-->

Aborsi Marak, Bukti Bobroknya Sistem Kapitalis

Oleh: Ratna Kurniawati, SAB

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa sejahat-jahatnya singa tidak akan tega memakan anaknya sendiri, beginilah perumpamaan pada tingkah laku manusia selaku orang tua kepada anaknya yang tidak akan sampai hati mencelakai anaknya sendiri. Namun, saat ini zaman telah berubah seorang ibu yang seharusnya menjaga anaknya sendiri malah tega menggugurkan darah dagingnya sendiri. Tidak heran kasus aborsi marak dimana-mana.

Pada zaman dahulu kisah fir'aun yang kejam membunuh anak laki-laki yang sudah lahir. Ternyata saat ini kita lebih kejam daripada masa fir'aun karena sebelum lahir, janin yang ada dalam kandungan sudah dibunuh alias diaborsi. 

Kasus aborsi yang semakin marak menunjukkan bahwa pola pemikiran masyarakat semakin jauh dari Islam serta semakin sekuler sehingga tidak mampu menjaga pergaulan dan tidak punya hati nurani. Tindakan aborsi dilakukan dengan mudah tanpa rasa bersalah. 

Pada tanggal 3 November 2023 tim dari Polda Metro Jaya melakukan penggeledahan rumah di jalan Merdeka, kelurahan Rambutan, Ciracas Jakarta Timur yang diduga menjadi tempat praktik aborsi ilegal. Terungkapnya praktik aborsi ilegal berkedok salon ditemukan sedikitnya tujuh kerangka janin dalam tangki septik tank dan telah ditetapkan empat orang tersangka. (tvOnenews 5/11/23). Kasus ditemukannya tulang hasil aborsi bukan pertama kalinya di Indonesia namun sudah sering terjadi. 

Pada tahun 2004 WHO memperkirakan 20 juta kasus aborsi tidak aman di dunia. Di Asia Tenggara WHO memperkirakan 4,2juta kasus aborsi dilakukan setiap tahun dan sekitar 750.000 hingga 1,5 juta terjadi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Soetjiningsih tahun 2004 memperkirakan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,3 juta pertahun. 750.000 diantarany pelakunya adalah remaja.(detikhealth 30/5/12)

Sedangkan dari data Center for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA) dari survey demografi dan kesehatan Indonesia tahun 2017 sekitar 2 persen remaja perempuan dan 8 persen remaja laki-laki Indonesi usia 15-24 tahun telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dengan 11 persen mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Beginilah gambaran bahaya dari sistem kapitalis liberal yang kini dianut oleh Indonesia dengan kedok hak asasi manusia yang berasal dari dunia Barat. Indonesia terseret arus kapitalis sekuler sehingga angka aborsi akibat pergaulan bebas semakin meningkat. Generasi muda harapan bangsa calon penerus peradaban semakin terjerumus pada pergaulan bebas mengumbar syahwat hingga berujung pada perzinahan dan ketika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan diaborsi pula. Sungguh tindakan kemaksiatan yang berlipat ganda. 

Kasus aborsi yang marak menunjukkan bobroknya sistem kapitalis sekuler. Agama dipisahkan dari kehidupan dan tidak dijadikan sebagai sumber aturan dalam kehidupan. Manusia berbuat semaunya sendiri tanpa pertimbangan perbuatan halal atau haram asalkan hawa nafsu mereka terpenuhi. Sanksi tidak memberikan efek jera justru kasus serupa terulang kembali.

Namun berbeda dengan sistem Islam yang menjaga generasi sejak dini melalui sistem pergaulannya dengan mengajarkan menutup aurat, menundukkan pandangan, tidak berkhalwat kecuali kepentingan syar'i. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam terbentuklah generasi yang taat dan jauh dari maksiat. Selain itu peran masyarakat menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar karena bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Negara juga berperan penting dalam memblokir konten-konten pornografi dan pornoaksi yang bertentangan dengan Islam, menutup akses media yang merusak generasi. Menghukum pelaku, pengedar dengan sanksi tegas sesuai syariat Islam yang bisa memberikan efek jera. 

Hanya sistem Islam yang mampu membentengi generasi dari kerusakan akibat sistem kapitalis liberal. Semoga umat semakin paham dan berjuang untuk menegakkan sistem Islam. 

Wa'lahualam bishawab