-->

Halloween dan Fenomena Masyarakat Sakit di Alam Kapitalisme

Oleh: Rengganis Santika A, STP

Satu bulan berlalu masih hangat dalam ingatan kita kengerian tragedi di stadion Kanjuruhan Malang, yang menelan korban tewas 135 orang, dan ratusan lainnya terluka. Kini dunia kembali dikejutkan dengan tragedi pesta Haloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan yang menewaskan 154 orang dan puluhan orang terluka. Sebagian besar korban tragedi tersebut adalah anak muda, sungguh mengenaskan!  Kanjuruhan, Itaewon, kemudian Halloween di Riyadh Arab Saudi yang kontroversial, Hingga konser dendang bergoyang di stadion Senayan Jakarta, disusul Konser NCT 127 di Jakarta dan Tangerang. Semua mengundang tragedi dan kontroversi, memang tak semua memakan korban jiwa, tapi mengapa semua ini bisa terjadi? Banyak masyarakat mengalami tekanan hidup/strees, mereka bisa melakukan apapun tak peduli nilai, norma bahkan resiko hanya demi hasrat kegembiraan sesaat, ada apa dengan masyarakat dunia hari ini?

Fenomena Rakyat Sakit 

Menurut tim medis dan pengamat, penyebab utama korban tewas karena mengalami serangan jantung, Dalam laporan BBC, tak tanggung-tanggung, warga yang hadir ke Itaewon, Korea Selatan untuk merayakan Halloween diprediksi lebih dari 100.000 orang, mereka berdesak-desakan pada gang sempit di distrik kehidupan malam populer Itaewon di Seoul Korea Selatan, pada Minggu (30/10/2022). Liputan6.com. Anak muda Korea terutama boyband dan K-pop nya, jadi trend setter anak muda dunia, berhasil menghipnotis kawula muda, jagat ini. Maka tragedi di korea ini pun juga mengejutkan dunia. Orang-orang meluapkan keinginan "berpesta" yang tak sekedar halloween disana ada miras dan narkoba pula. Euphoria ini buah dari rasa tertekan masyarakat yang selama 3 tahun terkungkung pandemi covid 19. Hingga kebahagiaan materialistik merekapun  ikut terlockdown.

Tragedi stadion Kanjuruhan, tak jauh berbeda massa dalam jumlah besar berdesakan sampai terinjak-injak, kehabisan nafas dan terkena gas air mata. Supporter meluap terbius fanatisme club bola idola yang tak pernah kalah selama 23 tahun dikandang sendiri, hingga berakhir tragis! Rupanya warga +62 tak belajar dari peristiwa yang terjadi, seolah tak peduli dan kapok yang penting happy, kembali mereka larut di konser dendang bergoyang senayan Jakarta. Massa membludak, berdesakan banyak yang pingsan ditengah acara demikian pula di konser NCT 127, fenomena euphoria dan histeria, membuat mabuk tak berhitung resiko. Semua ini gambaran masyarakat yang sakit (mental illness). Tak cuma sakit, perilaku syirik pun menambah parah jiwa mereka. Yel-yel, nyanyian "hidup mati mereka demi idola", sungguh syirik yang begitu nyata!

Ironis, padahal belum lama berselang event besar yang sudah hampir rampung dihadiri masyarakat yaitu Hijrah Fest di Surabaya yang bertujuan untuk memberi inspirasi bagi banyak orang dan ajakan pada kebaikan, dibatalkan dan dilarang oleh otoritas setempat, sebaliknya justru konser-konser yang mengundang maksiat bahkan bahaya...justru difasilitasi walau akhirnya digagalkan karena massa tak terkendali. Fakta ini sama dengan Halloween di Riyadh Arab Saudi setelah sebelumnya Grand Mufti kerajaan Arab Saudi melarang acara Maulid Nabi Muhammad saw, yang dikatakan bid'ah, sementara acara halloween yang jelas bukan dari ajaran islam bahkan mengundang syirik justru mendapat restu pangeran, demikian pula konser musik yang menghadirkan boyband korea BTS dan lainnya justru bebas terselenggara dengan alasan, ini sebagai bagian dari modernisasi dan reformasi Arab untuk menampilkan alternatif hiburan bagi warga dunia (Tribun.news.com).

Islam, Satu-Satunya Obat Penyakit Dunia

Islam rahmat bagi seluruh alam, pandangan Islam begitu jelas tentang kehidupan yang mencakup dimensi dunia dan akhirat. Dimana manusia sejatinya makhluk ciptaan Allah swt,  kita semua berasal dariNya. Kemudian kita hadir ke dunia adalah dalam rangka beribadah sesuai perintahNya, agar manusia bahagia di dunia dan akhirat. Tujuan akhir kita adalah meraih ridho Allah masuk surgaNya. Ketika hidup manusia dibimbing oleh kesadaran ini, tentu tak mungkin dia menghalalkan segala cara hanya demi bahagia sesaat, pasti dia akan berfikir halal haram, pasti dia akan memperhitungkan Allah ridho atau tidak? 

Hanya dengan memahami syariat Allah yang kaaffah, dia memiliki solusi semua masalah hidupnya. Bahagia tak harus ketika banya harta atau saat tak ada pandemi, saat sulit atau tidak, dengan aqidah yang kuat dia akan selalu bersyukur, menerima qodho.  Sebaliknya pandangan hidup kapitalisne sekuler. Untuk bahagia harus dengan syarat materi, sisi ruhiyahnya kosong, d jiwanya hampa, sebab semua diukur materi yang nyata. Saat ada tekanan hidup, jiwa yang hampa tak punya solusi maka pengalihan ada pada materi bila tidak strees, depresi. Gambaran betapa sakitnya sistem kapitalisne seperti dalam buku Michael J Sandell seorang profesor dari universitas Harvard yang menulis buku What's money can't buy ... bagi masyarakat kapitalis uang, harta segalanya..semua bebas melakukan apapun dengan uang kejahatan, immoral, apapun! tak ada moral limits, "kegilaan tanpa batas"  Bahagia sejahtera  hanya milik ashabul maal pemilik uang ... kapitalisme membuat dunia sakit, masyarakat sakit ... Inikah hidup yang kita mau?  Kalau tak mau ... kembalilah pada islam terapkan syariah scara kaaffah! ... 

Wallahu 'alam.