-->

HAM Mampukah Menjadi Solusi Persoalan Dunia?

Oleh: Syarifah, S.Pd (Komunitas Pena Ideologis Maros)

Dilansir dari Jakarta (ANTARA) pada Minggu 10 Desember 2023 - Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H. Laoly mengungkapkan peringatan Hari HAM Sedunia Ke-75 dapat menjadi momentum untuk merefleksikan prinsip-prinsip HAM.

Peringatan hari HAM kali ini memilih tema Harmoni dalam Keberagaman dipandang relevan dan penting. Pasalnya, kata Yasonna, harmoni dalam keberagaman menjadi pengingat akan pentingnya mengakui, menghormati, dan merayakan beragaman Indonesia yang berlimpah.

Ide HAM

Konsep Ide HAM berasal dari barat yakni lahir dari sistem demokrasi. HAM adalah singkatan dari Hak Asasi Manusia. Demokrasi menjamin empat kebebasan yakni kebebasan berakidah, berpendapat, hak milik, dan kebebasan pribadi. Katanya ini lahir dari spirit pembelaan terhadap hak asasi. Seolah tampak dari luar terkesan baik, karena membela hak-hak manusia. 

Siapa sangka justru sesungguhnya hal ini adalah senjata politk Barat untuk menjajakan pemikiran liberalnya. Sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi sebagai tumpuan lahirnya pemikiran barat yang dalam hal ini mengagungkan paham kebebasan. 

Dengan konsep ide HAM inilah yang digunakan oleh barat sehingga dengan leluasa menyebarkan berbagai pemikirannya yang liberal (kebebasan). Atas nama organisasi dunia yakni PBB sekalipun hanya dibentuk untuk menjadi alat politik negara adidaya. 

Mengapa ide ini semakin mendunia?, karena seluruh negara saat ini menganut paham kapitalis sekuler sehingga ide HAM ala barat inilah yang bercokol yang dijadikan sebagai pedoman atau aturan dalam kehidupan para kapitalis saat ini.

HAM Hanya Menguntungkan Barat

Jika melihat fakta yang ada saat ini siapa yang diuntungkan oleh ide HAM ini? Tentu yang diuntungkan adalah negara asal pencetus dari ide tersebut, baratlah yang mendapat untung. Atas nama kebebasan, salah satunya kebebasan kepemilikan menjadi jalan untuk menguasai SDA satu negara. Sehingga kekayaan SDA hanya dikuasai oleh segelintur orang, dampaknya memunculkan kesenjangan sosial ditengah masyarakat. 

Di sisi lain juga terdapat kebebasan berpendapat. Sehingga konsep kebenaran dijadikan sebagai sesuatu yang relatif ditengah masyarakat. Ada individu yang mengategoikan baik terhadap perbuatan tersebut dan individu yang lainnya menganggap sebagai sesuatu yang salah. Jadi dampak dari kebebasan berpendapat ini menjadikan masyarakat berbuat sesuka hatinya. Disini terlihat bahwa HAM adalah prinsip yang salah karena menjadikan manusia bebas tanpa aturan sementara manusia fitrahnya lemah.

Standar Ganda HAM

Dengan mengatasnamakan HAM justru Barat malah tidak konsisten terhadap HAM itu sendiri. Bahkan negara-negara baratlah yang menjadi pelanggar HAM terberat. Merekapun diam jika ada peristiwa yang terbukti melanggar HAM itu sendiri. Disini terlihat bahwa adanya standar ganda dari konsep ide HAM ini. 

HAM hanya hadir saat barat dan sekutunya yang tertindas tapi tidak berlaku bagi umat islam. Bisa kita melihat bagaimana perlakuan mereka terhadap Israel atas Palestina. Sangat jelas keberpihakannya kepada Israel bahkan mendanainya.

Omong kosong HAM ini sudah menjadi rahasia global. Begitu mudahnya mereka bersuara menuduh satu negara melanggar hak asasi padahal melalui tangan merekalah bersimbah darah umat islam.

Bukan hanya di Palestina, Irak, Myanmar, Afghanistan, dan Suriah sangat menjejak kisah pelanggaran atas nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu belum lagi apa yang dirasakan oleh muslim Uyghur, muslim Rohingya, dan lainnya. Barat hanya bersuara jika itu memyangkut dengan kepentingannya dan akan diam seribu bahasa jika menyangkut hak umat islam. Lantas, dengan fakta yang seperti ini apa yang harus dibanggakan saat negara kita berada dibawah kendali pemikiran barat yang liberal ini?

Islam Mewujudkan Hak Manusia

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Membawa Rahmat bagi seluruh alam. Bukan hanya mendatangkan kesejahteraan bagi umat islam, bahkan untuk non muslim sekalipun.

Sistem islam menawarkan seperangkat aturan uang akan mampu menjamin keamanan dan menjaga jiwa, harta, agama dan keturunan. Hanya islam yang akan mampu memanusiakan manusia. Islam menjami terwujudnya tujuan syariat melalui hukum yang ada di dalam Al-Qur’an, Sunah, Ijmak Sahabat, dan Qias. 

Setiap manusia yang melanggar syariat maka akan diberi sanksi. Sangat berbanding terbalik dengan barat yang kerjanya hanya berkoar-koar menyuarakan hak asasi, namun berstandar ganda dalam implementasinya. 

Sistem islam telah terbukti puluhan abad lamanya dalam manaungi dunia yang mampu menjamin keamanan dan kesejahteraan masyarakat global. Barat yang terus menerus menyebarkan narasi sesat dengan melabeli islam sebagai teroris dan radikal hanya merupakan ekspresi ketakutan mereka akan bangkitnya ideologi islam. Sehingga selalu melakukan propaganda ditengah umat.

Dengan demikian, hanya islamlah yang mampu menjadi solusi tunggal atas segala problem kehidupan, bukan HAM. Manusia akan hidup sesuai fitrahnya yakni memanusiakan manusia jika hidup dalam naungan daulah islam.

Wallahu a’lam bishshowwab …