/12/2023). Kondisi memprihatinkan juga dialami muslim Rohingya, diusir dari negaranya, terlunta dari Bangladesh hingga Aceh. Berharap ditempat baru mendapat nasib yang lebih baik, faktanya mendapat perlakuan kurang manusiawi dari segerombolan mahasiswa yang termakan ujaran kebencian dan berita bohong dari media sosial (www.bbc.com, 29/12/2023). Gambaran sesama muslim ibarat satu tubuh tidak terasa. Entah hujjah apa yang kelak disampaikan muslim lainnya didepan Allah dan Rasul-Nya.

Sekat Nasionalisme

Sejak Nabi SAW menegakkah Daulah di Madinah hingga Kekhilafahan Utsmani, umat Islam hidup dalam satu kepemimpinan, diikat dengan ikatan akidah Islam. Ibarat sapu lidi, kekuatan umat tak tergoyahkan, disegani kawan maupun lawan. Persatuan hakiki yang menegasikan suku, ras, bangsa, bahasa dan warna kulit, potensi yang sangat menakutkan musuh-musuh Islam, terutama Barat. 

Perang Salib selama kurang lebih 200 tahun memberi pelajaran pada Barat, kaum muslim sulit dikalahkan secara fisik, ruh jihad menancap kuat dalam dada. Hal tersebut membuat Barat merubah strategi dari perang fisik pada perang pemikiran (ghazwul fikr). Sebuah gagasan memasukkan pemikiran barat untuk melemahkan pemikiran kaum muslim, diantaranya sekulerisme, liberalisme, pluralisme, demokrasi dan nasionalisme.

Nasionalisme senjata efektif memecah belah kekuatan kaum muslim. Wilayah kaum muslim dibagi menjadi lebih dari 50 negara (nation state), buah perjanjian sykes-picot. 

Sejak saat itu, ukhuwah islamiyah yang diikat dengan ikatan akidah diganti dengan ikatan nasionalisme. Ikatan lemah yang muncul spontan karena ada ancaman bersama sebagai reaksi untuk mempertahankan diri. Persaudaraan muslim ibarat satu tubuh terkoyak, umat terkotak-kotak dengan batas negara imajiner ciptaaan penjajah barat. Batas pemikiran yang menghalangi muslim menolong saudara seakidah yang tengah didera nestapa. 

Ketika muslim Palestina berjibaku mempertahankan tanah kaum muslim dari penjajah zionis, muslim ditempat lain tak berdaya, maksimal hanya memberi bantuan finansial dan obat-obatan. Bahkan penguasanya hanya berpangku tangan bahkan sebatas mengutuk dan mengecam. Sementara penjajah zionis dibiarkan bertindak brutal membombardir warga sipil, tak terkecuali anak, wanita bahkan lansia. Ketika muslim Rohingya terlunta-lunta menyelamatkan nyawa karena di negerinya digenoside rezim budha Myanmar, tak sedikit muslim di negara lain justru menolaknya. 

Nasionalisme telah mengoyak segalanya. Umat Islam satu tubuh tinggal cerita. Nasionalisme adalah racun pemikiran barat untuk mengkerat umat,  penghancur institusi perisai umat, yakni daulah khilafah. 

Agen intelijen Inggris TE. Lawrence dalam bukunya, Seven Pillars of Wisdom, mengatakan “Sebelum saya tiba di tanah Hijaz, saya percaya benar bahwa gerakan nasionalisme Arab akan menjatuhkan negara Utsmani.”

Khalifah Perisai Umat 

Runtuhnya Kekhilafahan Utsmani 3 Maret 1924, awal mula penderitaan umat. Nasib umat Islam ibarat anak ayam kehilangan induknya, menjadi santapan musuh-musuhnya tanpa ada yang melindungi sebagaimana ketika khilafah  masih ada.

Khilafah merupakan kepemimpinan tunggal bagi seluruh muslim sedunia, menyatukan seluruh umat Islam lintas bangsa dan benua. Umat dengan berbagai ras, suku, warna kulit, bangsa dan bahasa berbeda disatukan dengan ikatan akidah Islam. Ikatan shahih yang menyatukan umat ibarat satu tubuh. Penderitaan muslim disatu tempat dirasakan muslim dibelahan lain. Hal ini dikarenakan umat hidup dalam satu kepemimpinan, diatur dengan aturan  dan pemikiran yang sama, hingga melahirkan perasaan yang sama, yakni Islam. 

Islam menetapkan seorang penguasa (khalifah) adalah pelindung bagi rakyatnya. Nabi SAW bersabda yang artinya,

 “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hanya khalifah yang mampu mengakhiri penderitaan muslim Palestina, membebaskannya dari cengkeraman Penjajah zionis laknatullah.  Sebagaimana dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan Shalahuddin al Ayubi. Khalifah juga yang akan melindungi jiwa, harta dan kehormatan muslim Rohingya. Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Mu'tasim billah ketika melindungi kehormatan seorang wanita muslimah yang dilecehkan kehormatannya oleh tentara Romawi di Amuriyah.

Khalifah akan menyatukan seluruh kaum muslimin, menghapus sekat nasionalisme yang kini membelenggu umat. Mewujudkan persaudaraan muslim ibarat satu tubuh. Bila ada saudara muslim dibelahan bumi lain yang menderita, muslim lain akan merasakan dan membebaskan penderitaannya. Khalifah akan melindungi jiwa, harta, darah dan kehormatan kaum muslim, menjaga mereka dari kejahatan musuh-musuh Islam. Sayang perisai umat itu kini hilang, dan belum terwujud kembali.  Ketika institusi khilafah belum  tegak,  fardhu kifayah bagi kaum muslim untuk menegakkan kembali melalui dakwah berjamaah.

Wallahu a' lam bishawab